Kemenangan itu direncanakan

15 11 2011

Sea Games ke-26Hingar bingar Sea Games ke-26 di Jakarta Palembang masih aja seru. Meski pesta olahraga ini lokalan aja di Asia Tenggara dan hampir nggak pernah ada pemecahan rekor dunia sepanjang sejarah pelaksanaannya, tetep aja cukup menarik perhatian untuk mencari siapa yang tercepat, terjauh, tertinggi dan terkuat.

Banyak cabang sudah menyelesaikan kompetisinya. Banyak pula kejutan terjadi. Yessy Venisia Yosaputra, mojang priangan, masih berusia 17 tahun, memecahkan rekor Sea Games renang 200m gaya kupu-kupu yang sudah berusia 18 tahun. Lebih tua dari usianya sendiri. Dia adalah satu-satunya perenang putri Indonesia yang memegang rekor Sea Games di 20 gaya yang dilombakan. Mayoritas rekor dikuasai perenang Singapora. Tak berhenti di situ, Yessy bermimpi untuk mencapai rekor dunia.

Franklin Ramses Buruni, putra papua berusia 20 tahun, menjadi manusia tercepat di Asia Tenggara di nomor 100m dengan catatan 10.37 detik dan juga di nomor 200m  dengan catatan 20.97 detik. Masih belum menyamai catatan terbaik Suryo Agung Wibowo yang memilih untuk beribadah haji bersama orang tuanya, namun catatan waktu itu cukup untuk memastikan dua emang dalam genggaman Franklin. Franklin bermimpi untuk mencatatkan waktu dibawah 10 detik untuk 100 meter dan dan dibawah 20 detik untuk 200 meter.

Modo & Modi, Maskot Sea Games 2011Della Olivia, masih duduk di kelas 3 SMA2 Sidoarjo, telah 8 bulan meninggalkan bangku sekolahnya untuk berkonsentrasi di pelatnas sepatu roda. Pengorbanannya tak sia-sia, dia menyumbangkan 2 medali emas dari total 12 emas yang diraih tim sepatu roda Indonesia, sejauh ini merupakan satu-satunya cabang yang melakukan sapu bersih emas. Sekembalinya dari perhelatan Sea Games ini Della bertekad untuk mengejar ketinggalannya di sekolah, karena tahun depan sudah menghadapi Ujian Nasional.

Kejutan yang menyedihkan datang dari cabang bulutangkis putri. Tim putri Indonesia harus mengakui keunggulan Thailand 1-3 di partai puncak. Partai terakhir bahkan tidak perlu dipertandingkan karena tidak diperlukan lagi. Suatu ironi bagi cabang olahraga yang sudah mengantarkan negeri ini ke jajaran peraih medali Olimpiade. Di tingkatan tertinggi olahraga sejagat itu, Indonesia pernah meraih sepasang emas melalui Alan Budikusuma dan Susi Susantidi Olimpiade 1992 di Barcelona. Tahun demi tahun prestasi bulutangkis kita semakin terpuruk. Tak ada lagi cerita kita meraih piala Thomas, Uber, ataupun Sudirman. Kejayaan kita di bulutangkis sudah memudar seiring dengan perjalanan waktu. Bahkan melawan negri yang tak punya tradisi bulutangkispun tim putri kita takluk. Pelatih timnas kita berkilah bahwa kita hanya tidak beruntung.

Apa yang membedakan kemenangan dan kekalahan? Tiga hal saja. Latihan, latihan dan latihan. Seorang Ian Thorpe, perenang Australia yang menggenggam 5 medali emas Olimpiade Athena 2004, tetap berlatih pada saat Natal. Tiger Woods, tetap memukul 500 bola dalam sehari meski dia adalah pegolf terbaik di dunia. Pengorbanan diri untuk berlatih lebih keras, lebih lama, lebih terarah, lebih terprogram, demi meraih prestasi puncak, menjadi pembeda antara kemenangan dan kekalahan. Kemenangan itu direncanakan, bukan sekedar keberuntungan.

Iklan




Sehat itu pilihan

10 11 2011

Sore kemarin kuputuskan pulang kerja gak nunggu waktu maghrib. Memang dengan rutinitas macetnya jalan layang paspati menuju tol Pasteur di sore hari, pulang setelah solat maghrib di kantor adalah salah satu pilihan terbaik. Meeting marathon dari pagi hingga akhir jam kantor membuat spirit untuk melanjutkan kerja beberapa saat sambil menunggu azan maghrib lenyap bak debu jalanan yang tersapu hujan yang cukup deras sore itu.

Menuju lift, kudapati sejawat yang sandalan jepit. Kupikir dia mau siap-siap solat maghrib ke masjid di lantai 2. Ternyata bukan, “Mau fitnes”, katanya. Wah surprise. Ingatanku melayang kapan ku fitness di basement 1? Seingatku baru sekali, itu sekitar setahun yang lalu.  Awalnya saat istri tersayang bilang kalo seumurku yang sudah lewat 40, olahraga seminggu sekali nggak cukup. Emang jadual pasti olahragaku hanyalah sabtu pagi di lapang bola UPI. Itu ritual dengan prioritas tertinggi yang hanya bisa dikalahkan oleh hal yang urgent.

