Photomics : Life is an adventure

30 11 2011

Iklan




Kemenangan itu direncanakan

15 11 2011

Sea Games ke-26Hingar bingar Sea Games ke-26 di Jakarta Palembang masih aja seru. Meski pesta olahraga ini lokalan aja di Asia Tenggara dan hampir nggak pernah ada pemecahan rekor dunia sepanjang sejarah pelaksanaannya, tetep aja cukup menarik perhatian untuk mencari siapa yang tercepat, terjauh, tertinggi dan terkuat.

Banyak cabang sudah menyelesaikan kompetisinya. Banyak pula kejutan terjadi. Yessy Venisia Yosaputra, mojang priangan, masih berusia 17 tahun, memecahkan rekor Sea Games renang 200m gaya kupu-kupu yang sudah berusia 18 tahun. Lebih tua dari usianya sendiri. Dia adalah satu-satunya perenang putri Indonesia yang memegang rekor Sea Games di 20 gaya yang dilombakan. Mayoritas rekor dikuasai perenang Singapora. Tak berhenti di situ, Yessy bermimpi untuk mencapai rekor dunia.

Franklin Ramses Buruni, putra papua berusia 20 tahun, menjadi manusia tercepat di Asia Tenggara di nomor 100m dengan catatan 10.37 detik dan juga di nomor 200m  dengan catatan 20.97 detik. Masih belum menyamai catatan terbaik Suryo Agung Wibowo yang memilih untuk beribadah haji bersama orang tuanya, namun catatan waktu itu cukup untuk memastikan dua emang dalam genggaman Franklin. Franklin bermimpi untuk mencatatkan waktu dibawah 10 detik untuk 100 meter dan dan dibawah 20 detik untuk 200 meter.

Modo & Modi, Maskot Sea Games 2011Della Olivia, masih duduk di kelas 3 SMA2 Sidoarjo, telah 8 bulan meninggalkan bangku sekolahnya untuk berkonsentrasi di pelatnas sepatu roda. Pengorbanannya tak sia-sia, dia menyumbangkan 2 medali emas dari total 12 emas yang diraih tim sepatu roda Indonesia, sejauh ini merupakan satu-satunya cabang yang melakukan sapu bersih emas. Sekembalinya dari perhelatan Sea Games ini Della bertekad untuk mengejar ketinggalannya di sekolah, karena tahun depan sudah menghadapi Ujian Nasional.

Kejutan yang menyedihkan datang dari cabang bulutangkis putri. Tim putri Indonesia harus mengakui keunggulan Thailand 1-3 di partai puncak. Partai terakhir bahkan tidak perlu dipertandingkan karena tidak diperlukan lagi. Suatu ironi bagi cabang olahraga yang sudah mengantarkan negeri ini ke jajaran peraih medali Olimpiade. Di tingkatan tertinggi olahraga sejagat itu, Indonesia pernah meraih sepasang emas melalui Alan Budikusuma dan Susi Susantidi Olimpiade 1992 di Barcelona. Tahun demi tahun prestasi bulutangkis kita semakin terpuruk. Tak ada lagi cerita kita meraih piala Thomas, Uber, ataupun Sudirman. Kejayaan kita di bulutangkis sudah memudar seiring dengan perjalanan waktu. Bahkan melawan negri yang tak punya tradisi bulutangkispun tim putri kita takluk. Pelatih timnas kita berkilah bahwa kita hanya tidak beruntung.

Apa yang membedakan kemenangan dan kekalahan? Tiga hal saja. Latihan, latihan dan latihan. Seorang Ian Thorpe, perenang Australia yang menggenggam 5 medali emas Olimpiade Athena 2004, tetap berlatih pada saat Natal. Tiger Woods, tetap memukul 500 bola dalam sehari meski dia adalah pegolf terbaik di dunia. Pengorbanan diri untuk berlatih lebih keras, lebih lama, lebih terarah, lebih terprogram, demi meraih prestasi puncak, menjadi pembeda antara kemenangan dan kekalahan. Kemenangan itu direncanakan, bukan sekedar keberuntungan.





