Sehat itu pilihan

10 11 2011

Sore kemarin kuputuskan pulang kerja gak nunggu waktu maghrib. Memang dengan rutinitas macetnya jalan layang paspati menuju tol Pasteur di sore hari, pulang setelah solat maghrib di kantor adalah salah satu pilihan terbaik. Meeting marathon dari pagi hingga akhir jam kantor membuat spirit untuk melanjutkan kerja beberapa saat sambil menunggu azan maghrib lenyap bak debu jalanan yang tersapu hujan yang cukup deras sore itu.

Menuju lift, kudapati sejawat yang sandalan jepit. Kupikir dia mau siap-siap solat maghrib ke masjid di lantai 2. Ternyata bukan, “Mau fitnes”, katanya. Wah surprise. Ingatanku melayang kapan ku fitness di basement 1? Seingatku baru sekali, itu sekitar setahun yang lalu.  Awalnya saat istri tersayang bilang kalo seumurku yang sudah lewat 40, olahraga seminggu sekali nggak cukup. Emang jadual pasti olahragaku hanyalah sabtu pagi di lapang bola UPI. Itu ritual dengan prioritas tertinggi yang hanya bisa dikalahkan oleh hal yang urgent.

Seingatku peralatan fitness di basement ada yang rusak. “Treadmill-nya rusak satu kan pak?”, tanyaku sok tau. “Nggak kok, sekarang tiga-tiganya bagus”, jawabnya. Wah, surprise, karena setahuku hanya ada 2 alat treadmill dan satu rusak. Berarti sudah banyak perkembangan di ruang fitness itu. “Rame nggak pak?’, tanyaku lagi. Males aja fitness di ruang sekitar 5×6 meter yang disesaki oleh security yang sedang membesarkan otot-ototnya. “Nggak kok, kalo udah lewat jam kantor biasanya malah sepi”, jawabnya lagi. Wah boleh juga, pikirku. Kuniatkan untuk mencoba lagi fitness di situ, untuk mengejar olahraga dua kali seminggu sesuai petunjuk dokter tercinta.

Pagi ini tak lupa kusiapkan celana dan baju olahraga, sesuatu yang menyalahi kebiasaan persiapan ke kantorku. Mata istriku yang tajam dan awas bak elang betina melihatku menyiapkan baju olahraga itu, dan bertanya spontan, “Mau main bola ya pa?”. Pertanyaan yang agak nekat, karena dia juga tau jadual main bola adalah hari sabtu. “Nggak, mau fitness di kantor”, jawabku sambil memaksakan baju itu masuk ke tas kantor yang udah gendut.

Kuhabiskan seperempat piring maccaroni schoetel pagi ini. Menu yang nggak biasa. Kuabaikan saja nasi. Mencoba menantang pameo “Orang Indonesia belum makan kalo belum makan nasi”. Omong kosong. Badan kita hanya perlu komposisi seimbang antara karbohidrat, protein, sayuran. Kentang sudah memadai untuk karbohidrat. Bule yang seumur hidupnya mungkin gak ketemu nasi juga badannya bisa segede itu.

Sampai kantor, rutinitas awal kerja kujalankan.  Kubersihkan netbook mungil hitamku sebelum dibuka. Ntah udah berapa kali pertanyaan sinis atas netbook ini. Dengan standarisasi perangkat kerja di kantor, netbook diperuntukkan bagi karyawan yang levelnya tiga tingkat di bawahku. Ku tak peduli. Kupilih netbook ini saat masih dua tingkat diatas level yang ditetapkan. Ringan, dan cukup memadai kalo hanya untuk membuat dokumen masterplan, blueprint, presentasi sendiri maupun presentasi direktur. Daripada jatah notebook yang seharusnya, lebih berat dan lebih besar.

Setelah bersih, netbook kubuka dan kunyalakan. Selanjutnya absen masuk kerja, secara online ke sistem. Tak lama Acuy datang membawa secangkir kopi hitam. “Nuhun kang,” kataku sambil tersenyum padanya. Octane booster yang senantiasa kunikmati hari senin sampai jum’at. Kurasa tak sampai kecanduan caffeine, karena sabtu minggu biasanya kulalui tanpa kopi, kecuali ada pesta makan-makan di lapang bola, yang official drink-nya adalah kopi hitam juga.

Kuhabiskan kopi sambil membuka email kantor, gmail, cek agenda hari ini, buka detik.com, dan twitter. Ada berita yang cukup seru. Curhat dua orang presiden yang paling berkuasa di dunia. “Kau muak dengan dia, tapi aku harus berurusan dengan dia bahkan lebih sering daripada Anda,” selengkapnya baca sendiri aja. Ku-twit saja kutipan seru itu. Kuhabiskan kopi dan kulangkahkan kaki menyimpan cangkir kopi yang menyisakan ampas ke atas kulkas di dekat dinding. Saat melangkah kembali, samar-samar kudengar dentuman musik di lapang seberang kantor.

Menyambut pagi dengan senam irama

Kusingkapkan tirai dibalik kaca di belakang meja. Puluhan orang, yang kebanyakan manula, bergerak seirama dengan diiringi musik. Mereka bertepuk, berputar, melangkah ke kiri kanan, dapan belakang. Not my type of sport, indeed. Mereka memilih untuk sehat, kupikir. Perlu determinasi melawan kemalasan diri untuk bearada di arena olahraga, apapun jenisnya. Dan diriku pernah gagal mempertahankan ritme untuk mengunjungi fitness yang telah tersedia di basement 1. Pemandangan ini memotivasiku untuk berjuang untuk memiliki rutinitas olahrga sesuai persyaratan minimal dokter cantik tadi, dua kali seminggu. Kupilih untuk sehat, dan konsekuensinya ku harus mengorbankan waktu dan tenaga untuk mengajak diriku sendiri berolah raga.


Aksi

Information

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s




%d blogger menyukai ini: