Going the extra miles

7 06 2012

Berawal dari sebuah tweet mention Rania aciL Fardyani@raniaacil : inget law of attraction yg dceritain pak @_rizal_, akhirnya saya nempelin foto impian”saya dcermin lemari jd pas bgn tidur lgsg ngeliat (:

Yang membuatku tertegun adalah bahwa coretan sederhanaku ternyata bisa memberikan inspirasi bagi seseorang. Kalo ada waktu, liat deh impian Acil yang keren ini. Setiap orang pasti punya impian. Kumpulan impian ini yang menjadi kompas hidup kita. Jujur kuakui, bahkan merumuskan impian kita sendiri bukan perkara mudah. List 101 impianku, bahkan belum selesai sampai detik ini. *keringetan*. List yang belum selesai ini juga harus udah diupdate karena satu demi satu impianku ‘keburu’ terwujud.

Sudahlah merumuskan impian aja nggak gampang, mewujudkannya apa lagi. Bottomline-nya, perlu ada belief-keyakinan kuat, usaha kuat, dan doa kuat, agar impian kita satu demi satu terwujud. Sebagai salah satu bagian dari usaha yang kuat, mereka yang udah baca novel Negeri 5 Menara-nya Anwar Fuadi pastinya ingat petuah di PM, Going the extra miles.

Going the extra miles tidak dimaksudkan literally. “Berjalan lebih jauh beberapa mil”, harfiahnya. Bermakna berupaya lebih tekun, lebih keras dan lebih baik dari orang lain.  Selalu berusaha menjadi bagian dari segelintir extraordinary performer. Tidak sudi hanya menjadi pengisi bagian terbesar kurva normal, di pusat rata-rata. Apalagi underperform, itu sama aja aib besar.

Dan going the extra miles ini bisa diterapkan di peran apapun yang kita punya. Sebagai seorang buruh teknologi informasi, diriku berusah berbeda dari buruh lainnya. Differentiate or die, Jack Trout menggunakan terms yg ekstrim. Kalo diriku tidak punya kelebihan dari yang lain, bagaimana mungkin diriku berharap karirku sebagai buruh bisa lebih baik? Dua sertifikasi IT internasional sudah kugenggam, mimpiku berikutnya adalah menjadi Doktor IT pertama di tempatku bekerja. The next extra miles ahead.

Sebut setiap peran, dan pasti bisa kita define extra miles yang sekiranya pas untuk peran itu. Sebagai istri? jadilah chef terbaik yg pernah dicicip masakannya oleh suaminya, kalahkan Farah Quinn kalo bisa. Extra miles-nya? ikut kursus memasak, beli buku resep, tonton acara kuliner.  Jadi Suami? Jadilah pria paling romantis dan setia di muka bumi,kalahkan Pak Habibie kalo bisa. Jadi Ayah ? jadilah model ayah terbaik yang pernah dilihat oleh anak-anaknya. Jadi bos? jadilah leader yang terus dikenang staf sepanjang karir mereka sebagai bos terbaik yg pernah ada di tempa kerja. Jadi mahasiswa? IPK diatas 3,9.  Long list to come.

Extraordinary Miles lead to Extraordinary Assignment

Sebulan yang lalu, sejarah baru tercipta. Seorang Top Executive Telkom dengan jabatan terakhir VP IT Strategy & Governance – P Judi Rifajantoro, *atasan langsung saya, ehm*,  resmi dilantik sebagai Direktur Pengembangan Bisnis dan Manajemen Risiko PT. Garuda Indonesia. Singkat cerita, kepercayaan extraordinary sebagai Direktur yang membawahi IT di Garuda pada personil Telkom adalah karena P Judi telah dengan tekun melakukan extra miles-nya. Dengan going the extra miles, nggak ada yang nggak mungkin. Bahkan untuk menciptakan sejarah sekalipun.

Jadi, siap untuk going the extra miles, kawan ?

