Kemenangan itu direncanakan

15 11 2011

Sea Games ke-26Hingar bingar Sea Games ke-26 di Jakarta Palembang masih aja seru. Meski pesta olahraga ini lokalan aja di Asia Tenggara dan hampir nggak pernah ada pemecahan rekor dunia sepanjang sejarah pelaksanaannya, tetep aja cukup menarik perhatian untuk mencari siapa yang tercepat, terjauh, tertinggi dan terkuat.

Banyak cabang sudah menyelesaikan kompetisinya. Banyak pula kejutan terjadi. Yessy Venisia Yosaputra, mojang priangan, masih berusia 17 tahun, memecahkan rekor Sea Games renang 200m gaya kupu-kupu yang sudah berusia 18 tahun. Lebih tua dari usianya sendiri. Dia adalah satu-satunya perenang putri Indonesia yang memegang rekor Sea Games di 20 gaya yang dilombakan. Mayoritas rekor dikuasai perenang Singapora. Tak berhenti di situ, Yessy bermimpi untuk mencapai rekor dunia.

Franklin Ramses Buruni, putra papua berusia 20 tahun, menjadi manusia tercepat di Asia Tenggara di nomor 100m dengan catatan 10.37 detik dan juga di nomor 200m  dengan catatan 20.97 detik. Masih belum menyamai catatan terbaik Suryo Agung Wibowo yang memilih untuk beribadah haji bersama orang tuanya, namun catatan waktu itu cukup untuk memastikan dua emang dalam genggaman Franklin. Franklin bermimpi untuk mencatatkan waktu dibawah 10 detik untuk 100 meter dan dan dibawah 20 detik untuk 200 meter.

Modo & Modi, Maskot Sea Games 2011Della Olivia, masih duduk di kelas 3 SMA2 Sidoarjo, telah 8 bulan meninggalkan bangku sekolahnya untuk berkonsentrasi di pelatnas sepatu roda. Pengorbanannya tak sia-sia, dia menyumbangkan 2 medali emas dari total 12 emas yang diraih tim sepatu roda Indonesia, sejauh ini merupakan satu-satunya cabang yang melakukan sapu bersih emas. Sekembalinya dari perhelatan Sea Games ini Della bertekad untuk mengejar ketinggalannya di sekolah, karena tahun depan sudah menghadapi Ujian Nasional.

Kejutan yang menyedihkan datang dari cabang bulutangkis putri. Tim putri Indonesia harus mengakui keunggulan Thailand 1-3 di partai puncak. Partai terakhir bahkan tidak perlu dipertandingkan karena tidak diperlukan lagi. Suatu ironi bagi cabang olahraga yang sudah mengantarkan negeri ini ke jajaran peraih medali Olimpiade. Di tingkatan tertinggi olahraga sejagat itu, Indonesia pernah meraih sepasang emas melalui Alan Budikusuma dan Susi Susantidi Olimpiade 1992 di Barcelona. Tahun demi tahun prestasi bulutangkis kita semakin terpuruk. Tak ada lagi cerita kita meraih piala Thomas, Uber, ataupun Sudirman. Kejayaan kita di bulutangkis sudah memudar seiring dengan perjalanan waktu. Bahkan melawan negri yang tak punya tradisi bulutangkispun tim putri kita takluk. Pelatih timnas kita berkilah bahwa kita hanya tidak beruntung.

Apa yang membedakan kemenangan dan kekalahan? Tiga hal saja. Latihan, latihan dan latihan. Seorang Ian Thorpe, perenang Australia yang menggenggam 5 medali emas Olimpiade Athena 2004, tetap berlatih pada saat Natal. Tiger Woods, tetap memukul 500 bola dalam sehari meski dia adalah pegolf terbaik di dunia. Pengorbanan diri untuk berlatih lebih keras, lebih lama, lebih terarah, lebih terprogram, demi meraih prestasi puncak, menjadi pembeda antara kemenangan dan kekalahan. Kemenangan itu direncanakan, bukan sekedar keberuntungan.


Aksi

Information

One response

22 12 2011
miartmiaw

hmm, blognya rapi. seneng deh lihatnya.
aku masih belum sempat benahi punyaku

*eh, lakok komen gak nyambung ^^v

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s




%d blogger menyukai ini: