Till death do us part…

8 03 2012
Bagian sedihnya :
Tumben, dinihari itu diriku berhasil mengalahkan segala hantu belang yang menghalangi antara niat baikku untuk bersujud di sepertiga malam akhir dengan salah satu hobby-ku yang satu ini : tidur ! Kerja keras dua alarm yang berbeda waktu kali ini memberikan hasil membuatku terbangun di dinihari yang dinginnya menusuk tulang itu.
Memang paginya diriku harus berangkat ke Jakarta, ke Kementrian Badan Usaha Milik Negara, untuk sharing apa saja yang sudah kami lakukan untuk memastikan teknologi informasi memberikan manfaat maksimal untuk kelancaran bisnis, ke perwakilan dari 15 BUMN lain.
Bermunajat di keheningan malam memang sangat nikmat. Karena udah kadung bangun, kunyalakan netbook mungilku, sekedar untuk memeriksa  kalau ada informasi penting yang perlu kutindaklanjuti. Dan diriku pun tersentak membaca email yang baru saja tiba. Email yang terkirim menembus dingin dan gelapnya malam :
From: Mochtar Arief <xxxxx@telkom.co.id>
Date: Thu, 1 Mar 2012 01:37:30 +0700
To: <xxxxx@telkom.co.id>
Subject: [FAST] BERITA DUKA
innalillahi wainnailaihi rojiun, turut berduka atas meninggalnya rekan kita AAS MAESYANURDIN, pada hari Rabu 29/02/2012 sekitar jam. 22.15.
Semoga allah menerima amal ibadah beliau dan keluarga yg ditinggalkan diberikan ketabahan.
Aminnn…………
==========
Email yang pendek. Perlu dua kali kubaca email ini untuk memastikan bahwa yang terproses di pikiranku sama dengan yang tertulis. Akhir-akhir ini memang banyak email berita duka meninggalnya bapak si anu, ibu si anu, tapi hampir tak pernah yang menjadi subyek adalah rekan kerjaku, yang terakhir ku temui seperti masih sehat wal afiat. Seorang sundanese tulen yang setiap bertemu diriku selalu menyapa ramah : “Kumaha kang, damang?,” dengan senyumnya yang sangat khas.
Memang almarhum bukan yang pertama meninggalkan dunia dari teman seangkatanku kuliah di kampus STTTelkom Dayeuhkolot di tahun 1991 yang berjumlah seribu orang. Hampir seluruhnya yang telah meninggal disebabkan oleh penyakit berat, seperti kanker darah dan tumor otak. Hanya satu yang meninggal karena kecelakaan lalu lintas. Belakangan kutau ternyata almarhum meninggal karena kanker paru-paru ganas.
Ketika pagi menjelang dan diriku bersiap berangkat ke Jakarta, kuceritakan hal ini kepada sang dokter, istriku tercinta. Dijawabnya enteng “Pasti TBC, tingkat prevalensinya tinggi sekali di negeri kita. Malah kadang kupikir aku pun akan mati karena TBC”. Kagetlah diriku, “Hei, bicara apa say? Tugasmu menjaga anak-anak kita bila diriku telah tiada, bukan sebaliknya !”. Diriku emang tipikal lelaki, egois. Bahkan mati pun pingin duluan dari istriku.
Till death do us part. Kematian rekanku itu telah memisahkan dirinya dan seribuan teman seangkatannya. Dan tentu saja, antara dirinya dan keluarganya.
Bagian senang dan kocaknya:
Hari masih pagi. Keriuhan terdengar di ujung ruangan. Karena keterpaksaan, kandang tempatku kerjaku malah jadi kotak di pojok tengah yang nggak punya visiibility bagus ke seluruh ruangan besar 15x25meter ini. Seorang rekan kerjaku menjadi berubah menjadi messenger dan berjalan cepat sambil berkata “Cepetan pak, nanti kehabisan”. Pikirku: “Wah ada apa ini pagi-pagi udah heboh?.”