Seingatku peralatan fitness di basement ada yang rusak. “Treadmill-nya rusak satu kan pak?”, tanyaku sok tau. “Nggak kok, sekarang tiga-tiganya bagus”, jawabnya. Wah, surprise, karena setahuku hanya ada 2 alat treadmill dan satu rusak. Berarti sudah banyak perkembangan di ruang fitness itu. “Rame nggak pak?’, tanyaku lagi. Males aja fitness di ruang sekitar 5×6 meter yang disesaki oleh security yang sedang membesarkan otot-ototnya. “Nggak kok, kalo udah lewat jam kantor biasanya malah sepi”, jawabnya lagi. Wah boleh juga, pikirku. Kuniatkan untuk mencoba lagi fitness di situ, untuk mengejar olahraga dua kali seminggu sesuai petunjuk dokter tercinta.

Pagi ini tak lupa kusiapkan celana dan baju olahraga, sesuatu yang menyalahi kebiasaan persiapan ke kantorku. Mata istriku yang tajam dan awas bak elang betina melihatku menyiapkan baju olahraga itu, dan bertanya spontan, “Mau main bola ya pa?”. Pertanyaan yang agak nekat, karena dia juga tau jadual main bola adalah hari sabtu. “Nggak, mau fitness di kantor”, jawabku sambil memaksakan baju itu masuk ke tas kantor yang udah gendut.

Kuhabiskan seperempat piring maccaroni schoetel pagi ini. Menu yang nggak biasa. Kuabaikan saja nasi. Mencoba menantang pameo “Orang Indonesia belum makan kalo belum makan nasi”. Omong kosong. Badan kita hanya perlu komposisi seimbang antara karbohidrat, protein, sayuran. Kentang sudah memadai untuk karbohidrat. Bule yang seumur hidupnya mungkin gak ketemu nasi juga badannya bisa segede itu.

Sampai kantor, rutinitas awal kerja kujalankan.  Kubersihkan netbook mungil hitamku sebelum dibuka. Ntah udah berapa kali pertanyaan sinis atas netbook ini. Dengan standarisasi perangkat kerja di kantor, netbook diperuntukkan bagi karyawan yang levelnya tiga tingkat di bawahku. Ku tak peduli. Kupilih netbook ini saat masih dua tingkat diatas level yang ditetapkan. Ringan, dan cukup memadai kalo hanya untuk membuat dokumen masterplan, blueprint, presentasi sendiri maupun presentasi direktur. Daripada jatah notebook yang seharusnya, lebih berat dan lebih besar.

Setelah bersih, netbook kubuka dan kunyalakan. Selanjutnya absen masuk kerja, secara online ke sistem. Tak lama Acuy datang membawa secangkir kopi hitam. “Nuhun kang,” kataku sambil tersenyum padanya. Octane booster yang senantiasa kunikmati hari senin sampai jum’at. Kurasa tak sampai kecanduan caffeine, karena sabtu minggu biasanya kulalui tanpa kopi, kecuali ada pesta makan-makan di lapang bola, yang official drink-nya adalah kopi hitam juga.

Kuhabiskan kopi sambil membuka email kantor, gmail, cek agenda hari ini, buka detik.com, dan twitter. Ada berita yang cukup seru. Curhat dua orang presiden yang paling berkuasa di dunia. “Kau muak dengan dia, tapi aku harus berurusan dengan dia bahkan lebih sering daripada Anda,” selengkapnya baca sendiri aja. Ku-twit saja kutipan seru itu. Kuhabiskan kopi dan kulangkahkan kaki menyimpan cangkir kopi yang menyisakan ampas ke atas kulkas di dekat dinding. Saat melangkah kembali, samar-samar kudengar dentuman musik di lapang seberang kantor.

Menyambut pagi dengan senam irama

Kusingkapkan tirai dibalik kaca di belakang meja. Puluhan orang, yang kebanyakan manula, bergerak seirama dengan diiringi musik. Mereka bertepuk, berputar, melangkah ke kiri kanan, dapan belakang. Not my type of sport, indeed. Mereka memilih untuk sehat, kupikir. Perlu determinasi melawan kemalasan diri untuk bearada di arena olahraga, apapun jenisnya. Dan diriku pernah gagal mempertahankan ritme untuk mengunjungi fitness yang telah tersedia di basement 1. Pemandangan ini memotivasiku untuk berjuang untuk memiliki rutinitas olahrga sesuai persyaratan minimal dokter cantik tadi, dua kali seminggu. Kupilih untuk sehat, dan konsekuensinya ku harus mengorbankan waktu dan tenaga untuk mengajak diriku sendiri berolah raga.