Sehat itu pilihan

10 11 2011

Sore kemarin kuputuskan pulang kerja gak nunggu waktu maghrib. Memang dengan rutinitas macetnya jalan layang paspati menuju tol Pasteur di sore hari, pulang setelah solat maghrib di kantor adalah salah satu pilihan terbaik. Meeting marathon dari pagi hingga akhir jam kantor membuat spirit untuk melanjutkan kerja beberapa saat sambil menunggu azan maghrib lenyap bak debu jalanan yang tersapu hujan yang cukup deras sore itu.

Menuju lift, kudapati sejawat yang sandalan jepit. Kupikir dia mau siap-siap solat maghrib ke masjid di lantai 2. Ternyata bukan, “Mau fitnes”, katanya. Wah surprise. Ingatanku melayang kapan ku fitness di basement 1? Seingatku baru sekali, itu sekitar setahun yang lalu.  Awalnya saat istri tersayang bilang kalo seumurku yang sudah lewat 40, olahraga seminggu sekali nggak cukup. Emang jadual pasti olahragaku hanyalah sabtu pagi di lapang bola UPI. Itu ritual dengan prioritas tertinggi yang hanya bisa dikalahkan oleh hal yang urgent.

Seingatku peralatan fitness di basement ada yang rusak. “Treadmill-nya rusak satu kan pak?”, tanyaku sok tau. “Nggak kok, sekarang tiga-tiganya bagus”, jawabnya. Wah, surprise, karena setahuku hanya ada 2 alat treadmill dan satu rusak. Berarti sudah banyak perkembangan di ruang fitness itu. “Rame nggak pak?’, tanyaku lagi. Males aja fitness di ruang sekitar 5×6 meter yang disesaki oleh security yang sedang membesarkan otot-ototnya. “Nggak kok, kalo udah lewat jam kantor biasanya malah sepi”, jawabnya lagi. Wah boleh juga, pikirku. Kuniatkan untuk mencoba lagi fitness di situ, untuk mengejar olahraga dua kali seminggu sesuai petunjuk dokter tercinta.

Pagi ini tak lupa kusiapkan celana dan baju olahraga, sesuatu yang menyalahi kebiasaan persiapan ke kantorku. Mata istriku yang tajam dan awas bak elang betina melihatku menyiapkan baju olahraga itu, dan bertanya spontan, “Mau main bola ya pa?”. Pertanyaan yang agak nekat, karena dia juga tau jadual main bola adalah hari sabtu. “Nggak, mau fitness di kantor”, jawabku sambil memaksakan baju itu masuk ke tas kantor yang udah gendut.

Kuhabiskan seperempat piring maccaroni schoetel pagi ini. Menu yang nggak biasa. Kuabaikan saja nasi. Mencoba menantang pameo “Orang Indonesia belum makan kalo belum makan nasi”. Omong kosong. Badan kita hanya perlu komposisi seimbang antara karbohidrat, protein, sayuran. Kentang sudah memadai untuk karbohidrat. Bule yang seumur hidupnya mungkin gak ketemu nasi juga badannya bisa segede itu.

Sampai kantor, rutinitas awal kerja kujalankan.  Kubersihkan netbook mungil hitamku sebelum dibuka. Ntah udah berapa kali pertanyaan sinis atas netbook ini. Dengan standarisasi perangkat kerja di kantor, netbook diperuntukkan bagi karyawan yang levelnya tiga tingkat di bawahku. Ku tak peduli. Kupilih netbook ini saat masih dua tingkat diatas level yang ditetapkan. Ringan, dan cukup memadai kalo hanya untuk membuat dokumen masterplan, blueprint, presentasi sendiri maupun presentasi direktur. Daripada jatah notebook yang seharusnya, lebih berat dan lebih besar.

Setelah bersih, netbook kubuka dan kunyalakan. Selanjutnya absen masuk kerja, secara online ke sistem. Tak lama Acuy datang membawa secangkir kopi hitam. “Nuhun kang,” kataku sambil tersenyum padanya. Octane booster yang senantiasa kunikmati hari senin sampai jum’at. Kurasa tak sampai kecanduan caffeine, karena sabtu minggu biasanya kulalui tanpa kopi, kecuali ada pesta makan-makan di lapang bola, yang official drink-nya adalah kopi hitam juga.