Iklan




Till death do us part…

8 03 2012
Bagian sedihnya :
Tumben, dinihari itu diriku berhasil mengalahkan segala hantu belang yang menghalangi antara niat baikku untuk bersujud di sepertiga malam akhir dengan salah satu hobby-ku yang satu ini : tidur ! Kerja keras dua alarm yang berbeda waktu kali ini memberikan hasil membuatku terbangun di dinihari yang dinginnya menusuk tulang itu.
Memang paginya diriku harus berangkat ke Jakarta, ke Kementrian Badan Usaha Milik Negara, untuk sharing apa saja yang sudah kami lakukan untuk memastikan teknologi informasi memberikan manfaat maksimal untuk kelancaran bisnis, ke perwakilan dari 15 BUMN lain.
Bermunajat di keheningan malam memang sangat nikmat. Karena udah kadung bangun, kunyalakan netbook mungilku, sekedar untuk memeriksa  kalau ada informasi penting yang perlu kutindaklanjuti. Dan diriku pun tersentak membaca email yang baru saja tiba. Email yang terkirim menembus dingin dan gelapnya malam :
From: Mochtar Arief <xxxxx@telkom.co.id>
Date: Thu, 1 Mar 2012 01:37:30 +0700
To: <xxxxx@telkom.co.id>
Subject: [FAST] BERITA DUKA
innalillahi wainnailaihi rojiun, turut berduka atas meninggalnya rekan kita AAS MAESYANURDIN, pada hari Rabu 29/02/2012 sekitar jam. 22.15.
Semoga allah menerima amal ibadah beliau dan keluarga yg ditinggalkan diberikan ketabahan.
Aminnn…………
==========
Email yang pendek. Perlu dua kali kubaca email ini untuk memastikan bahwa yang terproses di pikiranku sama dengan yang tertulis. Akhir-akhir ini memang banyak email berita duka meninggalnya bapak si anu, ibu si anu, tapi hampir tak pernah yang menjadi subyek adalah rekan kerjaku, yang terakhir ku temui seperti masih sehat wal afiat. Seorang sundanese tulen yang setiap bertemu diriku selalu menyapa ramah : “Kumaha kang, damang?,” dengan senyumnya yang sangat khas.
Memang almarhum bukan yang pertama meninggalkan dunia dari teman seangkatanku kuliah di kampus STTTelkom Dayeuhkolot di tahun 1991 yang berjumlah seribu orang. Hampir seluruhnya yang telah meninggal disebabkan oleh penyakit berat, seperti kanker darah dan tumor otak. Hanya satu yang meninggal karena kecelakaan lalu lintas. Belakangan kutau ternyata almarhum meninggal karena kanker paru-paru ganas.
Ketika pagi menjelang dan diriku bersiap berangkat ke Jakarta, kuceritakan hal ini kepada sang dokter, istriku tercinta. Dijawabnya enteng “Pasti TBC, tingkat prevalensinya tinggi sekali di negeri kita. Malah kadang kupikir aku pun akan mati karena TBC”. Kagetlah diriku, “Hei, bicara apa say? Tugasmu menjaga anak-anak kita bila diriku telah tiada, bukan sebaliknya !”. Diriku emang tipikal lelaki, egois. Bahkan mati pun pingin duluan dari istriku.
Till death do us part. Kematian rekanku itu telah memisahkan dirinya dan seribuan teman seangkatannya. Dan tentu saja, antara dirinya dan keluarganya.
Bagian senang dan kocaknya:
Hari masih pagi. Keriuhan terdengar di ujung ruangan. Karena keterpaksaan, kandang tempatku kerjaku malah jadi kotak di pojok tengah yang nggak punya visiibility bagus ke seluruh ruangan besar 15x25meter ini. Seorang rekan kerjaku menjadi berubah menjadi messenger dan berjalan cepat sambil berkata “Cepetan pak, nanti kehabisan”. Pikirku: “Wah ada apa ini pagi-pagi udah heboh?.”

Kue Tart Hari Ultah Pernikahan - Green Tea

Kuhampiri pusat gempa lokal itu. Ternyata ada dua kue tart telah tersedia. Seorang rekan kerjaku membawa dua kue tart itu, satu untuk ulang tahunnya. Satu lagi untuk ulang tahun pernikahnnya yang ke-18. Tanggalnya sama persis. Wah, milih tanggal nikah aja pilih nomer cantik gini. Pantesan heboh, dan karena bingung antara harus nyanyi atau pidato, akhirnya diputuskan kuenya langsung disikat saja tanpa basa-basi kecuali ucapan selamat kepada yang berhajat.
Hm. 18 tahun. Pastinya bukan waktu yang singkat. Diriku masih terpaut dua tahun di belakang Pak Kumis Ganteng yang hari itu berulang tahun pernikahan. Pertanyaan sederhana dari mbak Ely membuatku sejenak bertanya pada eyang Google tentang hari ulang tahun pernikahan ini. Ternyata urutannya yang diadopsi di banyak negara adalah : ke-5 kayu, ke-10 Timah, ke-15 Kristal, Ke-20 Keramik, Ke-25 Perak, Ke-30 Mutiara, Ke-40 Rubi, Ke-50 Emas, Ke-60 Berlian. So Pak Kumis Ganteng sepantasnya dapat hadiah porselen cantik. Di Amerika Serikat dan Australia, pasangan yang merayakan ultah pernikahan ke-50 mendapat kartu ucapan selamat  dari Presiden / Perdana Menteri.
Dimulailah keceriaan pembantaian dua kue itu, satu rasa cokelat, dan satunya rasa green tea. Enak abis. eh, salah. Wueeeenak. Jauh lebih enak, karena gratis. Dan tugas berikutnya adalah membuat reminder di kalender supaya tahun depan momen ini tidak hilang. Kami harus berbaik hati mengingatkan beliau bila waktu ultahnya udah dekat :D.
Lalu muncullah sebuah teka-teki tentang pernikahan. “Apa yang membedakan antara akta nikah dengan KTP, Kartu Keluarga, SIM, STNK, Visa, dan Paspor?”. Pertanyaan sederhana ini ditujukan kepada yang empunya hajat. Setelah berpikir keras dan menghabiskan lagi beberapa potong kue *yah, makannya lebih keras dari mikirnya*, dia menyerah.
Jawabannya adalah : expiry date. Tak ada tanggal kadaluarsa atau masa berlaku di akta nikah.
Ceritanya  ada seorang suami yang sibuk membolak balik buku akta nikahnya yang udah sangat kucel. Istrinya yang memergoki kelakukan suaminya bertanya : “Kenapa mas, inget masa bulan madu kita ya?. Baru 18 tahun yang lalu lho. Mau ngajak bulan madu ke tujuh ya mas?”. Suaminya menggeleng, “Kayaknya ada yang salah di surat ini. Surat-surat yang lain ada masa berlakunya. Yang ini kok nggak ada ya…?”. Kompryaaang…segala macam benda tiba tiba berhamburan dan berterbangan 😀
Bagian akhir:
Once upon a time, White Lion pernah bersenandung dengan syahdu :

As we walk the golden mile.
Down the pretty aisle. I know that you are mine.
And there’s nothing in this world.
That I know I wouldn’t do. To be near you everyday.
Every hour every minute.
Take my hand and let me lead the way.
All through your life. I’ll be by your side.
Till death do us part.

