Nasionalisme itu masih eksis

30 12 2010

Tribute to :  GOALKEEPERS – Markus Haris Maulana (1), Ferry Rotinsulu (12), Kurnia Meiga Hermansyah (23), DEFENDERS – Mohammad Nasuha (2), Zulkifly Syukur (3), Maman Abdurrahman (5), Benny Wahyudi (7), Muhammad Ridwan (22), Muhammad Roby (26), Hamka Hamzah (23), Yesaya Desnam (29), Tony Sucipto (6), MIDFIELDERS – Eka Ramdani (8), Oktovianus Maniani (10), Arif Suyono  (14), Firman Utina (Kapten) (15),Ahmad Bustomi (19), FORWARDS – Irfan Bachdim (17), Dendi Santoso (13), Christian González (9), Bambang Pamungkas (20), Yongki Aribowo (21), Johan Juansyah (11).

“It is not the critic who counts: not the man who points out how the strong man stumbles or where the doer of deeds could have done better. The credit belongs to the man who is actually in the arena, whose face is marred by dust and sweat and blood, who strives valiantly, who errs and comes up short again and again, because there is no effort without error or shortcoming, but who knows the great enthusiasms, the great devotions, who spends himself for a worthy cause; who, at the best, knows, in the end, the triumph of high achievement, and who, at the worst, if he fails, at least he fails while daring greatly, so that his place shall never be with those cold and timid souls who knew neither victory nor defeat.” Speech at the Sorbonne, Paris, April 23, 1910. Theodore Roosevelt.

Turnamen AFF Suzuki ini memang hanya tingkat regional Asia Tenggara, bahkan tidak masuk kalender FIFA. AFF – Asean Football Federation, juga tidak berafiliasi langsung dengan FIFA. AFF hanya menginduk ke AFC – Asian Football Committee.  Bahwasanya tak satupun pelaga Piala Asia 2011 di Qatar merupakan anggota AFF, menunjukkan bahwa di tingkat Asia sekalipun, tim-tim sepakbola Asia Tenggara masih belum bisa berbuat banyak.

Timnas Garuda, Runners-up AFF Suzuki Cup 2010 - vivanews.com

Hasil akhirnya, Timnas Garuda menjadi runners-up, setelah di final Leg 2 hanya bisa mengalahkan Malaysia dengan skor 2-1, dan aggregat pun kalah 2-4, karena di leg 1 kalah dari Malaysia 0-3. Terlepas dari itu, keikutsertaan Timnas Indonesia dalam ajang AFF kali ini memberikan kita banyak hikmah untuk kemajuan sepakbola Indonesia. Hikmah terbesar adalah bahwa Nasionalisme kita sebagai bangsa masih eksis.

Sebelum turnamen dimulai, kehebohan dimulai dengan terbitnya paspor Indonesia bagi Christian ‘el loco’ Gonzales. Sebelumnya warga negara Uruguay, El loco telah memenuhi syarat untuk menjadi Warga Negara Indonesia. Ini adalah naturalisasi pertama dalam sejarah sepakbola Indonesia. Tak ada yang meragukan ketajaman El loco, yang pernah 3 tahun berturut-turut menjadi striker tersubur di pentas sepakbola tertinggi tanah air. Sebagian yang skeptis mempertanyakan usia El loco yang telah mencapai 34 tahun, usia senja bagi seorang pesepakbola. Suara sinis ini hilang dengan sendirinya ketika El loco menjadi pahlawan dengan mencetak masing-masing 1 gol dalam dua leg semifinal ke gawang Filipina dan meloloskan Timnas Garuda ke Final.