Kue Tart Hari Ultah Pernikahan - Green Tea

Kuhampiri pusat gempa lokal itu. Ternyata ada dua kue tart telah tersedia. Seorang rekan kerjaku membawa dua kue tart itu, satu untuk ulang tahunnya. Satu lagi untuk ulang tahun pernikahnnya yang ke-18. Tanggalnya sama persis. Wah, milih tanggal nikah aja pilih nomer cantik gini. Pantesan heboh, dan karena bingung antara harus nyanyi atau pidato, akhirnya diputuskan kuenya langsung disikat saja tanpa basa-basi kecuali ucapan selamat kepada yang berhajat.
Hm. 18 tahun. Pastinya bukan waktu yang singkat. Diriku masih terpaut dua tahun di belakang Pak Kumis Ganteng yang hari itu berulang tahun pernikahan. Pertanyaan sederhana dari mbak Ely membuatku sejenak bertanya pada eyang Google tentang hari ulang tahun pernikahan ini. Ternyata urutannya yang diadopsi di banyak negara adalah : ke-5 kayu, ke-10 Timah, ke-15 Kristal, Ke-20 Keramik, Ke-25 Perak, Ke-30 Mutiara, Ke-40 Rubi, Ke-50 Emas, Ke-60 Berlian. So Pak Kumis Ganteng sepantasnya dapat hadiah porselen cantik. Di Amerika Serikat dan Australia, pasangan yang merayakan ultah pernikahan ke-50 mendapat kartu ucapan selamat  dari Presiden / Perdana Menteri.
Dimulailah keceriaan pembantaian dua kue itu, satu rasa cokelat, dan satunya rasa green tea. Enak abis. eh, salah. Wueeeenak. Jauh lebih enak, karena gratis. Dan tugas berikutnya adalah membuat reminder di kalender supaya tahun depan momen ini tidak hilang. Kami harus berbaik hati mengingatkan beliau bila waktu ultahnya udah dekat :D.
Lalu muncullah sebuah teka-teki tentang pernikahan. “Apa yang membedakan antara akta nikah dengan KTP, Kartu Keluarga, SIM, STNK, Visa, dan Paspor?”. Pertanyaan sederhana ini ditujukan kepada yang empunya hajat. Setelah berpikir keras dan menghabiskan lagi beberapa potong kue *yah, makannya lebih keras dari mikirnya*, dia menyerah.
Jawabannya adalah : expiry date. Tak ada tanggal kadaluarsa atau masa berlaku di akta nikah.
Ceritanya  ada seorang suami yang sibuk membolak balik buku akta nikahnya yang udah sangat kucel. Istrinya yang memergoki kelakukan suaminya bertanya : “Kenapa mas, inget masa bulan madu kita ya?. Baru 18 tahun yang lalu lho. Mau ngajak bulan madu ke tujuh ya mas?”. Suaminya menggeleng, “Kayaknya ada yang salah di surat ini. Surat-surat yang lain ada masa berlakunya. Yang ini kok nggak ada ya…?”. Kompryaaang…segala macam benda tiba tiba berhamburan dan berterbangan 😀
Bagian akhir:
Once upon a time, White Lion pernah bersenandung dengan syahdu :

As we walk the golden mile.
Down the pretty aisle. I know that you are mine.
And there’s nothing in this world.
That I know I wouldn’t do. To be near you everyday.
Every hour every minute.
Take my hand and let me lead the way.
All through your life. I’ll be by your side.
Till death do us part.

Suatu pernikahan, memang selayaknya berakhir dengan kematian, bukan karena tanggal kadaluwarsa. Bukan karena till debt do us part, karena masalah ekonomi. Bukan pula karena till bed do us part, karena perselingkuhan. Tapi terpisahkan oleh kematian.

Jadi apa citamu : perak, emas, atau berlian ?





A B C D

21 02 2012

“Most successful men have not achieved their distinction by having some new talent or opportunity presented to them. They have developed the opportunity that was at hand.” Bruce Barton

Pagi ini ada email yang bikin kaget. Kirain spam, setelah googling sejenak,  ternyata sepertinya email ini serius…

##################

from:  xxxxxxxxxx
to: xxxxxxxxxxx
bcc:  rizalxxxxxxx
date:  Tue, Feb 21, 2012 at 12:44 AM
subject:  Director, IT Planning and Solution- Roshan Telecom

Greetings!!
With regards to your profile on linkedin, request you to go through the JD given below.

ABOUT THE COMPANY:-
Roshan is the leading GSM mobile provider and largest telecom operator in Afghanistan with the largest and most advanced network serving more than 3.7 million customers.  In January 2003, Telecom Development Company (TDCA) was issued the second GSM license for Afghanistan.  TDCA trades under the name of Roshan.  “Roshan” means “light” in Dari and Pashto, the two most widely spoken languages in the country. For the people of Afghanistan, Roshan brings a promise of trust, friendship, cooperation and hope for the future necessary in bringing the country out of a troubled past into a bright future. Roshan is the largest private employer in Afghanistan.