Suatu pernikahan, memang selayaknya berakhir dengan kematian, bukan karena tanggal kadaluwarsa. Bukan karena till debt do us part, karena masalah ekonomi. Bukan pula karena till bed do us part, karena perselingkuhan. Tapi terpisahkan oleh kematian.

Jadi apa citamu : perak, emas, atau berlian ?





Monkey Love

1 02 2012

“You have to learn the rules of the game. And then you have to play better than anyone else.” Albert Einstein.

This is a short story about my life. my game.

The following took place between Friday 10.00 AM to 02.00 PM, sometime in January 2012. (and of course, this has nothing to do with The 24 series 🙂

I’ve just arrived at my desk. Then I logged in to corporate systems, and the world, through my tiny netbook. I clicked on online presence control. Yes, we are not a military institution, but we try to implement some basic disciplines rules. The online presence control will keep my check-in and check-out time at the office. Can I do it remotely, out of office? Nope. Simple IP checking ensure that anyone that click on the system is indeed inside the office during the process. I heard that the system could be cracked and someone could do it remotely. What a silly idea. Why bother and wasting energy to do such cracking-hacking activity. The company won’t cut our salary based on this presence system anyway.

[sorry, auto translation system cracked into this post and take over the rest of the story :D]

Aktivitas rutinku adalah setelah login, cek email, cek tugas-tugas atau disposisi dari Bos, dan cek agenda hari ini. Setelah itu buka kompas.com, detik.com dan twitter. Di saat bersamaan, barista andalan kami, kang Wahyu mengantarkan secangkir kopi hitam dan segelas besar air mineral.  Masih 3o menitan sebelum jam kerja resmi kantor dimulai. Masih ada waktu untuk menyelinap sejenak ke musholla kecil di sebrang toilet untuk menunaikan shalat dhuha. Kebiasaan kecil dan ringan yang sudah mendarah daging. Sejenak berkontemplasi bahwa diriku tak ada artinya tanpa daya upaya dan kuasaNya.

Kembali ke laptop. Terbersit untuk mencari tau apa yang dipikirkan oleh putri sulungku. Terlahir di keluarga besar dengan 6 bersaudara, sepertinya ayah ibuku dulu sibuk bekerja keras membesarkan kami berenam. Komunikasi internal keluarga adalah hal yang bukan menjadi keahlianku. Aku tak biasa (*nyanyi). Kami terbiasa struggle menghadapi masalah apapun sendiri. Cenderung introvert memang. Kucoba berubah lebih terbuka kepada keluargaku. Tak pernah mudah. Seperti harus re-coding DNA.

Dan sekarang ada hingar bingar social media yang ice breaking gagap komunikasi ini. Meski tak interaktif. Minimal kutau apa yang dilakukan saudara kandungku nun jauh di ujung timur pulau Jawa dan di ujung barat benua Afrika. Silent communication. Dan putri sulungku cukup aktif berkicau di twitter. Jadilah aku pendengar setia kicauannya. I followed her. But not vice versa :D.

Selanjutnya kuarahkan kotak pencari twitter dan kutuliskan akun putri sulungku. What a surprise. I think she is in love. Sebagai certified IT auditor, kulakukan pelacakan, audit trail, cross check seluruh eviden. Sampai kutemukan juga siapa ‘pacar’nya. Tak berhenti di situ. Kulakukan juga asesmen seperti apa anak laki yang berani mati berurusan dengan putriku. Surprising seberapa terbuka kita saat ini dengan social media. Hobi anak itu, kesehariannya, jalan pikirnya, fans tim mana, semua dia (dan kita?) publikasikan ke seluruh dunia lewat social media. Termasuk tanggal berapa mereka jadian, belum lewat seminggu yang lalu ternyata.

Isi kepalaku berputar keras. Processor besar di dalam batok kepalaku melakukan berbagai what-if scenario atas cinta monyet ini. Memory recall juga kulakukan ke waktu lebih dari 25 tahun yang lalu, saat diriku masih bercelana pendek biru di jalan sumatera 40 Bandung. Apa yang kulakukan saat itu? Ngobrol di teras sekolah pulang sekolah. That’s all. Anak ABG saat ini? Istilah ‘sange’ pun mereka paham. Ngeri. Kulakukan juga benchmark ke teman-teman kantor yang sudah punya anak ABG. Bagaimana mereka deal dengan hal seperti ini? Menyelesaiakna urusan cinta mnyet ini seperti permainan game, dan kalah bukanlah pilihan.

Akhirnya kudapatkan case study dari salah satu teman di kantor. Bahwa ABG akan protes bila dilarang pacaran. Referensinya adalah ayah ibu mereka sendiri. Emang ayah ibu dulu nggak pacaran? Anak sekarang emang pinter-pinter. Gizinya bagus kayaknya. Fakta-fakta dapat mereka olah untuk memperkuat argumentasi mereka. Dan tidak bersiap menghadapi fakta-fakta itu sama saja dengan pergi perang tanpa senjata. Pasti habis terbantai.

Akhirnya kudapatkan ‘senjata’ yang cukup untuk berbicara dengan putri sulungku. Kupikir perlu timing yang pas. Ojol-ojol ngajak bicara serius tentang cinta kuatirnya message-nya malah gak nyampe. Timing itu datang juga waktu sang putri bilang sepatu basketnya udah kekecilan, dan sakit kalo dipake. OK, let’s go. Di waktu lunch time kujemput dia untuk pergi ke toko olahraga.  Bukan urusan gampang cari sepatu basket yang feminim. Basket sepertinya memang olahraga yang didominasi cowok, model sepatunya aja kali ada 98% buat cowok, sisanya buat cewek, dan ditaruh di tempat yang paling tidak strategis. Setelah melongok ke Sport Stations, Nike, Adiddas, balik lagi ke Sport Stations di mall yang berbeda, akhirnya ditemukan juga sepatu basket yang fit dengan selera si putri sulungku.