Selebrasi si ganteng Irfan Bachdim - catatanbola.wordpress.com

Kehebohan lain adalah dengan masuknya Irfan Bachdim dalam Timnas Garuda. Berayah mantan pemain Persema Malang, beribu orang Belanda, dan lahir di Amsterdam, Irfan Bachdim (22 tahun) tak pernah menjadi warga negara Belanda. Saat berusia 21 tahun, dia harus memilih antara menjadi warga Belanda mengikuti ibunya atau menjadi WNI seperti bapaknya. Irfan memilih menjadi WNI.  Karirnya di Timnas adalah suatu kisah menarik. Setelah kembali ke Indonesia karena klub-nya di Belanda bangkrut, Irfan melamar menjadi pemain Persija dan Persib. Entah apa kriteria yang dipakai di Persija dan Persib, kedua klub besar Indonesia Super League (ISL) itu menolak Irfan mentah-mentah. Irfan dianggap tak layak berlaga di kasta tertinggi sepakbola nasional itu. Ahirnya Irfan berlabuh di bekas tim ayahnya, Persema Malang. Tak sampai 6 bulan sejak mendarat di Jakarta, dia dipanggil Coach Alfred Riedl membela Timnas Garuda. Gocekannya oke, positioning bagus, tendangan terukur, menjadi bukti 2 gol yang dipersembahkannya dalam babak penyisihan. Lebih dari itu Irfan-lah salah satu yang membuat stadion tidak lagi menjadi tempat yg menyeramkan, dengan munculnya banyak paras-paras manis suporter wanita yang menjadi fans-nya.

Pinalti Bepe pulangkan Thailand - beta.id.news.yahoo.com.jp

Di babak penyisihan, Timnas Garuda tampil meyakinkan. Menaklukkan Malaysia 5-1, membantai Laos 6-0, dan mengalahkan Thailand 2-1. Thailand secara peringkat FIFA (121) adalah tim terkuat di Asia Tenggara, jauh diatas tim lain termasuk Indonesia (135). Di pertandingan pertama masih banyak bangku stadion yang kosong, masyarakat sudah sangat terbiasa dengan kegagalan demi kegagalan, kekalahan demi kekalahan Timnas. Terakhir adalah gagalnya Indonesia lolos ke putaran final Piala Asia di Qatar. Hasil yang diluar dugaan ini membuat seluruh rakyat Indonesia tersentak. Ekspose media membahana hampir di seluruh stasiun TV kita, tak kecuali stasiun TV spesialis sinetron.

Antrian panjang demi Tiket - antarafoto.com

Rakyat pun berbondong-bondong ke stadion Gelora Bung Karno, untuk menyaksikan partai Semifinal. Antrian tiket mulai mengular. Tua, muda, pria, wanita, mengantri berjuang untuk mendapat tiket menonton semifinal. Lawan yang dihadapi adalah Filipina. Dalam sejarahnya, Indonesia pernah membantai filipina 13-1. Namun, kali ini Filipina datang dengan 9 pemain naturalisasi yang hampir semuanya pernah merumput di liga Eropa, meski bukan di kasta tertinggi. Kiper Filipina, Neil Etheridge, adalah kiper ke-3 di Fulham, salah satu tim di English Premier League. Semifinal yang digelar dalam 2 leg di GBK karena Filipina sedemikian tak pedulinya dengan sepakbola, sampai tak punya stadion yang layak untuk laga internasional, berakhir dengan agregat kemenangan Timnas 2-0. Tim Filipina alias tim eropa kelas tiga pun kita kalahkan. untuk ke-4 kalinya dalam sejarah AFF, Indonesia masuk final, meski tak sekalipun meraih juara.

Sampai titik itu baik-baik saja. Selanjutnya muncullah tanda-tanda bencana. Para pelacur politik mulai melakukan gerilya untuk mendapatkan simpati masyarakat. Berlagak jadi pendukung, komentar gak nyambung, sampai mngklaim telah membantu suksesnya Timnas. PSSI-pun dengan tololnya merecoki persiapan final dengan kegiatan yang gak ada hubungannya dengan sepakbola. Membawa timnas mendatangi undangan makan dirumah Aburizal Bakrie dan kunjungan ke Ponpes buktinya. Media pun tak kalah konyol, demi mendapatkan berita, persiapan tim dan privasi pemain diobrak-abrik. Hasilnya, Timnas Garuda ditekuk Malaysia 0 -3 di Bukit Jalil. Jalan curam menuju juara ditentukan di GBK.