Job Description:
Department: Information Technology

Job Location : Kabul
Job Title: Director, IT Planning and Solution
Reports To: Chief Technology Officer
Job Purpose: Meet the business objectives of the organization through streamlined IT operation. The Director, IT Planning and Solution will plan, coordinate, direct and design IT-related activities of the organization, as well as provide administrative direction and support for daily operational departments to identify, recommend, develop, implement and support cost-effective technology solutions and tools for all aspects of the organization. The Director, IT Planning and Solution will also define and implement IT policies, procedures and best practices.

dst… (Responsibility, Qualification, Competence, Renumeration)

######################

whiiiiw…. emang sih ini bukan kali pertama ada email nawarin suatu posisi berdasarkan profil di jejaring sosial LinkedIn-ku. Tapi yang sebelumnya sih paling top nawarin posisi manager di suatu perusahaan multinasional untuk tingkat Asia Pasifik. Nah yang ini, nawarin posisi Direktur IT Planning & Solution, di suatu telco (telecommunication operator). Terlepas bahwa posisi ini lokasinya di Kabul, Afghanistan, negri yang tercabik oleh perang yang berkepanjangan.  Pastinya, perlu nyali sekuat baja untuk apply ke posisi ini.

Ada tiga jejaring sosial yang aktif kuikuti saat ini, yaitu twitter, facebook dan LinkedIn. LinkedIn apaan sih? LinkedIn adalah situs web jaringan sosial yang berorientasi bisnis, terutama digunakan untuk jaringan profesional. Oh ya, LinkedIn ini listing di New York Stock Exchange loh. Disitu kita bisa posting curriculum vitae kita, pendidikan, pengalaman kerja, kompetensi, juga pengalaman organisasi. Posting di LinkedIn ini cenderung ‘jaim’ memang. Beda dengan twitter dimana kita bisa berkicau seenak hati sepanjang tak lebih dari 140 karakter, ataupun facebook yang bisa narsis dengan background menara Eiffel, patung Liberty, menara Pisa atau lonceng Big Ben.

Seringkali ada email notifikasi update dari LinkedIn bahwa seorang kenalan profesional network telah berganti job title atau malah telah pindah perusahaan. Indikasi ini nunjukin bahwa member LinkedIn cukup aktif memelihara kemutakhiran profilnya. Oh iya, baru beberapa hari yang lalu ada informasi bahwa member LinkedIn di Indonesia tembus angka 1 juta dan secara global, 150 juta. So pasti headhunter yang kirim email tadi pasti telah melakukan filtering untuk dapat long-list email broadcast calon kandidat Direktur IT sebelum seleksi administratif menjadi short-list.

Satu hal yang pasti, ” I Pass” this offering. Nyaliku tak sekuat gatotkaca untuk berada di Kabul. Meski dalam hal kompetensi, skill dan knowledge kurasa cukup memadai untuk ikut berkompetisi. Ada dua sertifikasi internasional atas kompetensiku yang tersimpan rapi dalam laciku. Dan posisiku yang setingkat senior manager juga menjadi salah satu prasyarat kandidat Direktur IT Planning & Solution itu. Satu hal lagi, masih ada ikatan dinas tiga tahun lagi yang harus kujalani setelah Perusahaan membiayaiku kuliah S2. Hal terakhir dan terpenting, berada di tengah keluargaku sekaligus mengunjungi ayah-ibuku seminggu sekali adalah prioritas tertinggiku.

Destiny - chestofbooks.com

Nah, terlepas bahwa invitation to compete tadi kulewatkan begitu saja, dalam hal seseorang bisa menempati suatu jenjang posisi tertentu dalam karirnya, ada kaidah yang kuyakini berdasarkan pengalamanku sendiri. Kaidah ini sebut aja ABCD, terdiri dari Attitude, Brain, Chance, Destiny. Dan berada di Kabul sebagai Direktur IT Planning & Solution perusahaan telekomunikasi terbesar Afghanistan tak masuk dalam mimpiku, ataupun ABCD-ku. ABC saja mungkin iya, tapi hati kecilku menolak untuk menarik D melengkapi ABC tadi. Dan tanpa lengkapnya ABCD, berdasarkan pengalamanku sendiri, mustahil suatu posisi dalam karir dapat diperoleh.