Kuhabiskan kopi sambil membuka email kantor, gmail, cek agenda hari ini, buka detik.com, dan twitter. Ada berita yang cukup seru. Curhat dua orang presiden yang paling berkuasa di dunia. “Kau muak dengan dia, tapi aku harus berurusan dengan dia bahkan lebih sering daripada Anda,” selengkapnya baca sendiri aja. Ku-twit saja kutipan seru itu. Kuhabiskan kopi dan kulangkahkan kaki menyimpan cangkir kopi yang menyisakan ampas ke atas kulkas di dekat dinding. Saat melangkah kembali, samar-samar kudengar dentuman musik di lapang seberang kantor.

Menyambut pagi dengan senam irama

Kusingkapkan tirai dibalik kaca di belakang meja. Puluhan orang, yang kebanyakan manula, bergerak seirama dengan diiringi musik. Mereka bertepuk, berputar, melangkah ke kiri kanan, dapan belakang. Not my type of sport, indeed. Mereka memilih untuk sehat, kupikir. Perlu determinasi melawan kemalasan diri untuk bearada di arena olahraga, apapun jenisnya. Dan diriku pernah gagal mempertahankan ritme untuk mengunjungi fitness yang telah tersedia di basement 1. Pemandangan ini memotivasiku untuk berjuang untuk memiliki rutinitas olahrga sesuai persyaratan minimal dokter cantik tadi, dua kali seminggu. Kupilih untuk sehat, dan konsekuensinya ku harus mengorbankan waktu dan tenaga untuk mengajak diriku sendiri berolah raga.





Semangat pagi !

7 11 2011

Senin pagi ini heboh sekali. Setelah badan setengah remuk redam karena menjadi panitia Iedul Qurban hari Minggu kemarin, praktis nggak ada waktu rehat yang cukup menghadapi hari kerja senin ini. Penyembelihan dan pemrosesan 7 sapi dan 7 kambing, dengan sekitar 700 kantung daging yang disediakan untuk siapapun yang meminta; merupakan rekor baru di mesjid kami. Alhamdulillah, setiap tahun semakin tinggi saja semangat berkurban warga di sekitar mesjid kami. Menjadi koordinator pencacahan dan pembungkusan daging merupakan tanggung jawab yang tidak ringan. Terlebih harus turun tangan sendiri juga untuk merecah daging dan memotong iga dengan mesin potong.

Bangun pagi ini diawali dengan pijatan istri tersayang yang sepertinya paham betul kondisi suaminya, yang merelakan ritual sabtu pagi bermain bola demi persiapan Iedul Qurban. Di usiaku yang menjelang 40 tahun, tidak berolahraga berimplikasi langsung pada kebugaran. Ada sesuatu yang kurang, dan itu pastinya pengaruh dari tidak terpacunya adrenalin di sabtu pagi kemarin karena absen dari lapang bola UPI di Setiabudi Bandung.

Sadar bahwa mobil belum dicuci, serta merta kulangkahkan kaki menuju garasi, ritual senin pagi untuk sekedar melap mobil agar pantas dipakai dan tidak terlalu kotor. Tiba-tiba si sulung berteriak, ” Pa cepetan ada upacara, ini motor juga nggak mau nyala, tolongin !”. Sejenak kuhentikan prosesi mandi kucing mobilku, dan kulihat apa yg terjadi dengan motornya. Dengan sekali kick starter, motor pun menyala. Emang udah dua hari nggak dipake motor itu, pantes aja electric starter nggak mempan.

Si jagoan sudah siap ketika prosesi mandi kucing mobil belum sepenuhnya selesai. Waktu ternyata berlalu begitu cepat. Kupaksakan selesai saja bersih-bersih mobil ini, dan siap mengantar si jagoan ke ujung jalan untuk dia lanjutkan sendiri dengan angkot ke sekolahnya. Kembali ke rumah, si sulung udah komplen lagi, “Pa ayo dong cepetan !”. Ternyata udah jam 06.05. Wah gawat. Alamat gak sempat sarapan ini. Pemecahan rekor mandi pun terjadi, jam 06.10 ku sudah bersiap berangkat. Setelah cium kening si bungsu keriting dan istri tersayang, ku berangkat menjemput si sulung di tempat parkir motornya untuk selanjutnya ke sekolah. Thank God, masih on time, meski sebagian besar temannya sudah berbaris. Setidaknya dia tidak dihukum jalan jongkok karena terlambat.