Road2GBK : Moda Transportasi

29 03 2011

Gelora Bung Karno (courtessy : Joni Effendi)

Berlaga di Stadion Gelora Bung Karno tentunya menjadi salah satu impian semua pemain sepakbola Indonesia. Lebih khusus lagi, berlaga di Gelora Bung Karno dengan menggunakan Jersey Tim Nasional, berlambang Garuda di dada sebelah kiri, adalam impian tertinggi. Untuk yang satu ini, bahkan ada yang rela melepas kewarganegaraannya. Sebut saja seorang Christian ‘el loco’ Gonzales, terlahir sebagai warga negara Uruguay, el loco berkorban dan berjuang 7 tahun tidak pulang ke negerinya, bermain sebagai pemain sepakbola di Indonesia, dan akhirnya menjadi pemain naturalisasi pertama.

Bagi pesepakbola amatir seperti saya, yang bermain bola hanya seminggu sekali bersama teman-teman di hari Sabtu, berlaga di Stadion GBK sudah menjadi impian tertinggi. Setelah sempat tertunda karena surat permintaan resmi untuk menyewa lapang sepakbola GBK ditolak, maka negosiasi ala Indonesia dijalankan dan akhirnya dapat dipastikan kami bisa berlaga di stadion GBK pada hari Minggu, 27 Maret 2011. Sebagai penggila bola sejati, latihan hari sabtu tetap berlangsung normal di lapang UPI di kawasan setiabudi Bandung. Harga sewa sekali bermain di stadion GBK setara dengan harga sewa lapang UPI selama 3 bulan lebih !

Bukan sekali ini tim kami berlaga tandang. Surabaya, Kediri, Semarang, Jogjakarta, Tasikmalaya, Cirebon, Cianjur, Jakarta, Cilegon, adalah beberapa kota yang sempat kami sambangi untuk bertarung di lapangan hijau. Sudah tak mudah menghitung berapa kali kami mencetak gol. Sama susahnya dengan menghitung jumlah gol yang bersarang di gawang kami. Kemenangan dan kekalahan datang silih berganti. Tapi tak ada yang lebih patut dinantikan selain berlaga di stadion GBK. Kami melihatnya sebagai pertai puncak yang mungkin hanya terjadi sekali seumur hidup.

Persiapan dalam rangka Road to GBK sungguh luar biasa. Pernah kami hendak berlaga di Stadion Badak Putih Cianjur, dan bis yang kami tumpangi mogok di tengah jalan karena masalah mesin, di siang terik jalan raya Bandung Cianjur. Sempat ada suudzon bahwa ini adalah sabotase pihak lawan, tapi melihat umur bis yang sudah sedemikian uzur, sepertinya memang tak perlu sabotase untuk melihatnya tepar di pinggir jalan. Beruntung teknologinya masih primitif, sehingga bis bisa berjalan lagi setelah komponen yang rusak diikat dengan kawat baja.

Sudah Jam 9.45. Hampir seluruh pemain sudah datang. Tinggal seorang pemain muda yang ‘mengaku’ berbakat yang masih ditunggu. Tak sabar, seorang pemain menelponnya dan berkata ‘Jang, kami udah mau berangkat. Jangan kuatir ketinggalan ya, banyak travel ke Jakarta’. Mesin bis sudah panas ketika akhirnya seluruh pemain termuat. Termasuk the legend Kuatin yg harus diantar istrinya, kuatir maksa ikut turun di stadion GBK. Nah, untuk perjalanan kali ini bis tim kami luar biasa. Ini adalah salah satu bis ternyaman yang pernah kami pakai berlaga tandang. Pantas saja, ternyata bisnya adalah bis sewaan dari salah satu perusahaan otojasa ternama di kota Bandung, yang lahan parkirnya di jalan Pasteur luasnya selebar lapangan bola. Layanannya juga prima. Baru duduk sudah ada yang mengantar snack, jeruk dan aqua gelas. Sepertinya yang ngantar snack ini mukanya nggak asing, sering liat di lapangan UPI. All round performer, mulai dari cari lapang untuk latihan, cari dana, bayar pelatih, sampe nganter snack juga bisa.

Fasilitas bis ini juga luar biasa. Udah ada TV yang bisa dilipat, juga dilengkapi karaoke. Jadi ingat perjalanan PS Telkom ke Semarang dulu. Bisnya nggak seberapa bagus waktu itu. TV-nya juga masih segede gaban dan pake tabung. Tapi waktu itu, yang hebat adalah content-nya. Cocok buat pemain bola yang jauh dari istri. Nah untuk bis yg kali ini, karena dilengkapi karaoke, baru saja lagu “Jangan Ada Dusta Diantara Kita” mengalun, sesosok tinggi besar dan hitam merangsek ke depan dan merebut mic karaoke. Suaranya agak aneh, dan bangun-bangun, saya sudah di parkiran Rumah makan Sederhana KM 62. Sepertinya yang nyanyi tadi bukan penyanyi, tapi tukang sirep.