Cinta Monyet - pimpmyspace.org

Saat pulang, kubelokkan putriku ke counter JCo. Kuajak beli beberapa donut, dia pilih satu jenis minuman dan kupilih kopi. Perlu waktu menunggu pesanan siap. Good. Kuajak ke salah satu meja. Setelah duduk, langsung saja kuajak bicara serius.

“Papa tau soal si Gading (bukan nama sebenarnya, red)”, kataku. Dia membelalakkan mata. Tak siap untuk diajak bicara tentang hal itu.

“It’s just too fast. You gave your heart to easily…” kataku lagi. Ngetes apakah Kumon English Level H-nya menyisakan bekas di otaknya.

“Mau papa yang beresin urusan ini, atau mama aja?” kali ini mulai terkokang senjata. Berurusan dengan mamanya, sama aja dengan memulai perang dunia ke-3. Mamanya tak ragu untuk mengaktifkan seluruh sumber daya untuk mewujudkan keinginannya. Darah timur tengahnya yang kental membuat baik diriku maupun si putri sulung tau, apa yang akan terjadi seandainya mamanya tau hal ini dan mengambil alih penyelesaian perkara. Preemptive strike, pastinya. Persis George Bush yang ngawur nyerbu Irak dan Afghanistan. Dan ujung-ujungnya adalah perang berkepanjangan yang entah kapan ujungnya.

“Jangan,” katanya lirih.

“OK, kalo gitu dengerin papa. Ini terlalu cepat buatmu. Percaya sama papa, kau akan temukan orang yang tepat. Tapi pastinya bukan sekarang. Jangan batasi semestamu di sekolahmu sekarang. Akan ada banyak pria yang lebih baik dalam segala hal yang dapat kau pilih. Papa akan membantumu.”  mulailah peluru-peluru kecil meluncur dari lidahku. Mungkin melukai, sedapat mungkin, tidak mematikan.

“Kamu masih mau masuk SMA 2 kan?” Tanyaku lagi. Dia mengangguk cepat. “Bagus. Sekarang kita fokuskan saja energi kita ke situ. Jangan biarkan dirimu menjadi lemah karena urusan laki-laki. Selesaikan hubunganmu dengannya. Move On. Bisa?” Tanyaku lagi. Dia tak menjawab, hanya menganggu lemah.

“Perjalanan hidupnya masih panjang. Raih cita-citamu. Dan kau akan menemukan orang yang tepat suatu saat nanti. Satu hal yang pasti, bukan sekarang !” kataku lagi. Lagi-lagi dia tak menjawab. Sepertinya masih shock dengan serangan fajar menjelang sore ini.

“Maaf Pak, pesanannya sudah siap…,” pelayan JCo memanggil kami tiba-tiba. “OK, saya ke sana.” Jawabku cepat. Kutatap mata putri sulungku. “Jangan kecewakan papa ya,” kataku pelan sambil menyentu pipinya. “Iya pa…”  Jawabnya. Kamipun beranjak pergi ke parkiran di basement.

Sepanjang perjalanan mengantarnya kembali ke parkiran motornya, kukisahkan cerita-cerita rumitnya hubungan pria-wanita. Kuajak dia berpikir tentang kegagalan pernikahan yang terjadi di keluarga besar kami. Juga ketidakharmonisan antara mertua-menantu yang terjadi. Kucoba membuka wawasan putriku bahwa menjadi seorang wanita adalah tugas yang sangat rumit. Dan untuk bersiap menghadapi tugas rumit itu, perjuangan berat menanti di hadapannya. Kocoba fokuskan energi dan pikirannya untuk mencapai cita-cita. Dan kutegaskan bahwa aku sepenuhnya berada selangkah dibelakangnya untuk menggapai cita-citanya.

Cinta monyet ini memang harus berakhir cepat. Itu yang terbaik untuknya. Perjalanan hidupku yang lebih dari 40 tahun meyakinkanku akan hal ini.

 

 





Apa itu Cinta ?

18 01 2012

Kisah ini berawal dari kegusaranku dengan anggota Dewan Perwakilan Rakyat. “Anak-anak TK”, kata Gus Dur Almarhum  ini emang gak habis-habis menontonkan komedi sarkastik. Renovasi ruang rapat pake biaya Rp.20Milyar, renovasi toilet biar ‘gak najis’, katanya, Rp2Milyar. Belum puas, kalender 2012 Rp1,3Milyar. Hey Pak – Bu – Mas – Mbak anggota DPR, uang rakyat itu yang dipakai menggaji kalian. Cucuran keringat kami yang dipotong pajak, yang dipakai untuk membayar semua syahwat duniawi kalian itu ! Hopeless & speechless memang liat kondisi di negeri ‘Auto Pilot’ ini.

Cinta dan Kasih ?

Gak sengaja kulirik kalender di meja. Bulan Januari. Ada gambar yang menarik tentang dua anak kecil yang saling tersenyum dibalik pohon raksasa berdiameter hampir 2 meter. Senyum yang begitu polos. Mereka pasti tak punya kegundahan seperti yg dirasakan orang dewasa. Mereka pasti belum tau manis-pahit kehidupan ini.  Kalender 2012 Telkom Indonesia bulan Januari ini bertuliskan “Ketika cinta dan kasih selalu menyinari hari-hari, itulah dunia yang selalu ada di hati kita”.  Tagline Make a Better World menambahkan penekanan atas optimisme yang begitu kuat akan kehidupan yang lebih baik. Sesuatu yang antagonis dibandingkan dengan keonaran yang dibuat anggota DPR tadi.