Sampai kantor, lapar mulai terasa. Secangkir kopi hitam sudah diantar si Acuy. Tapi karena masih sayang perut, kuacuhkan saja. Teringat bahwa hari ini deadline kontribusi premi asuransiku. Sekalian aja bayar premi asuransi di ATM depan kantor, sekalian cari sarapan di sebelah gedung kantor. Pengalaman pertamaku sarapan di sebelah kantor ternyata, setelah 6 tahun bertugas di kantor ini. Sesaat sebelum masuk ruang ATM, ada seseorang yang berkata, ” Semir Pak ?”. Kuabaikan saja sambil menggeleng dan tersenyum tanpa memandang muka si penjual jasa.

Beres urusan di ATM, kulanjutkan langkah kaki ke sebelah kantor cari sarapan. Kulewatkan saja pengemis di depan ATM. Ku punya pertimbangan sendiri untuk tidak memberi pada pengemis. Kusapukan mata melihat apa aja pilihan yang tersedia. Ada bubur ayam, tapi penuh sesak kursinya. Second choice, kupat tahu, masih tersedia seat available. Ku-order saja dan duduk manis menunggu. Tak lama datang sepiring kupat tahu pesananku. Porsi dewasa betul. Tapi ada yang kurang, gak ada sambelnya. Dan gak ada juga sambel di meja.  “Kang ada sambel?”, kutanyakan saja saat teh panas diantarkan.  “Ada”, jawabnya singkat, dan diambilnya wadah sambel dari gerobaknya. Ternyata sambelnya shared resource, mungkin efisiensi wadah, tapi risikonya wadah itu bolak-balik dari meja ke gerobak. Kalau saja terjatuh, habis sudah sambel hari itu.

Sambil makan kuperhatikan ada seseorang yang membawa tas ransel dan menenteng sandal di seberang jalan. Sebagian rambutnya beruban. Perawakannya mengingatkanku pada temanku yang berasal dari kawasan timur Indonesia. Ranselnya disangkutkan di pagar kantor. Aku mulai mengira apa yang akan dilakukannya. Selanjutnya dia mulai berjalan ke arah tenda kupat tahu. “Semir pak? Murah empat ribu dan awet”. Oh, ternyata dia toh tukang semirnya. Sekali lagi ku menggeleng. Kuingat hari ini sepatuku memang belum disemir. Ada Kiwi instan di mobil, tapi rusuhnya hari ini membuatku lupa menyemir. Besok saja kusemir sendiri, pikirku. Dia bergerak ke warung sebelah, tak satupun pembeli yang merasa perlu menyemir sepatunya.

Dia kembali ke seberang jalan, tak terlihat wajah putus asa di wajahnya. Setiap orang lewat ditawarinya jasa semir sepatu. Kukagumi kegigihannya. Kukagumi keyakinannya untuk mencari rezeki dengan cara halal. Banyak pengamen kalau siang di sekitar tempat ini, tapi tidak juga dilakukannya. Pengamen lebih sering menjadi pengganggu daripada penghibur. Empat ribu rupiah mungkin tak ada artinya buat karyawan yang berkantor di seberang jalan ini. Tapi menyediakan jasa semir di saat Kiwi instan sudah tersedia? Anganku melayang jauh. Kucoba menebak apakah dia punya istri dan anak? Makan apa dia dan keluarganya hari ini? Apakah anaknya, kalau ada, bisa sekolah?

Selesai makan kupat tahu kubayar harganya. Tujuh ribu rupiah. Lebih mahal dua ribu lima ratus rupiah dari langgananku di rumah. Who cares? kubayar saja. Melangkah keluar, masih berpapasan dengan tukang semir yang sudah kembali ke sekitar. Kali ini Dia tak menawariku lagi.

Justru aku yang bertanya. “Semir ya bang?”.

“Iya Oom”, jawabnya. Melihat raut wajahnya, dia mungkin sedikit lebih tua dariku. Kuabaikan saja panggilan yang menyebalkan itu.

“Berapa?” kutanya lagi berlagak nggak tau.

“Empat ribu Oom”, jawabnya.

“Dimana ya?” tanyaku lagi.

“Di situ aja Oom”, jempolnya menunjuk ke seberang jalan dimana tas ranselnya tergantung dan tersedia bangku besi panjang. Cara sopan adat ketimuran untuk menunjuk. Bule pasti nggak bisa. Ah males aja nangkring di pinggir jalan di pagi hari. Capek senyum karena sejawatku pasti banyak yang lewat.