Semoga Tim PSSI Kalah !

21 02 2011

Sepakbola adalah bagian tak terpisahkan dari hidup saya. Terlahir di masa sepakbola tak bisa menjadi mata pencaharian, saya pun tak pernah secara serius menekuni sepakbola. Tak pernah terbersit sedikitpun dalam angan saya di waktu kecil untuk menjadi pemain bola profesional. Tapi, kalau urusan sepak menyepak bola, ingatan saya cukup kuat untuk melompat-lompat ke petualangan sepakbola saya di waktu kecil sampai sekarang.

Pernah suatu kali saat saya masih TK (Prof Dr. Moestopo Bandung), mama tercinta, seorang Siregar sejati, mengacung-acungkan sapu lidi ke lapang tanah di belakang rumah, menandai bahwa sudah waktunya saya membaca Iqro, tapi saya belum juga nongol di rumah. Upaya pelarian yang gagal dari sabetan sapu lidi, membekas di tangan kanan berbentuk huruf Y, hasil sangkutan di kawat berduri demi menghindari sabetan sapu lidi di tengah sorakan teman-teman bermain bola saya.  Ketika menikah, saya memandang goresan di kulit huruf Y ini dengan tersenyum, tato alami untuk kekasih tercinta, Yhie.

Waktu saya SD di Surabaya (MI Khadijah), bermain bola menjadi menu rutin sebelum masuk sekolah yang berlangsung siang hari. Dengan celana pendek hijau, saya paling bersemangat bermain bola. Pernah suatu kali seorang teman yang kesal karena saya mencetak gol terlalu banyak, menjegal saya dengan sengaja tanpa ada bola, mencari gara-gara. Sadar kalau badan saya biasa aja ukurannya, dan juga darah Siregar tidak mengalir cukup deras, saya melengos menjauhi urusan, tipikal kebanyakan orang Sunda seperti bapak saya.

Ketika saya menginjak usia SMP (SMPN 5 Bandung), sekolah siang juga waktu kelas 1, bermain bola sebelum bel masuk adalah hobi yang tak pernah dilewatkan. Dengan bola plastik, bermain bola di lapang basket yang berlantaikan aspal, jangan pernah berfikir untuk jatuh. Aspal panas dengan ganas akan menyambut setiap daging dan tulang yang berani menyentuhnya. Dengan jumlah pemain yang bak cendol dalam gelas, saya masih bisa meliuk-liuk mencari celah untuk menerobos pertahanan lawan. Ketika pelajaran sudah dimulai, saya masih belum selesai mengipas-ngipas badan yang masih berkeringat, di bawah tatapan guru yang berkerut dahinya memperhatikan.

Menginjak SMA (SMAN 3 Bandung), tim kelas satu satu-satunya yang masuk ke semifinal antar kelas 1-2 hanyalah kelas saya, meski akhirnya harus mengakui kekalahan dari tim kelas 2 yang menang besar badan dan menang intimidasi.  Lapang Bali, yang menjadi lapang sharing SMAN3 dan SMAN5, menjadi saksi bahwa pernah sekali waktu saya menikmati posisi sebagai kiper.

Saat kuliah (STT Telkom Bandung, sekarang IT Telkom), sepakbola agak jarang saya lakukan. Selain lapang yang tidak mendukung, intensitas pendidikan ikatan dinas dengan pressure yang lumayan tinggi membuat saya tak terlalu intens berurusan dengan sepakbola saat masih kuliah. Seingat saya, tim STT Telkom pernah ikut liga mahasiswa, dengan hasil yang cukup memalukan karena selalu dipecundangi lawan-lawan dengan skor besar. Sepertinya kami memang terlalu serius kuliah saat itu.

Setelah bekerja di BUMN telekomunikasi terkemuka di negri ini, hobi sepakbola saya tersalurkan lagi. Pertandingan sepakbola antar Divisi di Bandung adalah momen yang paling dinanti-nanti. Pertandingan demi pertandingan yang berlangsung di saat week-end selalu mampu menyegarkan badan dan pikirian setelah seminggu berkutat dengan rutinitas kerja. Pernah suatu waktu saya dimutasi temporer ke Jakarta, entah dari mana manajer tim Jakarta tau kalau saya hobi main bola, dan menjadi pemain cabutan untuk tim Jakarta Pusat. Hasilnya tidak mengecewakan, muncul sebagai top skorer, mencicipi lapang Lebak Bulus, dan mendapat amplop berisi uang sebagai tanda terima kasih. Uang yang saya pakai untuk mentraktir teman2 dekat di Jakarta, yang diolok-olok sebagai ‘uang kaki’.

Sampai saat ini pun, sudah beranak 3, saya masih setia mengikuti pertandingan demi pertandingan dengan teman-teman kantor. Semarang, Cirebon, Tasikmalaya, Jakarta, Cianjur, adalah kota-kota yang pernah kami datangi untuk bertanding bola. Stadion Siliwangi, Jalak Harupat, Lebak Bulus, adalah tiga stadion besar yang pernah saya injak injak sebagai pemain bola. Senayan, sudah masuk target kami berikutnya.