Bagaimana menurutmu?





Semangat pagi !

7 11 2011

Senin pagi ini heboh sekali. Setelah badan setengah remuk redam karena menjadi panitia Iedul Qurban hari Minggu kemarin, praktis nggak ada waktu rehat yang cukup menghadapi hari kerja senin ini. Penyembelihan dan pemrosesan 7 sapi dan 7 kambing, dengan sekitar 700 kantung daging yang disediakan untuk siapapun yang meminta; merupakan rekor baru di mesjid kami. Alhamdulillah, setiap tahun semakin tinggi saja semangat berkurban warga di sekitar mesjid kami. Menjadi koordinator pencacahan dan pembungkusan daging merupakan tanggung jawab yang tidak ringan. Terlebih harus turun tangan sendiri juga untuk merecah daging dan memotong iga dengan mesin potong.

Bangun pagi ini diawali dengan pijatan istri tersayang yang sepertinya paham betul kondisi suaminya, yang merelakan ritual sabtu pagi bermain bola demi persiapan Iedul Qurban. Di usiaku yang menjelang 40 tahun, tidak berolahraga berimplikasi langsung pada kebugaran. Ada sesuatu yang kurang, dan itu pastinya pengaruh dari tidak terpacunya adrenalin di sabtu pagi kemarin karena absen dari lapang bola UPI di Setiabudi Bandung.

Sadar bahwa mobil belum dicuci, serta merta kulangkahkan kaki menuju garasi, ritual senin pagi untuk sekedar melap mobil agar pantas dipakai dan tidak terlalu kotor. Tiba-tiba si sulung berteriak, ” Pa cepetan ada upacara, ini motor juga nggak mau nyala, tolongin !”. Sejenak kuhentikan prosesi mandi kucing mobilku, dan kulihat apa yg terjadi dengan motornya. Dengan sekali kick starter, motor pun menyala. Emang udah dua hari nggak dipake motor itu, pantes aja electric starter nggak mempan.

Si jagoan sudah siap ketika prosesi mandi kucing mobil belum sepenuhnya selesai. Waktu ternyata berlalu begitu cepat. Kupaksakan selesai saja bersih-bersih mobil ini, dan siap mengantar si jagoan ke ujung jalan untuk dia lanjutkan sendiri dengan angkot ke sekolahnya. Kembali ke rumah, si sulung udah komplen lagi, “Pa ayo dong cepetan !”. Ternyata udah jam 06.05. Wah gawat. Alamat gak sempat sarapan ini. Pemecahan rekor mandi pun terjadi, jam 06.10 ku sudah bersiap berangkat. Setelah cium kening si bungsu keriting dan istri tersayang, ku berangkat menjemput si sulung di tempat parkir motornya untuk selanjutnya ke sekolah. Thank God, masih on time, meski sebagian besar temannya sudah berbaris. Setidaknya dia tidak dihukum jalan jongkok karena terlambat.

Sampai kantor, lapar mulai terasa. Secangkir kopi hitam sudah diantar si Acuy. Tapi karena masih sayang perut, kuacuhkan saja. Teringat bahwa hari ini deadline kontribusi premi asuransiku. Sekalian aja bayar premi asuransi di ATM depan kantor, sekalian cari sarapan di sebelah gedung kantor. Pengalaman pertamaku sarapan di sebelah kantor ternyata, setelah 6 tahun bertugas di kantor ini. Sesaat sebelum masuk ruang ATM, ada seseorang yang berkata, ” Semir Pak ?”. Kuabaikan saja sambil menggeleng dan tersenyum tanpa memandang muka si penjual jasa.

Beres urusan di ATM, kulanjutkan langkah kaki ke sebelah kantor cari sarapan. Kulewatkan saja pengemis di depan ATM. Ku punya pertimbangan sendiri untuk tidak memberi pada pengemis. Kusapukan mata melihat apa aja pilihan yang tersedia. Ada bubur ayam, tapi penuh sesak kursinya. Second choice, kupat tahu, masih tersedia seat available. Ku-order saja dan duduk manis menunggu. Tak lama datang sepiring kupat tahu pesananku. Porsi dewasa betul. Tapi ada yang kurang, gak ada sambelnya. Dan gak ada juga sambel di meja.  “Kang ada sambel?”, kutanyakan saja saat teh panas diantarkan.  “Ada”, jawabnya singkat, dan diambilnya wadah sambel dari gerobaknya. Ternyata sambelnya shared resource, mungkin efisiensi wadah, tapi risikonya wadah itu bolak-balik dari meja ke gerobak. Kalau saja terjatuh, habis sudah sambel hari itu.