“Saya tunggu di sini aja ya”, sambil melangkah kembali ke dalam tenda kupat tahu yang kosong sekarang.

Dengan sigap dia mendekat, dan menyiapkan sandalnya untuk kupakai. Samar terdengar “Bismillah” dari lisannya ketika menyodorkan sandalnya. Awal yang baik, kupikir. Dia mengambil sepatuku dan berjalan ke seberang ke workshop sepatu dadakannya. Selanjutnya dia membongkar tasnya, mengambil beberapa peralatan semirnya. Kulirik jam di HP-ku, karena hari ini ku lupa pakai jam tangan, saking buru-burunya. Jam 7.40. Masih 20 mnit sebelum jam kerja resmi dimulai. Toh aku sudah absen online, pikirku.

Tekun dengan keterampilannya

Kuperhatikan dari jauh, cara menyemir yang agak aneh. Jauh dari yang kubayangkan. Mula-mula sepatuku dilapnya. Kemudian dikeluarkannya semacam spidol besar, dicelupkan ke tutup botol yang sudah diisi cairan dengan hati-hati, dan mulai menotolkan spidol besar tadi ke beberapa titik sepatu. Selanjutnya dia menyikat sepatuku dengan sikat gigi. Berulangkali dan bergantian antara sepatu kiri dan kanan. Benar-benar cara yang aneh untuk menyemir sepatu. Terserah deh, kupikir.

Untuk membunuh waktu kubuka HP cina Androidku, dan kuaktifkan Angry Birds. Pembunuh waktuku yang paling efektif. Sambil bermain ku coba berpikir apa yang mendasari angka empat ribu untuk jasa semir itu? Berapa sepatu yang bisa dia semir sehari? Hal-hal yang sebelumnya tak pernah kupikir. Kalau semirnya memuaskan, selembar uang berwarna hijau akan kuberikan. Kalau tidak, empat ribu lah harga jasa semir itu, sesuai dengan kesepakatan. Dia sendiri yang menentukan.

Akhirnya selesai juga semir itu. Hasilnya tak membuatku puas. Malah tak terlihat seperti habis disemir. Kuserahkan empat ribu yang menjadi haknya. Tetap saja, kukagumi semangatnya untuk bekerja dengan cara yang halal. Semangat Pagi !





Kegaduhan 1 Syawal

30 08 2011

‘Cause we all live under the same Sun
We all walk under the same Moon
Then why, why can’t we live as one

…   (Scorpions)

Hilal - Penanda 1 Syawal (timeslahore.com)

Di penghujung ibadah shaum (puasa) Ramadhan, selalu dinantikan hari raya umat Islam sejagat, Iedul Fithri. Aspek sosial religius yang menyertainya amat luar biasa. Fenomena mudik, misalnya, terjadi di setiap menjelang hari raya Iedul Fithri ini. Pulang ke kampung halaman, ke titik nol masing-masing, menjadi obsesi bagi sebagian besar muslim yang menjalankan ibadah shaum. Bersilaturahim, bersimpuh di depan orang tua dan orang-orang yang dituakan, bersalaman dan saling bermaaf-maafan dengan seluruh handai taulan, sebagai upaya untuk menyucikan diri dari kedzaliman horizontal sesama anak Adam. Ditambah lagi dengan hidangan yang tidak biasa, yang terkadang hanya disajikan setahun sekali. Resep-resep turun-temurun didemonstrasikan dan diajarkan kepada anak-anak. Bahkan di rumah, saya dan anak-anak menyempatkan membuat kue Quaker, yang tidak bisa ditemukan di toko kue manapun. Resep rahasia yang tak tertulis, yang tertanam di resident memory kami, lebih rahasia dari crabby patty.

Perputaran uang saat momen Iedul Fithri ini juga luar biasa. Bank Indonesia mencatat penukaran uang kecil di seluruh Indonesia mencapai Rp. 77 Trilyun. Uang kecil ini lazim dibagi-bagikan kepada anak-anak saat Iedul Fithri. Tak sedikit anak-anak yang sudah menyiapkan diri dengan tas mungil untuk menyimpan uang yang diterima dari orang tua maupun kerabat, uang besar maupun uang kecil. Tak terbersit sedikitpun rasa lelah di wajah mereka setelah sebulan penuh beribadah shaum. Senyum, tawa dan canda ria terlihat dimana-mana.