Buruknya manajemen PSSI terlihat jelas dalam pengaturan penjualan tiket. Otoritas tertinggi sepakbola nasional ini amat sangat tak becus mengatur tiket. Satu orang tewas dalam perjuangannya mendapatkan tiket. Nurdin halid pun menyalahkan suporter Timnas atas kejadian ini. Bisa jadi, suporter yang tewas ini mungkin yang pertama di dunia tewas karena akan membeli tiket. Yang tewas karena pertandingan atau setelah pertandingan, sudah banyak. Yang tewas dalam membeli tiket, rasanya ya pertama kali terjadi di Indonesia ini. Mengatur tiket pun tak becus, bagaimana pula kita berharap sepakbola nasional kita bisa diatur dengan baik?

Terlepas dari carut marutnya penjualan tiket, antusiasme suporter tak surut. Di hari pertandingan, 100 ribu lebih suporter memadati GBK. Kedatangan timnas dielu-elukan.  Saya tak ingat lagi, kapan ada manusia Indonesia yang dielu-elukan seperti itu. 23 pemain itulah pahlawan masa kini. Yang menunjukkan bahwa semangat nasionalisme kita masih eksis. Nasionalisme sejati, tak ada kaitannya dengan pangkat, latar belakang, suku, apalagi rupiah. Lagu Garuda di dadaku pun menggema di mana-mana.

Hasil akhir bukanlah happy ending seperti film hollywood. Yang menakjubkan, meski tertinggal 0-1, dukungan suporter tak berkurang. IN DO NE SIA, terus membahana, membakar semangat 11 putra terbaik bangsa di mata coach Riedl, yang berlaga berpeluh keringat. Hasil akhir 2-1 untuk kemenangan Timnas Garuda, tak cukup untuk membawa pulang piala AFF untuk pertama kalinya. Tapi sangat cukup untuk menunjukkan bangsa kita punya nasionalisme yang begitu kuat, spirit of nation yang dulu bisa  mengusir nenek moyang Irfan Bachdim dari sini. Dan yang lebih hebat lagi, tak seperti kebiasaan rusuh suporter kalau tim-nya kalah, pulang dari final itu suporter bernyanyi, buat apa rusuh…buat apa rusuh…rusuh itu tak ada gunanya.

Terima kasih Timnas Garuda, yang telah mengajari kami bahwa harapan itu selalu ada. Bahwa kita menggapai impian manakala kita terus berusaha dan berdoa. Bahwa nasionalisme sejati kita masih eksis.  Dan bahwasanya diatas segalanya, Keputusan ada di tangan-Nya yang Maha Kuasa. Masih akan ada pertandingan di depan untuk dimenangkan, masih banyak latihan berat yang harus kalian jalani. Ingatlah bahwa 237.556.340 jiwa berdiri dibelakang kalian, mendoakan kalian mengepakkan sayap ke awan tertinggi.  Kalian tak juara di turnamen ini, tapi kalianlah juara di hati kami. Garuda kan selamanya ada di dada kami, meski diprotes si Tobing itu.

Berakhir sudah kisah perjalanan sang Garuda di piala AFF Suzuki 2010 ini, teriring doa Nurdin Halid diganti oleh orang yang lebih waras, lebih pintar, dan mampu mengantarkan Timnas Garuda berlaga di Piala Dunia.  Aamin ya Robbal ‘alamiin. Kali ini, mohon ampun ya Alloh, aku agak memaksa.

Iklan




Terus mencari strategi baru (failing forward)

27 12 2010

Menyesali kekalahan - kompasiana.com

Setelah euforia memuncak karena hasil yang sangat mengesankan sepanjang penyisihan Piala AFF Suzuki 2010, tadi malam Timnas Garuda menelan kekalahan pahit 0-3 dari Timnas Malaysia di Stadion Bukit Jalil, Malaysia. Hilang semua permainan apik di semua lini yang dipertontonkan sepanjang penyisihan group hingga babak semifinal. Statistik gol 15-2 tak berarti apa-apa.  Sama sekali tak menunjukkan ketajaman di lini depan, kekokohan di lini tengah, dan ketangguhan di lini belakang. 3 gol bersarang bersih di gawang Timnas Garuda yang dijaga Markus. Ketiga gol dalam selang waktu tak lebih dari 15 menit di babak kedua, menunjukkan hilang fokus dalam suatu pertarungan adalah malapetaka.