Sambil makan kuperhatikan ada seseorang yang membawa tas ransel dan menenteng sandal di seberang jalan. Sebagian rambutnya beruban. Perawakannya mengingatkanku pada temanku yang berasal dari kawasan timur Indonesia. Ranselnya disangkutkan di pagar kantor. Aku mulai mengira apa yang akan dilakukannya. Selanjutnya dia mulai berjalan ke arah tenda kupat tahu. “Semir pak? Murah empat ribu dan awet”. Oh, ternyata dia toh tukang semirnya. Sekali lagi ku menggeleng. Kuingat hari ini sepatuku memang belum disemir. Ada Kiwi instan di mobil, tapi rusuhnya hari ini membuatku lupa menyemir. Besok saja kusemir sendiri, pikirku. Dia bergerak ke warung sebelah, tak satupun pembeli yang merasa perlu menyemir sepatunya.

Dia kembali ke seberang jalan, tak terlihat wajah putus asa di wajahnya. Setiap orang lewat ditawarinya jasa semir sepatu. Kukagumi kegigihannya. Kukagumi keyakinannya untuk mencari rezeki dengan cara halal. Banyak pengamen kalau siang di sekitar tempat ini, tapi tidak juga dilakukannya. Pengamen lebih sering menjadi pengganggu daripada penghibur. Empat ribu rupiah mungkin tak ada artinya buat karyawan yang berkantor di seberang jalan ini. Tapi menyediakan jasa semir di saat Kiwi instan sudah tersedia? Anganku melayang jauh. Kucoba menebak apakah dia punya istri dan anak? Makan apa dia dan keluarganya hari ini? Apakah anaknya, kalau ada, bisa sekolah?

Selesai makan kupat tahu kubayar harganya. Tujuh ribu rupiah. Lebih mahal dua ribu lima ratus rupiah dari langgananku di rumah. Who cares? kubayar saja. Melangkah keluar, masih berpapasan dengan tukang semir yang sudah kembali ke sekitar. Kali ini Dia tak menawariku lagi.

Justru aku yang bertanya. “Semir ya bang?”.

“Iya Oom”, jawabnya. Melihat raut wajahnya, dia mungkin sedikit lebih tua dariku. Kuabaikan saja panggilan yang menyebalkan itu.

“Berapa?” kutanya lagi berlagak nggak tau.

“Empat ribu Oom”, jawabnya.

“Dimana ya?” tanyaku lagi.

“Di situ aja Oom”, jempolnya menunjuk ke seberang jalan dimana tas ranselnya tergantung dan tersedia bangku besi panjang. Cara sopan adat ketimuran untuk menunjuk. Bule pasti nggak bisa. Ah males aja nangkring di pinggir jalan di pagi hari. Capek senyum karena sejawatku pasti banyak yang lewat.

“Saya tunggu di sini aja ya”, sambil melangkah kembali ke dalam tenda kupat tahu yang kosong sekarang.

Dengan sigap dia mendekat, dan menyiapkan sandalnya untuk kupakai. Samar terdengar “Bismillah” dari lisannya ketika menyodorkan sandalnya. Awal yang baik, kupikir. Dia mengambil sepatuku dan berjalan ke seberang ke workshop sepatu dadakannya. Selanjutnya dia membongkar tasnya, mengambil beberapa peralatan semirnya. Kulirik jam di HP-ku, karena hari ini ku lupa pakai jam tangan, saking buru-burunya. Jam 7.40. Masih 20 mnit sebelum jam kerja resmi dimulai. Toh aku sudah absen online, pikirku.

Tekun dengan keterampilannya

Kuperhatikan dari jauh, cara menyemir yang agak aneh. Jauh dari yang kubayangkan. Mula-mula sepatuku dilapnya. Kemudian dikeluarkannya semacam spidol besar, dicelupkan ke tutup botol yang sudah diisi cairan dengan hati-hati, dan mulai menotolkan spidol besar tadi ke beberapa titik sepatu. Selanjutnya dia menyikat sepatuku dengan sikat gigi. Berulangkali dan bergantian antara sepatu kiri dan kanan. Benar-benar cara yang aneh untuk menyemir sepatu. Terserah deh, kupikir.