Bagaimana dengan mereka yang tidak beruntung dan tergolong dalam kategori orang yang dhuafa ? Selayaknya mereka pun menikmati kegembiraan di hari raya Iedul Fithri. Dengan mekanisme wajibnya Zakat Fithrah bagi setiap jiwa muslim dan Zakat Maal bagi yang telah nisab, yang dijalankan dengan amanat, maka adalah suatu kesalahan besar bilamana ada fakir miskin dan kaum dhuafa yang tidak menikmati kegembiraan Iedul Fithri.

Semua keceriaan menyambut Iedul Fithri ini sedikit ternoda dengan kegaduhan penentuan tanggal 1 Syawal 1432 H.  Bagi umat islam, penentuan awal  suatu bulan ditentukan dengan hilal, bulan sabit yang muncul pertama kali setelah bulan menghilang (bulan mati). Permasalahannya, ada beda penafsiran tentang hilal ini. Sebagian besar ulama dan didukung oleh para ahli astronomi, mensyaratkan hilal terlihat secara fisik oleh mata, sesuai tuntunan secara literal dari Rosululloh SAW. Namun demikian, Muhammadiyah tidak mensyaratkan terlihatnya hilal secara fisik, cukup dengan perhitungan (hisab) bahwa bulan sudah diatas ufuk, maka sudah masuk bulan Syawal. Prof Thomas Djamaluddin, Profesor Riset Astronomi Astrofisika, LAPAN; Anggota Badan Hisab Rukyat, Kementerian Agama RI menjelaskan perbedaan ini secara gamblang dalam tulisannya.

Meski bukan pertama kali terjadi, perbedaan penentuan 1 Syawal ini cukup mengganggu kekhusyukan ibadah shaum Ramadhan. Bagaimana tidak, di saat sebagian umat Islam sedang menunaikan sholat tarawih, ada sebagian kecil mesjid yang mengumandangkan takbir. Takbir yang memang disunahkan dibacakan hingga menjelang Sholat Iedul Fithri ini juga masih mengumandang ketika sebagian besar umat Islam melakukan sahur. Kita memang masih harus belajar banyak soal toleransi, bukan saja antar umat beragama, tapi juga sesama muslim.

Perbedaan keyakinan ini juga mengundang konsekuensi religius yang serius. Berpuasa di hari raya Iedul Fithri adalah haram. Demikian pula, berbuka (tidak berpuasa) ketika seharusnya seseorang itu berpuasa, adalah haram, dan tak cukup berpuasa setahun untuk menggantinya. Faktanya, umat muslim Indonesia tinggal di bawah mentari yang sama, berjalan di bawah bulan yang sama. Maka berhari raya Iedul Fithri di tempat yang sama, di hari yang berbeda adalah  lelucon religius yang konyol. Salah satu dari golongan umat yang berbeda hari raya Iedul Fithri itu pasti melakukan kesalahan. Kita memang bebas untuk memilih akan mengikuti pendapat yang manapun soal 1 Syawal ini. Tapi kita tak bisa terbebas dari konsekuensi pilihan kita, ketika kita di-hisab di hadapan-Nya.





Tentang Nuzulul Qur’an

18 08 2011

Al-Qur’an adalah kitab yang paling favorit buat saya. Inilah satu-satunya buku yang tak pernah membosankan untuk saya baca. Meski tak mahir berbahasa Arab yang menjadi dasar bahasa Al-Qur’an, berbekal mondok di pesantren selama bulan Ramadhan 19 tahun yang lalu untuk belajar Al-Qu’an sangat membantu saya untuk dapat memahami arti secara umum dari setiap ayat yang saya baca, meski literally beberapa kata dalam ayat itu tidak saya hafal artinya.

Bahkan ketika seleksi penghargaan Umroh tahun ini, lancarnya saya membaca suatu ayat secara random dan menterjemahkannya sempat membuat Pak Ustadz yang menguji setiap calon penerima penghargaan umroh bertanya : “Apakah bapak pernah belajar ulumul Qur’an ?’. Dan saya pun balik bertanya : “Ulumul Qur’an itu apa Pak Ustadz?. Dan Pak Ustadz pun tersenyum menjelaskan sambil tak habis pikir bagaimana caranya saya bisa sefasih itu menjelaskan ayat yang dibaca secara random, tanpa paham apa itu ulumul Qur’an. Lucky me, ayat yang secara ‘random’ harus saya baca dan terjemahkan adalah salah satu ayat yang sangat mashur tentang pentingnya kerukunan antar umat. Alhamdulillah, saya lulus seleksi, dan bersama istri diberangkatkan oleh Perusahaan tercinta, Telkom Indonesia, untuk umroh ke tanah suci. Alhamdulillah pula, bisa mengajak ibunda tercinta bersama ke sana.