Tak perlu berlama-lama berduka. Seperti yang dikatakan Thomas Edison ketika laboratoriumnya terbakar sampai rata dengan tanah, “Syukur pada Tuhan, semua kesalahan kita terbakar habis. Sekarang kita dapat memulai lagi sesuatu yang baru.” Beberapa ‘kesalahan’ yang patut kita bakar habis diantaranya adalah :

  1. Membawa sepakbola ke ranah politik dan pencitraan.  Setelah Timnas Garuda menuntaskan babak penyisihan dengan mengesankan, alih-alih melakukan evaluasi atas kesuksesan, para elit politik berlomba-lomba cari muka seolah punya andil atau mencitrakan diri sebagai pendukung utama Timnas. Undangan makan dan kunjungan ke pesantren adalah hal yang tidak relevan dengan sepakbola modern. Coach Alfred Riedl tak hadir dalam dua acara ini. Tersirat, dia tak setuju, tapi tak berdaya menghadapi direct order ketua umum PSSI. Selain itu elit partai politik pun menjadikan Timnas Garuda sebagai kendaraan untuk mencari popularitas. #nurdinturun pun sempat menjadi trending topic di twitter.
  2. Media expose berlebihan. Bangsa ini sudah terlalu lama tidak mempunyai tokoh pahlawan masa kini. Para pemimpin, tokoh politik, anggota dewan, alih-alih menjadi role model pahlawan, perilaku mereka membuat saya sering mengernyitkan dahi. Sampai ada pameo “Politikus itu seperti diapers, semakins sering diganti semakin baik”.  Tak sedikit dari mereka berakhir di penjara karena korupsi, membuat kita malu sebagai bangsa.  Nah, dalam keadaan carut-marut seperti itu muncullah para Garuda yang berjuang berpeluh keringat menegakkan bendera merah putih di tiang tertinggi. Nasionalisme sontak bangkit mengiringi sepak terjang mereka. Jadilah mereka pahlawan-pahlawan baru yang membuat bangga kita sebagai bangsa. Selanjutnya media mengambil alih, bergerilya saling bersaing mewawancara pemain, tim medis, siapapun yang mau bicara. Hot news !!!. Fokus pada pertandingan pun berkurang.
  3. Tidak menyiapkan tim untuk situasi di Bukit Jalil. Sudahlah tim tidak fokus pada partai Final karena berbagai agenda, sepertinya tidak ada simulasi Bukit Jalil dalam latihan. Sebagai tim yg tidak pernah keluar kandang sepanjang kompetisi, atmosfer di kandang lawan belum pernah dicoba. Simulasi disoraki penonton dan ditembak sinar laser, seyogyanya dapat diujicoba di Jakarta. Hal ini jauh lebih bermanfaat dibanding menghadiri undangan jamuan makan ataupun kunjungan ke pesantren. Bukan tak penting berdoa, kita semua mendoakan kejayaan timnas, tapi kita tetap harus tahu prioritas yang harus kita kerjakan dalam waktu yang terbatas.

Selanjutnya kita perlu merancang strategi untuk kejayaan Timnas Garuda, bukan hanya di level regional Asia Tenggara seperti AFF atau Sea Games, tapi menuju pentas dunia. Kalau Jepang dan Korea bisa menembus pentas dunia, kenapa kita tidak bisa? Dengan kondisi fisik yang relatif sama,  seharusnya kita pun bisa. Kita punya sumber daya yang cukup memadai. Tanah melimpah untuk membangun stadion kelas dunia. Anak-anak yang menyenangi sepakbola bertebaran di seantero tanah air. Fanatisme supporter atas klub yang cukup besar. Suatu survey menunjukkan bahwa liga dengan penonton terbanyak di Indonesia adalah Liga Inggris, dan di urutan kedua adalah Liga Indonesia !.