Untuk membunuh waktu kubuka HP cina Androidku, dan kuaktifkan Angry Birds. Pembunuh waktuku yang paling efektif. Sambil bermain ku coba berpikir apa yang mendasari angka empat ribu untuk jasa semir itu? Berapa sepatu yang bisa dia semir sehari? Hal-hal yang sebelumnya tak pernah kupikir. Kalau semirnya memuaskan, selembar uang berwarna hijau akan kuberikan. Kalau tidak, empat ribu lah harga jasa semir itu, sesuai dengan kesepakatan. Dia sendiri yang menentukan.

Akhirnya selesai juga semir itu. Hasilnya tak membuatku puas. Malah tak terlihat seperti habis disemir. Kuserahkan empat ribu yang menjadi haknya. Tetap saja, kukagumi semangatnya untuk bekerja dengan cara yang halal. Semangat Pagi !





Kendalikan tugas-tugas kita dengan kalender gratisan

7 09 2010

Baik Amber maupun Celestin menekankan perlunya kendali atas rencana aktivitas harian kita (lihat Peningkatan Produktivitas dan Perbaikan Diri) . Terlebih bila kita mempunyai multiple tasks, dan terkadang ada ‘badai’ berupa kerjaan ekstra dari bos yang dilabeli ‘highest priority’.

Pastinya banyak cari untuk mengorganisasikan aktivitas kita. Google menyediakan fasilitas kalender yang dapat digunakan dengan gratis. buka saja calendar.google.com dan loginlah dengan akun google. Kita langsung dapat mengorganisasikan tugas-tugas, membuat list tugas-tugas, bahkan membagi kalender kegiatan kita ke rekan kerja. Selain itu, dengan melakukan entry di kalender ini, kita bisa melakukan review apa saja yang sudah kita kerjakan dalam suatu waktu tertentu.  Jadi berfungsi semaca log book pribadi. Manfaatnya jadi lebih terasa manakala kita harus membuat laporan mingguan atas kegiatan kita.

Sudah cukup lama fasilitas kalender google ini kupakai, dan mulai terasa ketergantungan atasnya. Situs inilah yang pertama kali dibuka saat laptop mungilku menyala di pagi hari. Pastinya seharusnya kalender ini bisa dibuka juga di ponselku, tapi browsing di ponsel masih belum menjadi aktivitas menyenangkan buatku. Dibanding dengan browsing dg ponsel, lebih baik kubuka laptop mungilku dan kutancapkan flash untuk online. Entah kalo nanti sudah ada ponsel dg layar segede gaban dan nyaman buat browsing, mungkin ku-entry kalender google dari ponsel.





Peningkatan Produktivitas : Program 12 Langkah

26 02 2010

Oleh Amber Singleton Riviere Feb. 23, 2010, 9:00am

Versi orisinil dapat dibaca di sini : Webworkerdaily

Produktivitas seringkali amat sulit untuk didefinisikan dan dicapai. Terkadang amat sulit untuk menentukan prioritas, mengelola beban kerja dan tetap fokus. Namun dengan beberapa langkah sederhana dan disiplin yang cukup, kamu sudah berada dalam jalur yang benar untuk memiliki kontrol atas hari-harimu.