Apa itu Cinta ?

Tertarik dengan frasa tentang cinta yang terasa begitu indah dan optimistik, kubuka akun twitter-ku dan kubuat kutipan itu. Tak lupa secara sengaja kutambahkan kata-kata jail sebagai penutup. Tak lama, ada sebuah mention dari tweet ini. Simple saja. “Apa itu Cinta?”.  Siapa penulisnya? Seseorang yang iseng membuat bot dengan akun rbtCinta, melakukan crawling di twitter dengan filter kata “cinta” dan mention setiap tweet yang mengandung kata itu dengan balasan yang selalu sama, “Apa itu Cinta?”.

Bahwa itu adalah bot, pastinya konyol sekali kalau kubalas dengan definisi cinta dalam kurang dari 140 karakter. Ngelesnya begitu. Tapi kupikir lagi, emang apa sebenernya itu Cinta ? Setelah berpikir sejenak, akhirnya kutulis tweet lagi bahwa jujur kuakui, ku tak tau apa jawaban pertanyaan yang sangat sederhana itu.

Tak berarti bahwa ku tak pernah merasakan cinta. Hanya saja yang kurasakan dan kulihat dalam 40 tahun mengarungi bahtera kehidupan ini,  cinta datang dalam berbagai bentuk.

  • kucinta Tuhanku dengan sepenuh harap atas Rahmat dan sekaligus ketakutanku atas murka-Nya.
  • kucinta Rosululloh Muhammad SAW, manusia terbaik yang pernah terlahir di muka bumi.
  • kucinta keimananku dan bersedia untuk menukar nyawa untuk mempertahankannya.
  • kucinta ayah-ibuku dan menjadi prioritas pertama untuk menyenangkah hati keduanya.
  • kucinta istriku, jiwa dan raganya.
  • kucinta anak-anakku, dan tak bisa hilang rasa kuatirku atas masa depan mereka.
  • kucinta negeriku, dan berharap suatu saat kemakmuran negri ini terwujud.
  • kucinta saudara-saudariku, dan kuiringkan doa bagi kebahagiaan mereka di penghujung pintaku pada-Nya.
  • kucinta Perusahaan tempatku bekerja dan berharap tetap memenangkan persaingan yang semakin keras.
  • kulihat cinta kuda pada anaknya yang baru lahir, dan dengan sangat hati-hati diangkatnya kakinya agar tak menginjaknya.
  • kulihat cinta ketika singa berburu dan pulang membawa daging untuk anak-anaknya.
  • kulihat cinta ketika induk merpati meluluh makanan untuk anak-anaknya.
  • kulihat cinta sepasang manusia dari jenis yang sama, berjuang mendapat pengakuan negara sebagai suami istri. *gokilEmang
  • kulihat cinta yang hilang ketika seorang istri minta cerai dari suaminya, atau ketika seorang suami menceraikan istrinya.
  • kulihat cinta yang ternoda ketika seorang ibu mengutuk anaknya, menyisakan buta di kedua mata anaknya.
  • kulihat cinta yang aneh ketika seseorang merekatkan bom ditubuhnya, dan meledakkan diri bersama targetnya.
  • kulihat kepalsuan cinta ketika seorang lelaki menuntut mahkota pacarnya atas nama cinta, dan kemudian meninggalkannya begitu saja.

Jadi, apa bisa disimpulkan apa itu cinta? Rasanya tidak. Pertanyaan “Apa itu Cinta?” sama sulitnya untuk dijawab dengan pertanyaan “Apa itu rasa?”, atau “Apa itu warna?”. Jawabnya bergantung pada apa yang ingin didengar sebagai jawaban, oleh yang bertanya. Dan ketika berbagai jawaban telah diperdengarkan namun belum memenuhi hasrat sang penanya, maka pertanyaan abadi ini tak kunjung terjawab.

salam Cinta.





life begins at forty…

28 12 2011

“Jai, Bu Palal meninggal”, kata Bapak waktu saya melakukan ritual visit mingguan ke rumah tempat saya dibesarkan.  Saya merenung, 24 tahun saya menempati rumah itu, dan seharusnya mengenal semua orang tetangga, terutama yang sering menyambangi mesjid. Hasilnya, Error 404 ! File Not Found !. Saya sama sekali gak inget siapa itu Bu Palal. Susah payah Bapak menjelaskan siapa itu Pak Palal dan Bu Palal, tetap saja Error 404. Sepertinya ada bad memory sector yang kronis sehingga memory tentang sesepuh di situ tak bisa saya recall.

Sehabis jum’atan di mesjid Baitussholihin di belakang rumah Bapak, langsung diacarakan sholat jenazah. Sebelumnya diumumkan bahwa usia almarhumah adalah 91 tahun. Subhanalloh. 91 tahun adalah masa yang cukup lama. Berarti beliau lahir di tahun 1920. Sebagai muslim, lebih tepat kalau almarhumah dihitung usianya dengan kalender hijriah, yg dalam 35 tahun berselisih satu tahun lebih banyak dibanding dengan kalender masehi. Artinya, usia almarhumah adalah 93 tahun lebih.

Lebih tiga bulan yang lalu di sela-sela rapat di Jakarta saya didatangi bos yang diikuti staf lokal jakarta yang membawa kue ulang tahun. What a surprise !. Emang di tanggal 15 September itu secara formal saya tercatat dilahirkan, 39 tahun yang lalu. Lagi-lagi, sebagai muslim yang ‘kuno’, saya tidak punya tradisi ulang tahun. Setidaknya begitu di keluarga saya, meski tak semua muslim menganut prinsip seperti itu. Tanggal 15 September buat saya is just another day. Paling juga tanggal 15 September 2017 jadi penting buat saya, karena di tanggal itu saya harus angkat kaki dari kantor ini, pensiun. Dengan catatan umur saya sampai di tanggal itu, dan saya masih bekerja di Perusahaan ini. Saya terlahir 8 Sya’ban 1392 H, artinya saat ini (3 Safar 1433H),  saya sudah berusia 40 tahun.