Nah, apa yang dapat kita lakukan agar Timnas Garuda bisa berlaga di level dunia? Sudah berpuluh tahun eksistensi PSSI, tak sekalipun kita tembus ke level Dunia. Boro-boro level dunia, level Piala Asia tahun 2011 ini pun kita tak lolos. Kegagalan menjadi patok untuk mengevaluasi ulang, menyesuaikan, dan memulai lagi, hanya saja, lebih baik dari sebelumnya. Max DePree bilang, “Kita tak akan menjadi seperti yang kita perlukan dengan tetap menjadi seperti apa adanya”.  Mengulang-ulang cara-cara lama tidak akan membawa kita kemana-mana. Harus ada penyempurnaan strategi yang berkelanjutan sampai kita tiba di pentas yang kita inginkan, apakah itu di level Asia atau bahkan Dunia.

Perumusan strategi tak mungkin dilakukan satu orang saja. Demikian pula, kesuksesan sebuah tim adalah buah dari kontribusi seluruh sumber daya di dalam tim itu. Masalah terbesar muncul manakala kita sendiri tak paham betul apa yang kita inginkan. Misalnya, kita ingin Indonesia masuk ke pentas dunia. Kapan ? tak jelas. Tentukan dulu dengan pasti Apa yang kita inginkan, baru kita rumuskan Bagaimana mewujudkannya. Kaidah ini berlaku untuk apapun mungkin dilakukan manusia di dunia ini.

Yuk kita mulai. .

  1. Visi apa yang kita inginkan ?  Timnas Garuda ke pentas Asia 2015. Juara 3 Asia 2019, dan  ke pentas dunia tahun 2022.  Begin with the end in mind, begitu Stephen Covey bilang.  Beranilah bermimpi, dan bertanggung jawablah untuk mewujudkanya.
  2. Bagaimana mewujudkan mimpi itu? Jangan  pakai cara-cara instan. Semua kesuksesan adalah hasil dari proses yang baik dengan program yang rinci dan kinerja yang terukur. Naturalisasi, misalnya, adalah short-cut yang diambil oleh pemimpin yang putus asa dan mementingkan hasil jangka pendek dibandingkan dengan kejayaan jangka panjang.
  3. Leadership no.1. Artinya, kita mulai dari Ketua Umum PSSI dan para pengurus PSSI adalah orang2 yang bermimpi dengan berani, merumuskan dan merevisi strategi dengan tepat dan bekerja dengan istiqomah sesuai strategi.
  4. Pembinaan usia dini. Lionel Messi sekarang berusia 23 tahun, Cristiano Ronaldo berusia 25 tahun. Usia emas pemain bola. Jadi, agar Timnas Garuda berada di usia emas saat kita ke pentas dunia tahun 2022, tahun 2011 ini mereka berusia 13 tahun.  Carilah bibit2 unggul usia itu sekarang, dan bina dengan program kelas dunia. Jangan ngarang sendiri programnya. Belajar dari Korea dan Jepang saja.
  5.  





Perlunya ketegasan dalam kelembutan (vs Malaysia)

14 09 2010

Tak habis-habis negri jiran yang satu ini berulah. Daftar singkat ulah malaysia yang membuat saya kesal adalah :

  1. ‘Pencaplokan’ pulau Sipadan-Ligitan.
  2. Klaim kepemilikan atau penerbitan paten lokal malaysia atas reog, angklung, tari pendet, batik, rendang, lagu rasa sayange, baju pengantin Riau.
  3. Penjarahan kayu kalimantan dengan menyuap aparat dan mempekerjakan warga Indonesia.
  4. Penistaan atas TKI.
  5. Pelecehan atas turis Indonesia.
  6. Upaya pencaplokan atas pulau Ambalat.
  7. Penangkapan atas aparat Dinas Kelautan dan Perikanan.

Negeri Jiran - Malaysia

Kalo dipikir-pikir, dalam setiap hal yang mengesalkan itu, seperti nasihat para pinisepuh, kalau kita menunjuk hidung orang dengan telunjuk kita, minimal 3 jari kita akan menunjuk hidung kita sendiri.  Gak usah repot-repot mencaci maki malaysia, mereka hanyalah berupaya tetap survive sebagai bangsa, dan dalam upaya tetap survive itu, dengan minimnya kebudayaan dan tanah air yang mereka miliki, maka menjarah kekayaan dan luasnya tanah air tetangga yang lemot adalah suatu pilihan logis.