  1. Rencana akhir. Produktivitas untuk hari esok dimulai hari ini. Tetapkan waktu untuk meninggalkan kantor dan tepatilah. Satu jam sebelum waktu yang ditetapkan, nyalakan wrap-up alarm untuk mengingatkanmu untuk memulai meringkas kegiatan hari ini, suatu tip penting dari guru organisasi dan produktivitas Julie Morgenstern di bukunya, “Never Check E-Mail in the Morning”.
  2. Rencana esok. Tentukan keinginan dan prioritas-prioritas untuk besok di jam terakhir dari hari kerjamu untuk memastikan kau mampu melakukan aktivitas baru dengan berhasil.
  3. Tentukan batasanmu. Sesaat sebelum pulang, matikan komputer (sepenuhnya, sehingga kamu tak berusahan untuk mengecek email lagi), matikan lampu, dan tutup pintu. Jangan pernah kembali sampai waktu kerja besok.
  4. Hormati rutinitas tidur. Dua atau tiga jam sebelum pergi tidur, mulailah suatu rutinitas untuk relaksasi. Proses ini berbeda-beda untuk setiap orang, tapi ini bisa termasuk : tidak ada telepon atau hubungan dengan dunia luar (kecuali darurat, tentu saja), tidak ada pembicaraan tentang pekerjaan, pergi mandi, secangkir the panas, bacaan ringan, menulis jurnal, tidak nonton TV, dan matikan lampu pada jam tertentu.
  5. Mulai harimu dengan benar. Bangunlah pada waktu yang sama. Berolahraga atau yoga selam 15-20 menit, kecuali kamu punya waktu olahraga rutin yang lebih disukai. Makanlah sarapan sehat (jangan tinggalkan ini, karena ini mempengaruhi level energimu sepanjang hari). Tentukan target hari ini dengan benar dengan terlebih dahulu mengurusi kebutuhan fisikmu.
  6. Pelihara batasanmu. Jangan pergi ke tempat kerja dengan langsung memeriksa email atau berita. Kamu akan berada di depan komputermu sepanjang hari.  Ambilah waktu untuk dirimu dan prioritas-prioritas lain, atau hal itu tidak akan pernah terlaksana, terlebih selepas jam kerja. Minumlah secangkir kopi, menulis jurnal, membaca, atau pergi berjalan. Gunakan beberapa saat sebelum kamu melompat menuju jam kerja.
  7. Hindari atau batasi waktu email. Hindari mengecek email segera setelah kamu tiba di kantor, atau paling tidak batasi waktu selama 15 menit saja membaca email, sehingga tidak mengganggumu dari tugas-tugas penting. Email adalah pelahap waktu yang besar, jika kau tidak mengontrolnya, dia akan mengontrolmu.
  8. Hindari atau batasi baca berita atau jejaring sosial. Ini adalah pelahap waktu lain yang sangat mudah mengganggu prioritas-prioritas lain. Tentukan waktu spesifik untuk membaca berita, dan kemudian tekunlah untuk tetap terhindar dari gangguan-gangguan.
  9. Mulailah dengan daftarmu. Mulailah dengan daftar target dan prioritas yang telah kau tentukan kemarin. Kamu mungkin lebih fokus dan jujur tentang apa perlu menjadi perhatianmu ketika kamu merencanakannya dengan pikiran jernih. Pertama kali di pagi hari, sangat mudah untuk muncul keinginan menunda atau memberi penekanan lebih pada tugas-tugas mudah dan daftar kerja.
  10. Periksa secara rutin. Tentukan alarm setiap satu atau dua jam. Jangan biarkan dirimu terlalu jauh dari target dan prioritasmu. Jika kau jauh menyimpang dari target dan prioritas, setidaknya kau tidak akan kehilangan banyak waktu untuk segera kembali kepada target dan prioritas.
  11. Bekerja secara blok. Dalam bisnis, seringkali muncul tipe pekerjaan yang amat bervariasi. Mungkin termasuk menangani klien, menulis dan mempubilkasikan, atau pekerjaan terkait pemasaran yang harus dilakukan. Lakukan pengelompokan tugas ini dalam penjadualan blok waktu, misalnya dua atau tiga jam.
  12. Tetap disiplin. Ketika kamu menyelesaikan suatu tipe pekerjaan tertentu, misalnya menangani seorang klien, jangan kembali memegang pekerjaan itu sampai waktuyang ditentukan dalam blok waktu tiba. Sangatlah mudah untuk tergoda melakukan ‘satu hal lagi’ di suatu proyek tertentu, khususnya bila klien melakukan feedback email sepanjang hari. Perlakukan tiap blok waktu dengan prioritas yang sama, baik untuk penanganan klien sekarang maupun prospek klien baru. Amatlah penting untuk memelihara keseimbangan antara pekerjaan sekarang dan prospek masa depan, sehingga fluktuasi pendapatan dapat diminimalisir.

Tetap berada dalam jalur  tidaklah selalu mudah. Seringkali, gangguan datang untuk meminta perhatian, dan tenggat terlewati, membuatmu merasa tertarik ke seratus penjuru arah dan tidak mampu menangani tugas-tugas. Namun demikian, dengan pendekatan tujuan dan disiplin terhadap tugas, penyelesaian pekerjaan menjadi jauh lebih mudah dan kamu akan merasa puas dengan pencapaianmu.

Langkah apa saja yang kau ikuti setiap hari untuk tetap dalam jalur dan produktif?