Lalu kenapa dengan Nuzulul Qur’an? Sebagian umat Islam meyakini bahwa tanggal 17 Ramadhan adalah hari turunnya ayat pertama kali kepada Nabi Muhammad SAW, berupa 5 ayat pertama surat Al-Alaq, yang memerintahkan beliau untuk membaca. Untuk itulah sebagian umat Islam merayakannya dengan hari Nuzulul Qur’an, bahkan di Indonesia menjadi agenda nasional, sehingga di tingkat nasional acaranya dihadiri oleh Presiden dan Wakil Presiden sekaligus.

So what? Nuzulul Qur’an tak pernah masuk dalam agenda saya. Dalam konteks religius, saya hanya memiliki dua hari besar, yaitu Hari Raya Iedul Fithri dan Hari Raya Iedul Adha. Selain itu, bagi saya, just another day. Termasuk juga hari lahir saya sendiri, maupun hari lahir orang-orang yang saya cintai, just simply another day. No celebration required nor planned. Kalo pas ada rejekinya, makan-makan bisa kapan aja, membelikan hadiah juga bisa kapan aja, tak perlu menunggu ulang tahun. Tapi kalo Iedul Fithri saya menyambutnya dengan suka cita, membelikan orang2 tercinta hadiah, termasuk untuk saya sendiri tentunya. Di Iedul Adha, membeli ternak terbaik yang mampu saya beli, memakannya sebagian, dan memberikannya sebagian besarnya kepada orang yang saya kenal maupun tidak.

Jadi apa yang saya lakukan ketika tiba Nuzulul Qur’an, di saat banyak orang merayakannya? Saya merenung. Sejauh mana Al-Qur’an benar-benar diterapkan dalam hidup saya. Perintah mana yang belum saya laksanakan? Larangan mana yang masih saya kerjakan? Cerita apa yang belum saya percayai? Dan sejauh mana saya menumbuhkembangkan spirit untuk membaca dan mengamalkan Al-Qur’an dalam kepemimpinan saya di rumah? Tentu saja, renungan seperti ini tidak perlu saya lakukan setahun sekali. Saya harus lebih sering melakukannya.

Bagaimana dengan Anda?

 





Follow you, follow me…

13 06 2011

based on true story.

I will follow you will you follow me

All the days and nights that we know will be

I will stay with you will you stay with me

Just one single tear in each passing year…

… (Genesis, 1978)

Satu mention baru aja masuk di akun twitter saya. A humble question : @_rizal_ gmn sih caranya punya follower banyak seperti dirimu?

Well, pastinya definisi banyak dan sedikit akan sangat relatif. Untuk ‘nobody, just ordinary human being with extraordinary dreams’  seperti saya, follower 700 lebih mungkin dianggap udah banyak oleh sang ‘mentioner’ yang followernya belon nyampe 100. Tapi jangan bandingin sama @irfanbachdim10 yg follower-nya 770ribu atau @lunamaya yang followernya 520 ribu.

“Terus, jadi emang penting punya follower banyak?” tanya saya pura-pura bloon. “Penting donk, salah1 indikator kebekenan hahaha” jawab sang mentioner. AFAIK, awalnya twitter emang dipake para selebritis untuk broadcast segala hal ttg dirinya ke fansnya. Jadi karena saya bukan selebritis pastinya kebekenan bukan tujuan saya ngetwit.