Saya pikir, akar permasalahan dari seluruh hal yang membuat malaysia ngelunjak adalah bahwasanya sebagai bangsa, kita kehilangan keberanian dan ketegasan menghadapi malaysia. Diplomasi klemak klemek bak bencong narsis berulang kali kita lakukan, dengan berkilah bahwa kita adalah bangsa berbudaya, bangsa terhormat, bangsa yang mengedepankan musyawarah untuk mufakat.  Dalam konteks self-protection, sah saja kita ‘menghabisi’ musuh kita. Belajarlah dari Pangeran Kornel, yang menyalami Jendral Deandels dengan tangan kiri, sementara tangan kanan memegang keris. Ada ketegasan dalam kelembutan ! Ente jual, gue beli !

Ada baiknya kita mencontoh Korea Utara. Kapal perang Korsel pun di-torpedo sampai tenggelam. Korsel pun tak ada nyali mengajak berantem Korut, yang punya senjata nuklir. Show of force, di dalam konteks kedaulatan wilayah, harus dilakukan oleh Tentara Nasional Indonesia. Untuk itu, tentu saja, perangkat perang kita harus memadai dan tidak inferior dibanding peralatan perang tentara diraja malaysia. Adalah tugas pemerintah dan anggota DPR untuk mengambil keputusan politik dalam bentuk APBN yang proporsional dan memadai untuk menegakkan kedaulatan wilayan republik ini.

Dalam hal budaya, adalah kewajiban Dinas Kebudayaan dan Pariwisata untuk memperkenalkan ke seluruh penjuru dunia keanakaragaman budaya kita, dan melakukan ‘counter intelligence’ terhadap upaya-upaya klaim / paten malaysia atas kebudayaan kita. Tentu saja, sebagai bangsa kita pun harus mau dan bangga menampilkan dan menggunakan kebudayaan kita yang adiluhung. Pakailah batik, bukan hanya mencaci malaysia yang mengklaim batik sebagai busana mereka. Makanlah rendang, belajarlah membuatnya, tampilkan reog ponorogo, angklung, tari bali, pentaskan ke seluruh penjuru dunia.

Dalam hal carut marut nasib TKI, adalah kewajiban pemerintah untuk menyediakan lapangan kerja yang memadai untuk sekitar 2 juta TKI di malaysia. Dengan tersedianya lapangan kerja yang memadai, maka tidak perlu lagi kita mengekspor buruh kasar yang hanya satu tingkat di atas perbudakan di abad pertengahan.

Supaya tidak dilecehkan sebagai turis, jangan sekali-kali menjadi turis ke malaysia. Percayalah, malaysia is nothing compare to the beauty of Indonesia. Berkunjunglah ke Danau Toba, Ngarai Sihanouk, Pantai pasir putih Bangka, Dunia Fantasi Jakarta, Mega mall Plaza Indonesia, Candi Borobudur Gunung Bromo, Pantai Sanur, Pura Besakih, Tanah Lot, Lombok, padang rumput nusa tenggara, tak kan habis tempat-tempat terindah di negeri ini untuk dikunjungi.

Bercengkerama di Pantai Slopeng - Madura aja, jangan ke Malaysia !

Kita harus bangga sebagai bangsa Indonesia, dan bertindak nyata untuk kejayaan bangsa kita sendiri ! Berikan reaksi yang proporsional dan produktif terhadap tingkah-polah norak malaysia. Dan jangan lupa, nggak usah beli produk-produk malaysia, apalagi mobilnya ! Oh iya sekalian curhat, saya pernah ngisi bensin di Petronas Dago Bandung karena kepepet bensin mau habis, hasilnya motor saya terpaksa masuk bengkel karena jadi batuk-batuk seperti kingkong kentut. Malaysia emang butut !