Darah bola mengalir cukup deras di tubuh saya. Mamak saya, adik mama, adalah pemain Timnas di era Galatama. Mak Locan, saya memanggilnya, adalah pemain defender Pardedetex, dan sempat beberapa kali memperkuat timnas, diantaranya melawat ke Iran. Saat Pardedetex bertanding di stadion siliwangi, saya tidak menonton di tribun penonton, tapi menonton di bench, digendong Mak Locan dan berangkat bersama tim dari penginapan.  Saya tak pernah mengikuti sekolah bola, tapi video tape teknik-teknik dasar bermain bola yang Mak Locan berikan habis saya hafal dan praktekkan.

Dengan terlahir di Medan, sempat tinggal di Surabaya, besar dan bekerja di Bandung, tinggal di Cimahi, membuat saya bingung sendiri memilih klub kesayangan. Di era perserikatan dulu, pastinya kami sekeluarga membela PSMS, dan saat PSMS mengalahkan Persib Bandung di final, kami pun berjingkrak bersama, sambil menjerit tertahan, kuatir rumah dilempar orang, karena kami tinggal di kota Bandung. Saya menonton bola di TV untuk menikmati pertandingannya, dan tidak memihak secara emosional tim manapun. Pastinya, masih ada ‘sedikit’ ikatan emosional dengan PSMS, Persibaya dan Persib. Jika 3 tim ini bertanding, saya senang jika mereka menang.  Saya tidak pernah datang ke stadion untuk menonton pertandingan sepakbola. Sayang ‘membuang waktu’ bila pertandingan tidak bermutu, atau malah rusuh. Kalau di TV pertandingan membosankan, saya tinggal ganti channel.

Garuda Pancasila

Saat turnamen AFF 2010 yang lalu, eforia Timnas Garuda membangkitkan semangat nasionalisme sebagian besar rakyat Indonesia, termasuk saya.  Saya pun menonton dengan berdebar, berharap dan berdoa agar timnas menang. Perjuangan Christian Gonzales, Irfan Bachdim, Firman Utina dkk, saya acungi jempol. Mereka layak disebut pejuang negara. Tampil demikian impresif sepanjang turnamen, meski tak juara, mereka tetap juara di hati saya dan kebanyakan rakyat Indonesia.

Selanjutnya adalah mimpi buruk buat saya. Nurdin Halid, seorang terpidana korupsi, pimpinan tertinggi PSSI. Mencoba netral, bahwasanya bisa saja Nurdin memang punya jasa pada sepakbola Indonesia. Faktanya, tak ada satupun gelar timnas peroleh selama kepemimpinannya. APBD di seluruh negri digerogoti untuk membayar pemain bola profesional di Liga Super, Liga Divisi Utama maupun liga lain di bawah naungan PSSI. Uang yang diperoleh dari keringat rakyat lewat pajak ini dihamburkan untuk industri sepakbola. Hanya di Indonesia. Kedunguan yang nyata.

Kemunculan Liga Primer Indonesia membawa secercah harapan bahwa sepakbola bisa dijalankan sebagai industri. Dengan model bisnis yang bisa kita tiru dari liga-liga terbaik di Eropa, Amerika selatan, maupun negara tetangga kita Jepang dan Korea Selatan. Menjalankan sepakbola sebagai suatu Industri, memberikan alternatif mata pencaharian bagi mereka yang berbakat, dan menjadi duta bangsa mereka masing-masing untuk bertarung di tingkat tertinggi pesta sepakbola, Piala Dunia. Kita? tak satupun peserta AFF bermain di Piala Asia. AFF memang liga tarkam (antar kampung) di tingkat percaturan sepakbola dunia. Liga Primer belum menunjukkan hasil. Liga Super masih terus menyedot uang rakyat lewat APBD. Cara terbaik bagi saya untuk tetap menjadi orang waras dan tidak naik tensi darah adalah menutup mata dan telinga atas tingkah polah Nurdin Halid dan kroninya, melupakan channel ANTV yang menyiarkan liga super dan liga ti-phone, dan menghibur diri dengan menonton Liga Primer Indonesia.

Tanggal 23 Februari 2011 di ajang pra piala Dunia, Indonesia menghadapi Turmenistan. Keputusan PSSI yang melarang pemain liga primer manjadi pemain timnas, menambah panjang daftar dosa mereka atas sepakbola Indonesia. Ini timnas, tak penting seorang pemain bermain di mana, selam dia berpaspor merah putih, berhak untuk berkontribusi. Kepicikan PSSI dan juga ketololan Alfred Riedl yang manut saja pada juragan yang menggajinya, menunjukkan bahwa mereka lebih mencintai dirinya, ego pribadi dan golongannya, dibandingkan mencintai kejayaan bangsa Indonesia di kancah sepakbola. Beberapa orang yang bermain di Piala Dunia Afrika Selatan 2010 yang lalu, tak punya klub untuk bermain. Saat berbicara lambang negara, maka sepatutnya kepentingan nasional di atas segalanya.