Jadi ngapain dong ngetwit? bedanya apa sama status FB, misalnya? Serunya ngetwit IMHO adalah :

  1. seberapa penting atau gak penting pesan yang mau kita sampaikan, aturan matinya cuma satu, gak boleh lebih dari 140 karakter, kayak SMS standar aja. secara gak langsung kita disuruh mikir untuk memformulasikan twit secara efisien, terutama kalo pengen ngoceh panjang lebar.
  2. twit and let it go. gak perlu pusing ada yg peduli apa nggak. nggak perlu ngitung berapa jempol yang didapet dari twit itu (karena emang gak bisa). gak perlu nungguin juga ada yang reply apa nggak.
  3. gak perlu ‘ijin’ untuk follow orang (well, beberapa akun yg dikasih simbol gembok berarti kita musti minta ijin untuk mbuntutin dia). follow dan unfollow is just a click away.
  4. berita menyebar secepat badai tornado di twit, apalagi kalo udah masuk TT (trending topic).
  5. begitu banyak wisdom, kelucuan, keresehan, kesotoyan, kemarahan, kesedihan, berita gembira, berita duka, berita penting, berita gak penting, dst., berserakan di twitter. kalo kita baca timeline dan beruntung, bisa jadi sangat inspirasional.

Nah terus kembali ke humble mention itu, gimana caranya punya banyak follower? Well, awalnya sih saya gak terlalu peduli berapa banyak yg follow. Saya cuman ingin menyerap energi positif dari tulisan orang, sebanyak mungkin dan seefisien mungkin. Gimana dengan twit sampah? just let it go. Sampah buat kita barangkali bermanfaat buat orang lain. Kalo ada twit yg bener2 cool, marking favorite supaya kapan2 kita bisa baca lagi (di katalog favorite kita), sebelum hilang ditelan samudra digital.

Angka-angka cantik di twit home saya (asli, gak penting)

Kebanyakan kecap ya? dari tadi muter-muter aja. Iya deh, gini nih pengakuan saya gimana ceritanya sampe follower saya jumlahnya segitu. Buat yg followernya lebih banyak dari saya, bagian ini gak usah dibaca, gak penting banget. Kalo ngerasa bagian ini penting, baca baik-baik ya :

  1. I don’t expect too much. Kita gak bisa maksa orang untuk follow kita kan ? Jadi terimalah berapapun followermu dengan ikhlas, seperti kamu ikhlas juga dengan berapa rezeki yang diterima olehmu. #nyambungGakSih
  2. Find a way to get follower. Ada beberapa twit yg bunyinya kurang lebih ‘cara mudah dapat ribuan follower’. Tak satupun pernah saya coba, jadi gak tau itu beneran apa hoax aja. #kasihTauDongYangPernahNyoba.
  3. Carilah calon alias ‘follower to be’ kita. Paling gampang sih dari yang punya minat sama dengan kita. Misalnya, follower @detikcom pasti orang-orang yang seneng baca up-to-date news. Follower @simamaung pasti bukan fans-nya Persija, jangan salah pilih kalo gak pingin digitally crunched, mending cari di follower @bepe20 aja. Abis gitu, follow-lah para follower @detikcom, @simamaung, @bepe20, atau apapun yg cukup ngetop.
  4. Follow secara acak? boleh aja. Tapi lebih sehat kalo sebelum follow para follower di akun2 top itu, baca dulu twit terakhir yg mau difollow itu kayak apa. Kalo bener2 gak penting atau malah cuma sumpah serapah, atau twit terakhirnya setaun yang lalu, skip aja. Kalo twitnya cool, so pasti wajib di follow. Selanjutnya, berharap di foll-back. As simple as that.
  5. Seberapa banyak? Terserah !. Suatu waktu pernah saya follow sampe 1600an akun dan yg follow back 400an. Rajin ya nge-follow :D. Jangan lakukan di kantor, bisa disemprot bos. Jangan juga lakukan sebelum ujian, karena gak bakalan muncul namanya bocoran soal di twitter. Carilah waktu yang bener2 luang untuk ‘berburu’ follower ini.
  6. Terus kan gak ‘keren’ kalo yg follow sama yg di-follow njomplang gitu?. Well, iya sih !. Terus Gimana? Clean up ! Beresin tu akun2 yg ‘ngesok’ gak mau foll-back, ato yg deadbeats (gak pernah ngetwit lagi). Tapi jangan asal juga. Banyak akun yang gak follback tapi tetep worth it untuk di follow. Toh yang kita cari emang cool twits, the ultimate goal and that is all about twitter. Caranya? pake tweepi.com. Layanan gratis ini membantu kita ngerapihin akun kita.
  7. Lakukan terus langkah 6 sampe ngerasa cukup ‘eksis’ di twitter.

Disclaimer: Gak ada garansi cara ini berhasil. At least, it works for me 🙂

PS: AFAIK->As Far As I Know. IMHO -> In My Humble Opinion