Indonesia yang sejahtera

24 02 2010

Setelah susah payah mencari dimanakah impian bangsa ini tertulis, akhirnya ketemu juga di Bappenas. Impian bangsa kita yang sah berdasarkan kesepakatan Presiden RI dan DPR itu, ternyata sangatlah normatif. Kita masih terjebak dengan permainan kata-kata kualitatif :  meningkatkan anu, mengembangkan ini, mewujudkan anu, mengurangi itu. Dokumen 85 halaman itu persis materi penataran P-4 pola 100 jam. Parameter yang menjadi target keberhasilan tercecer di sepanjang dokumen, dan angka targetnya? praktis tidak ada. Dengan begitu, gimana caranya ngukur kalo impian kita udah tercapai? YOU CANNOT MANAGE WHAT YOU CANNOT MEASURE, absolutely !. Bermimpi pun kita nggak beres.

Dua institusi ternama, Goldman Sachs dan Price Waterhouse Coopers membantu kita bermimpi. Keduanya memproyeksikan di tahun 2050 Indonesia adalah kekuatan ekonomi terbesar ke6 atau ke-7 di dunia, dinilai dari Produk Domestik Bruto (PDB) / Gross Domestic Product (GDP). Tentunya proyeksi dilakukan dengan melihat kondisi saat ini. Dengan upaya-upaya yang luar biasa, tidak perlu menungu 40 tahun untuk mencapainya. Langkah pertama, bermimpilah dengan benar. Seperti yang dikatakan Covey, “Begin with the end in mind“. Kalau kita tidak tau pasti ke mana tujuan kita, tak akan pernah ada peta yang bisa membantu kita.

GDP Indonesia 2007 -> 2050 (Sumber : Goldman Sachs & Wikipedia)

Konsistensi proyeksi Goldman Sachs dan PWC menunjukan bahwa Indonesia mempunyai potensi luar biasa untuk menjadi kekuatan ekonomi dunia. Tugas bangsa ini adalah mengubah potensi itu menjadi kenyataan. Ada bule yang skeptis dan sinis berujar : “Indonesia is the most beautiful & potential country, and always be“.

Untuk menjadi kekuatan nyata di tingkat global, maka kita perlu ‘bermimpi’ dengan menggunakan parameter yang memang berlaku secara global, lalu selanjutnya mimpi kita itu dituangkan dalam target angka setinggi-tingginya yang masih dalam batas reachable (stress the goal).

Alih-alih menuangkan mimpi kita dalam jargon-jargon ala penataran P4 atau teks yang bertele-tele, normatif dan kualitatif seperti UU No.17 Tahun 2007 tentang Rencana Pembangunan Jangka Panjang Nasional Tahun 2005-2025, sebaiknya kita menuangkan rencana strategis bangsa kita berbasis Global Competitiveness Index yang ditetapkan oleh World Economic Forum. Seperti dinyatakan dalam situsnya, Global Competitiveness Report menilai kemampuan negara untuk memberikan kesejahteraan yang tinggi bagi warganya.

Di tahun 2010 ini, Global Competitiveness Index Indonesia berada di peringkat 44, lebih baik dari sejumlah negara seperti Portugal (46), Italia (48), India (51), Afrika Selatan (54), Brazil (58), Turki (61), Rusia (63), Mexico (66), Mesir (81), Yunani (83), dan Argentina (87). Di tingkat ASEAN, Indonesia lebih baik dibanding peringkat Vietnam (59), Filipina (85), dan Kamboja (109). Namun, Indonesia berada di bawah Singapura (3), Malaysia (26), Brunei (28), dan Thailand (38).

12 Pilar Competitiveness (sumber : World Economic Forum)

Dua belas pilar competitiveness inilah yang seharusnya menjadi fokus perencanaan dan program pembangunan pemerintah. Dalam 12 pilar ini pula seluruh kemampuan sumber daya nasional harus disinergikan. Selanjutnya, Pemerintah perlu menjamin terwujudnya orkestrasi program dalam 12 pilar ini pada tingkat nasional maupun program-program daerah. Dalam perencanaan nasional maupun daerah, harus ditetapkan secara tegas target kuantitatif dari setiap pilar, dalam basis waktu, sehingga kita dapat  menetapkan tenggat waktu akhir perjalanan kita menjadi bangsa yang sejahtera.