Begin @ 40 ?

Life begins at forty, kata orang bule. Maksudnya emang forty years old. Kalo kita ziarah ke kuburan, kita bisa liat panjang kuburan nggak sama. Ada yang umur 40 jam udah musti dikubur. Ada yang 40 hari. Ada yang 40 bulan. Banyak juga yang belum pernah mencicipi umur 40 tahun udah harus dikubur. Seperti sepupu saya almarhum yang sudah dipanggil menghadap-Nya di usia 39 tahun, meninggalkan dua balita dan istri yang tak bekerja. Dalam konteks ini, life is never started for them. Apa iya?

Terus kenapa bule bilang life begins at forty? Ada sejarahnya ternyata. Syahdan jaman dulu kala di saat wabah penyakit menjadi endemi global dan obat-obatan tidak dapat diperoleh dengan mudah seperti sekarang, orang yang masih tetap hidup sampai usia 40 tahun, tidak tewas karena perang dan juga tidak mati karena terkena penyakit, punya probabilitas untuk hidup lebih besar untuk berumur panjang. Sebelum abad ke 20, angka harapan hidup warga Inggris rata-rata adalah 25 tahun saja.

Terus apa yang terjadi selama 40 tahun (hijriyah) kedupanku? Tujuh hari tujuh malam ngetik juga nggak selesai urusannya. Suka dan duka datang silih berganti. Tawa dan tangis (eh, gue nangis juga lho !) berselisih jalan. 40 tahun adalah masa yang cukup lama untuk mendapatkan pengalaman hidup. Seorang kakak ipar saya punya istilah ‘Belum tau hidup’ untuk orang yang dianggap masih belum banyak makan asam garam kehidupan. Rasanya, saya sudah cukup banyak makan asam garamnya, semoga nggak terlalu asin aja.

Dalam konteks spiritual, sudah tiga kali menapakkan kaki ke tanah paling suci di muka bumi ini bagi kami muslim. Dalam konteks materi, sudah sangat berkecukupan rezeki Ilahi bagi keluarga kami. Jikalau saja coba kuhitung nikmatNya, niscaya tak mampu kuhitung. Pasti ada nikmatNya yang terlupakan, atau malah ku tak sadar bahwa itu adalah nikmatNya. Bagiku, hidup sudah dimulai bahkan sebelum usiaku mencapai 40.

Dan ketika kemarin dulu ada program check up kesehatan secara masal di Perusahaan, dengan semangat ’45 kudatangi lab kesehatan dengan catatan melengkapi berkas yang diperlukan, hanya untuk disuruh kembali lagi, karena usiaku belum mencapai 40. Tahun lalu, klausulnya adalah usia diatas 40 tahun atau senior leader. Tahun ini, atas nama efisiensi, mau jadi super senior leader pun tak dapat jatah check up kesehatan kalau usianya belum 40 tahun. Lesson learned, jangan terlalu cepat jadi senior leader !.

Simpulnya, terserah deh mau life begins or not begin at forty, tapi kubersyukur dan bersimpuh kepadaNya atas seluruh cobaan, kesempatan dan nikmat yang diberikanNya selama ini.





Kemenangan itu direncanakan

15 11 2011

Sea Games ke-26Hingar bingar Sea Games ke-26 di Jakarta Palembang masih aja seru. Meski pesta olahraga ini lokalan aja di Asia Tenggara dan hampir nggak pernah ada pemecahan rekor dunia sepanjang sejarah pelaksanaannya, tetep aja cukup menarik perhatian untuk mencari siapa yang tercepat, terjauh, tertinggi dan terkuat.

Banyak cabang sudah menyelesaikan kompetisinya. Banyak pula kejutan terjadi. Yessy Venisia Yosaputra, mojang priangan, masih berusia 17 tahun, memecahkan rekor Sea Games renang 200m gaya kupu-kupu yang sudah berusia 18 tahun. Lebih tua dari usianya sendiri. Dia adalah satu-satunya perenang putri Indonesia yang memegang rekor Sea Games di 20 gaya yang dilombakan. Mayoritas rekor dikuasai perenang Singapora. Tak berhenti di situ, Yessy bermimpi untuk mencapai rekor dunia.

Franklin Ramses Buruni, putra papua berusia 20 tahun, menjadi manusia tercepat di Asia Tenggara di nomor 100m dengan catatan 10.37 detik dan juga di nomor 200m  dengan catatan 20.97 detik. Masih belum menyamai catatan terbaik Suryo Agung Wibowo yang memilih untuk beribadah haji bersama orang tuanya, namun catatan waktu itu cukup untuk memastikan dua emang dalam genggaman Franklin. Franklin bermimpi untuk mencatatkan waktu dibawah 10 detik untuk 100 meter dan dan dibawah 20 detik untuk 200 meter.

Modo & Modi, Maskot Sea Games 2011Della Olivia, masih duduk di kelas 3 SMA2 Sidoarjo, telah 8 bulan meninggalkan bangku sekolahnya untuk berkonsentrasi di pelatnas sepatu roda. Pengorbanannya tak sia-sia, dia menyumbangkan 2 medali emas dari total 12 emas yang diraih tim sepatu roda Indonesia, sejauh ini merupakan satu-satunya cabang yang melakukan sapu bersih emas. Sekembalinya dari perhelatan Sea Games ini Della bertekad untuk mengejar ketinggalannya di sekolah, karena tahun depan sudah menghadapi Ujian Nasional.