Ini bukan timnas, karena tidak mencerminkan kekuatan nasional, ini Tim PSSI. Sudah seharusnya mereka tidak memakai lambang Garuda di jersey-nya. Mereka seharusnya memakai lambang PSSI. Saya mendoakan sepenuh hati agar tim PSSI kalah. Dan saya pun akan berduka bila mereka menang. Kemenangan yang hanya akan semakin menumbuh suburkan kebebalan para pengurus PSSI. Semoga mereka semua segera insyaf. Sepakbola adalah olahraga terpopuler sejagat raya. Berilah kesempatan kami semua menikmatinya, melihat merah putih berkibar di pentas tertinggi. Dan bila kalian para pendholim tak juga jera, doa kami akan mengutuk kalian. Dan berhati-hatilah, doa kaum yang teraniaya senantiasa dikabulkan oleh-Nya.





The ultimate timing

27 09 2010

timing masuk lambung -> lokasi & waktu : warung bu gitu, hari ini.

Lotek - Asli Indonesia (inastya.wordpress.com)

Lunch time. ngajak temen ke warung bu ratih (rambut putih), ternyata doi musti pulang nengok renovasi rumahnya yg udah setaun lebih kayaknya  gak kelar-kelar. buset dah, mo bikin istana kali. terpaksa switch plan ke warung bu gito. pesen lotek, tanpa lontong, niat mo pake nasi aja. ambil nasi, tempe goreng, plus daging empal, dan jus jambu. kayak yg kalap nih pesen makannya.

Setelah duduk 2 menit, loteknya gak dateng juga. para naga sudah mengamuk di lambung. jadilah mulai mengunyah nasi dengan tempe goreng dan empal. sambil berharap loteknya cepat datang. jadi keinget sama mr. bean.

minum kopi secara parsial, ngunyah bubuk kopi dulu, terus gula, minum, dan goyang2 perut. emang sih pada akhirnya semua di dalam lambung akan berakhir sama, tapi proses masuk dengan timing yang tepat adalah suatu kenikmatan tersendiri. dan timing yang salah bisa membuat kita dikira orang sinting.

timing download file -> lokasi & waktu : internet, hari ini

Minal aidzin wal faidzin. minta akses ke executive briefing dong. dst. emaildari teman masuk minta akses ke referensi online. wah, gawat. kalo sharing password dan ketauan sama pemilik situs, bisa kena kartu kuning lagi. terus aja ditawarin ke temen tadi, boleh download sendiri, tapi kalo mau login notify dulu biar nggak login bareng. it’s just about timing. akhirnya doi nyerah dan minta tolong di-download-in file2 spesifik.

ok deh, jadi tambahan kerjaan mbantu temen cari file yg diminta. for the sake of networking. musti ikhlas dikerjain. suatu saat juga kita pasti butuh bantuan orang lain.

time to shoot -> lokasi & waktu : lapang sabuga ITB, sabtu yll.

Menunggu saat yg tepat utk shoot... (avidsoccer.com)

Setelah libur beberapa minggu karena puasa, latihan resmi sepakbola dengan temen2 kantor dimulai lagi sabtu yang lalu. diawali dengan narsis time berfoto dengan kostum baru (pastinya terus upload di facebook. waks…),

Latihan pun dimulai dengan penuh semangat. timing dalam sepakbola adalah sangat kritikal. off-side, misalnya, faktor kuncinya adalah timing. sekali saya diputus off-side oleh wasit, meski saya merasa tidak. dan karena keputusan wasit tidak dapat digugat di mahkamah konstitusi, protes pun percuma.

Di salah satu kesempatan, umpang matang dari bang ruben sudah mengarah tepat ke atas kepala saya. sambil meloncat saya melakukan sundulan (heading). ada yg salah dengan timing memutar kepala saat heading ini. alih2 bola mengarah ke gawang, malah kembali lagi ke bang ruben. waks…. Kesempatan lain, umpan sepak pojok tomas disundul bek lawan, mengarah tepat ke arah saya. hanya mengandalkan feeling, saya mengayunkan kaki kanan sekerasnya ke arah bola yang baru memantul sedikit dari tanah. timing mengayunkan kakinya sangat tepat. bola meluncur sangat deras melewati sekumpulan pemain lawan & kiper. bersarang dengan manis di pojok kiri gawang. goal of the match !

time to protect -> lokasi & waktu : my desk, hari ini

sedia payung sebelum hujan (trexglobal.com)