Kejutan yang menyedihkan datang dari cabang bulutangkis putri. Tim putri Indonesia harus mengakui keunggulan Thailand 1-3 di partai puncak. Partai terakhir bahkan tidak perlu dipertandingkan karena tidak diperlukan lagi. Suatu ironi bagi cabang olahraga yang sudah mengantarkan negeri ini ke jajaran peraih medali Olimpiade. Di tingkatan tertinggi olahraga sejagat itu, Indonesia pernah meraih sepasang emas melalui Alan Budikusuma dan Susi Susantidi Olimpiade 1992 di Barcelona. Tahun demi tahun prestasi bulutangkis kita semakin terpuruk. Tak ada lagi cerita kita meraih piala Thomas, Uber, ataupun Sudirman. Kejayaan kita di bulutangkis sudah memudar seiring dengan perjalanan waktu. Bahkan melawan negri yang tak punya tradisi bulutangkispun tim putri kita takluk. Pelatih timnas kita berkilah bahwa kita hanya tidak beruntung.

Apa yang membedakan kemenangan dan kekalahan? Tiga hal saja. Latihan, latihan dan latihan. Seorang Ian Thorpe, perenang Australia yang menggenggam 5 medali emas Olimpiade Athena 2004, tetap berlatih pada saat Natal. Tiger Woods, tetap memukul 500 bola dalam sehari meski dia adalah pegolf terbaik di dunia. Pengorbanan diri untuk berlatih lebih keras, lebih lama, lebih terarah, lebih terprogram, demi meraih prestasi puncak, menjadi pembeda antara kemenangan dan kekalahan. Kemenangan itu direncanakan, bukan sekedar keberuntungan.





Semangat pagi !

7 11 2011

Senin pagi ini heboh sekali. Setelah badan setengah remuk redam karena menjadi panitia Iedul Qurban hari Minggu kemarin, praktis nggak ada waktu rehat yang cukup menghadapi hari kerja senin ini. Penyembelihan dan pemrosesan 7 sapi dan 7 kambing, dengan sekitar 700 kantung daging yang disediakan untuk siapapun yang meminta; merupakan rekor baru di mesjid kami. Alhamdulillah, setiap tahun semakin tinggi saja semangat berkurban warga di sekitar mesjid kami. Menjadi koordinator pencacahan dan pembungkusan daging merupakan tanggung jawab yang tidak ringan. Terlebih harus turun tangan sendiri juga untuk merecah daging dan memotong iga dengan mesin potong.

Bangun pagi ini diawali dengan pijatan istri tersayang yang sepertinya paham betul kondisi suaminya, yang merelakan ritual sabtu pagi bermain bola demi persiapan Iedul Qurban. Di usiaku yang menjelang 40 tahun, tidak berolahraga berimplikasi langsung pada kebugaran. Ada sesuatu yang kurang, dan itu pastinya pengaruh dari tidak terpacunya adrenalin di sabtu pagi kemarin karena absen dari lapang bola UPI di Setiabudi Bandung.

Sadar bahwa mobil belum dicuci, serta merta kulangkahkan kaki menuju garasi, ritual senin pagi untuk sekedar melap mobil agar pantas dipakai dan tidak terlalu kotor. Tiba-tiba si sulung berteriak, ” Pa cepetan ada upacara, ini motor juga nggak mau nyala, tolongin !”. Sejenak kuhentikan prosesi mandi kucing mobilku, dan kulihat apa yg terjadi dengan motornya. Dengan sekali kick starter, motor pun menyala. Emang udah dua hari nggak dipake motor itu, pantes aja electric starter nggak mempan.

Si jagoan sudah siap ketika prosesi mandi kucing mobil belum sepenuhnya selesai. Waktu ternyata berlalu begitu cepat. Kupaksakan selesai saja bersih-bersih mobil ini, dan siap mengantar si jagoan ke ujung jalan untuk dia lanjutkan sendiri dengan angkot ke sekolahnya. Kembali ke rumah, si sulung udah komplen lagi, “Pa ayo dong cepetan !”. Ternyata udah jam 06.05. Wah gawat. Alamat gak sempat sarapan ini. Pemecahan rekor mandi pun terjadi, jam 06.10 ku sudah bersiap berangkat. Setelah cium kening si bungsu keriting dan istri tersayang, ku berangkat menjemput si sulung di tempat parkir motornya untuk selanjutnya ke sekolah. Thank God, masih on time, meski sebagian besar temannya sudah berbaris. Setidaknya dia tidak dihukum jalan jongkok karena terlambat.

Sampai kantor, lapar mulai terasa. Secangkir kopi hitam sudah diantar si Acuy. Tapi karena masih sayang perut, kuacuhkan saja. Teringat bahwa hari ini deadline kontribusi premi asuransiku. Sekalian aja bayar premi asuransi di ATM depan kantor, sekalian cari sarapan di sebelah gedung kantor. Pengalaman pertamaku sarapan di sebelah kantor ternyata, setelah 6 tahun bertugas di kantor ini. Sesaat sebelum masuk ruang ATM, ada seseorang yang berkata, ” Semir Pak ?”. Kuabaikan saja sambil menggeleng dan tersenyum tanpa memandang muka si penjual jasa.

Beres urusan di ATM, kulanjutkan langkah kaki ke sebelah kantor cari sarapan. Kulewatkan saja pengemis di depan ATM. Ku punya pertimbangan sendiri untuk tidak memberi pada pengemis. Kusapukan mata melihat apa aja pilihan yang tersedia. Ada bubur ayam, tapi penuh sesak kursinya. Second choice, kupat tahu, masih tersedia seat available. Ku-order saja dan duduk manis menunggu. Tak lama datang sepiring kupat tahu pesananku. Porsi dewasa betul. Tapi ada yang kurang, gak ada sambelnya. Dan gak ada juga sambel di meja.  “Kang ada sambel?”, kutanyakan saja saat teh panas diantarkan.  “Ada”, jawabnya singkat, dan diambilnya wadah sambel dari gerobaknya. Ternyata sambelnya shared resource, mungkin efisiensi wadah, tapi risikonya wadah itu bolak-balik dari meja ke gerobak. Kalau saja terjatuh, habis sudah sambel hari itu.

Sambil makan kuperhatikan ada seseorang yang membawa tas ransel dan menenteng sandal di seberang jalan. Sebagian rambutnya beruban. Perawakannya mengingatkanku pada temanku yang berasal dari kawasan timur Indonesia. Ranselnya disangkutkan di pagar kantor. Aku mulai mengira apa yang akan dilakukannya. Selanjutnya dia mulai berjalan ke arah tenda kupat tahu. “Semir pak? Murah empat ribu dan awet”. Oh, ternyata dia toh tukang semirnya. Sekali lagi ku menggeleng. Kuingat hari ini sepatuku memang belum disemir. Ada Kiwi instan di mobil, tapi rusuhnya hari ini membuatku lupa menyemir. Besok saja kusemir sendiri, pikirku. Dia bergerak ke warung sebelah, tak satupun pembeli yang merasa perlu menyemir sepatunya.

Dia kembali ke seberang jalan, tak terlihat wajah putus asa di wajahnya. Setiap orang lewat ditawarinya jasa semir sepatu. Kukagumi kegigihannya. Kukagumi keyakinannya untuk mencari rezeki dengan cara halal. Banyak pengamen kalau siang di sekitar tempat ini, tapi tidak juga dilakukannya. Pengamen lebih sering menjadi pengganggu daripada penghibur. Empat ribu rupiah mungkin tak ada artinya buat karyawan yang berkantor di seberang jalan ini. Tapi menyediakan jasa semir di saat Kiwi instan sudah tersedia? Anganku melayang jauh. Kucoba menebak apakah dia punya istri dan anak? Makan apa dia dan keluarganya hari ini? Apakah anaknya, kalau ada, bisa sekolah?

Selesai makan kupat tahu kubayar harganya. Tujuh ribu rupiah. Lebih mahal dua ribu lima ratus rupiah dari langgananku di rumah. Who cares? kubayar saja. Melangkah keluar, masih berpapasan dengan tukang semir yang sudah kembali ke sekitar. Kali ini Dia tak menawariku lagi.

Justru aku yang bertanya. “Semir ya bang?”.

“Iya Oom”, jawabnya. Melihat raut wajahnya, dia mungkin sedikit lebih tua dariku. Kuabaikan saja panggilan yang menyebalkan itu.

“Berapa?” kutanya lagi berlagak nggak tau.

“Empat ribu Oom”, jawabnya.

“Dimana ya?” tanyaku lagi.

“Di situ aja Oom”, jempolnya menunjuk ke seberang jalan dimana tas ranselnya tergantung dan tersedia bangku besi panjang. Cara sopan adat ketimuran untuk menunjuk. Bule pasti nggak bisa. Ah males aja nangkring di pinggir jalan di pagi hari. Capek senyum karena sejawatku pasti banyak yang lewat.

“Saya tunggu di sini aja ya”, sambil melangkah kembali ke dalam tenda kupat tahu yang kosong sekarang.

Dengan sigap dia mendekat, dan menyiapkan sandalnya untuk kupakai. Samar terdengar “Bismillah” dari lisannya ketika menyodorkan sandalnya. Awal yang baik, kupikir. Dia mengambil sepatuku dan berjalan ke seberang ke workshop sepatu dadakannya. Selanjutnya dia membongkar tasnya, mengambil beberapa peralatan semirnya. Kulirik jam di HP-ku, karena hari ini ku lupa pakai jam tangan, saking buru-burunya. Jam 7.40. Masih 20 mnit sebelum jam kerja resmi dimulai. Toh aku sudah absen online, pikirku.

Tekun dengan keterampilannya

Kuperhatikan dari jauh, cara menyemir yang agak aneh. Jauh dari yang kubayangkan. Mula-mula sepatuku dilapnya. Kemudian dikeluarkannya semacam spidol besar, dicelupkan ke tutup botol yang sudah diisi cairan dengan hati-hati, dan mulai menotolkan spidol besar tadi ke beberapa titik sepatu. Selanjutnya dia menyikat sepatuku dengan sikat gigi. Berulangkali dan bergantian antara sepatu kiri dan kanan. Benar-benar cara yang aneh untuk menyemir sepatu. Terserah deh, kupikir.

Untuk membunuh waktu kubuka HP cina Androidku, dan kuaktifkan Angry Birds. Pembunuh waktuku yang paling efektif. Sambil bermain ku coba berpikir apa yang mendasari angka empat ribu untuk jasa semir itu? Berapa sepatu yang bisa dia semir sehari? Hal-hal yang sebelumnya tak pernah kupikir. Kalau semirnya memuaskan, selembar uang berwarna hijau akan kuberikan. Kalau tidak, empat ribu lah harga jasa semir itu, sesuai dengan kesepakatan. Dia sendiri yang menentukan.

Akhirnya selesai juga semir itu. Hasilnya tak membuatku puas. Malah tak terlihat seperti habis disemir. Kuserahkan empat ribu yang menjadi haknya. Tetap saja, kukagumi semangatnya untuk bekerja dengan cara yang halal. Semangat Pagi !