Setelah berhitung dengan excel, terlihat bahwa investasi melalui tabungan investa cendekia berbasis syariah saya memberikan return 9.34% dalam 65 bulan. artinya rata-rata 1.75% setahun. Sementara tabungan berencana syariah memberikan return 2.14% per tahun. sama sama nggak menarik sih. Berusaha konsisten dengan prinsip menyimpan telur dengan hati-hati dan terencana, maka sy mulai mengubah pola investasi saya. 3 tabungan investa cendekia untuk pendidikan anak sy akan dikonversi menjadi asuransi syariah murni dengan premi Rp. 7 juta pertahun dan uang pertanggungan Rp. 500 juta. Selebihnya dikonversi menjadi investasi syariah dengan investasi tunggal Rp 24 juta syariah equity fund dengan ‘prediksi’ return 5-15% pertahun.

the ultimate timing -> lokasi & waktu : mesjid, hari minggu kemarin

Pesan inti penceramah adalah soal falsafah kehidupan. kehidupan dunia
adalah hal yang pasti kita ditinggalkan, dan kehidupan akhirat adalah hal yang pasti kita datangi. tausiyah dibawakan secara kocak, tanpa terasa menyerempet banyak hal, mulai dari membina anak, menghizibkan baca Al-Qur’an, keharmonisan dalam rumah tangga, semangat mencari ilmu, konsistensi pengamalan, poligami. prinsipnya, memanfaatkan timing hidup di dunia secara maksimal sebagai bekal untuk kehidupan di akhirat kelak.





Slo-pitch

8 09 2010

Setelah berkenalan dengan slo-pitch, maka aturan-aturan yang berlaku di olahraga ini saya dapat dari pengalaman bertanding di turnamen slo-pitch ramadhan 1431H (2010)  Rusa Hitam di lapangan Lodaya, Bandung. Kalo mau tau aturan resminya, silakan baca official rule slo-pitch national.

a. Lapangan bermain & waktu permainan

Permainan slo-pitch dilakukan dalam waktu yang disebut inning. Dalam satu inning, tiap tim bergantian menyerang dan bertahan. Lamanya inning ditentukan bukan oleh waktu, tapi oleh 3 pemain out dari tim penyerang. Dalam kondisi normal, ada 7 inning, jadi normalnya setiap tim menyerang dan bertahan masing-masing  sebanyak 7 kali. Tujuan utama tim penyerang adalah menciptakan skor (run) dan menghindari out. Sebaliknya, tujuan utama tim bertahan adalah untuk mencegah terjadinya run dan menciptakan out.

b. Strategi menyerang

Sebuah nilai skor (disebut run) terjadi ketika seorang pelari dari tim penyerang menyentuh 4 base secara berurutan, base-1, base-2, base3 dan home. Untuk mencetak skor, seorang pemukul (batter) harus memukul bola ke dalam area permainan (bidang coklat & hijau), lalu berlari melawan arah jarum jam dengan menginjak base. Ketika seorang pemain mendapat giliran memukul (at-bat), dia akan berupaya untuk mencapai base dengan melakukan pukulan atau berjalan gratis ke base-1 (karena pitcher melakukan 3 kali ball / lemparan jelek yang tidak dipukul). Pukulan (hit) terjadi bila pemukul berhasil memukul bole ke area permainan dan mencapai base-1 sebelum pemain bertahan melempar bole ke base-1. Pemain ini berkesempatan juga untuk mencapai base selanjutnya (base-2, base-3 atau home), asalkan tidak dalam posisi tagged-out (bola mencapai penjaga base sebelum pelari). Dalam keadaan tidak aman, pelari berhenti di base terakhir yg dinilai aman, dan berharap akan mendapat dorongan dari pemukul selanjutnya untuk melanjutkan lari sampai ke home-plate untuk mencetak skor.

c. Strategi bertahan

Ada beberapa cara untuk membuat out. Dalam kondisi bola terpukul (di dalam arena permainan maupun keluar), bila bola tertangkap oleh pemain bertahan, pemukul out (fly-out). Bila bola sudah terpukul dengan baik, pemain bertahan berupaya untuk mengejar bola dan mengirimkannya ke base yang menjadi tujuan pelari. Dalam hal ini pemain bertahan harus cermat berhitung ke base berapa bola harus dilempar untuk mematikan pelari tim penyerang, yang bisa berada di lebih dari satu base.

Force-out terjadi bila bola berhasil mencapai base-1 lebih cepat dari pemukul. Tag-out terjadi bila penjaga base menangkap bola saat pelari tidak menginjak base-2 atau base-3 dengan sempurna. Pelari di base-1 tidak bisa di tag-out. Pemukul yang menuju base satu cukup menginjak base warna coklat, dan karena dalam keadaan berlari, selama tidak masuk ke area permainan, dia aman.

Bila pemain bertahan berhasil membuat 3 pemain penyerang out, maka terjadi pergantian (change) antara penyerang dan bertahan.

d. aturan-aturan lain

1. Satu tim terdiri dari 10 orang, dan wajib ada 3 putri di dalamnya. nggak tau juga ini aturan dari mana. kalo di aturan versi Canada di atas nggak ada.

2. Pelari dari tim penyerang harus selalu menginjak base saat pitcher melempar bola hingga bola dipukul oleh pemukul. Bila pelari tidak menginjak base saat itu, di out.

3. Urutan pemain saat memukul tidak boleh berubah, dan harus dilaporkan ke wasit (umpire) sebelum pertandingan dimulai.

4. Bila terjadi 3 kali strike (bola dilempar masuk ke area pukul yang ditandai dengan alas lunak di area home-plate), tanpa dipukul oleh pemukul, maka pemukul out.

5. Pelempar (pitcher) harus melemparkan bola secara melambung (di aturan resminya, dengan ketinggian antara 2 s/d 6 meter). Bila pitcher nekat melempar dengan relatif lurus, maka terjadi ball dan umpare berteriak “flat“.

6. Hal yang paling seru terjadi ketika pelari berlomba dengan bola yang dilemparkan ke penjaga base. Umpire menentukan apakah pelari yang duluan sampai, ataukah bola. Bila menurut umpire bola yang lebih dulu sampai, umpire akan mengepalkan tangannya dan meninju ke depan seraya berteriak “strike“, dan pelari pun out. Bila menurut umpire pelari yang lebih dulu sampai, umpire akan menyilangkan tangan, lalu menbentangkan tangannya dan berteriakn “safe“.

7. Bila bola yang dipukul langsung tertangkap, maka pemukul out (fly-out). Meski demikian, pelari yang sudah ada di base-1, 2 atau 3 boleh memanfaatkan kesempatan untuk berlari menuju base berikutnya dengan syarat sesaat setelah bola tertangkap, pelari menginjak base asal baru berlari ke base selanjutnya.  Pemain bertahan harus berupaya mematikan pelari ini dengan melemparkan bola segera ke penjaga base yang menjadi tujuan pelari ini.

8. Posisi bertahan dan penomorannya secara berturutan (lihat diagram arena pertandingan) :

  1. P : Pitcher (pelempar)
  2. C : Catcher
  3. 1B : Penjaga base-1
  4. 2B: Penjga base-2
  5. 3B: Penjaga base-3
  6. SS (Short-stop) : Penjaga antara base-2 dan base-3
  7. LF (Left Fielder)
  8. LC (Left Center)
  9. RC (Right Center)
  10. RF (Right Fielder)




Berkenalan dengan Slo-pitch

7 09 2010

Di bulan romadhon aktivitas olahraga jelas dikurangi. Malah bisa jadi di-delete dari jadual kegiatan keseharian kita. Suatu hari big bos (badannya asli besar!) mengajak untuk bermain slo-pitch. Never heard before. Tapi kata si boss “softball, tapi bolanya pelan. Udah kamu dateng aja ke lapang Lodaya jum’at sore untuk latihan. minggu depan kita tanding”. Nah ini baru seru, belum pernah softball, apalagi slo-pitch, dan sudah diminta siap bertanding. Ini sama aja cerita para koas di fakultas kedokteran. Lihat sekali, dan praktekkan. Lalu ajari teman yang belum bisa. glek.

Karena penasaran, Jum’at ku tiba di Lodaya. Bos & his gang sudah mulai lempar-lemparan bola dengan glove, dan juga pepring (berlatih memukul bola dengan pelan). Untuk pertama kali dalam hidupku, kupakai glove dan mulai lempar bola softball yang kira-kira sebesar dua telapak tangan kita yang saling menggenggam. asik juga. saat rehat sebentar, ditanya sama teman si bos, “lama nggak latihan ya pak?”. ntah maksudnya nyindir karena bola masih terkadang lepas dari pocket glove-ku, atau bisa juga menyangka aku adalah bekas atlit softball yang lama nggak latihan. “nggak pak, ini pertama kali saya pake glove”. asyik juga melihat raut mukanya yang aneh mendengar jawabanku.

Saatnya berlatih game. ku diminta melihat posisi para jagoan softball dan bergantian menangkap bola untuk dilempar sekencangnya ke base-1, base-2, maupun base-3 atau home base sesuai instruksi. I do my best pastinya. sampe si boss komentar, “alusan si rizal geuningan euy”. tandanya aku lulus untuk masuk tim slo-pitch.

Besoknya, glove hitam easton dan bola kulit mizuno sudah ada di-rumah. dan si jagoan pun mulai tertarik untuk lempar lemparan. Wah ini dia. Olahraga yang bisa menyatukanku dengan si jagoan. Selama ini olahraga kami masing-masing. Sebagai maniak bola, pastinya tiap sabtu ku hadir di lapangan hijau. Sementara si jagoan, yang kapok sekapok-kapoknya karena kakinya pernah ditebas di lapang bola, anti dengan bola. Dengan lempar-melempar bola ini, ayah anak bisa olahraga bareng. Belakangan, si putri sulung juga nggak mau kalah. Jadilah kami bertiga lempar-melempar bola bersama. Saatnya nanti, kami akan datangi salah satu klub di Lodaya untuk ikut berlatih softball.