Kegaduhan 1 Syawal

30 08 2011

‘Cause we all live under the same Sun
We all walk under the same Moon
Then why, why can’t we live as one

…   (Scorpions)

Hilal - Penanda 1 Syawal (timeslahore.com)

Di penghujung ibadah shaum (puasa) Ramadhan, selalu dinantikan hari raya umat Islam sejagat, Iedul Fithri. Aspek sosial religius yang menyertainya amat luar biasa. Fenomena mudik, misalnya, terjadi di setiap menjelang hari raya Iedul Fithri ini. Pulang ke kampung halaman, ke titik nol masing-masing, menjadi obsesi bagi sebagian besar muslim yang menjalankan ibadah shaum. Bersilaturahim, bersimpuh di depan orang tua dan orang-orang yang dituakan, bersalaman dan saling bermaaf-maafan dengan seluruh handai taulan, sebagai upaya untuk menyucikan diri dari kedzaliman horizontal sesama anak Adam. Ditambah lagi dengan hidangan yang tidak biasa, yang terkadang hanya disajikan setahun sekali. Resep-resep turun-temurun didemonstrasikan dan diajarkan kepada anak-anak. Bahkan di rumah, saya dan anak-anak menyempatkan membuat kue Quaker, yang tidak bisa ditemukan di toko kue manapun. Resep rahasia yang tak tertulis, yang tertanam di resident memory kami, lebih rahasia dari crabby patty.

Perputaran uang saat momen Iedul Fithri ini juga luar biasa. Bank Indonesia mencatat penukaran uang kecil di seluruh Indonesia mencapai Rp. 77 Trilyun. Uang kecil ini lazim dibagi-bagikan kepada anak-anak saat Iedul Fithri. Tak sedikit anak-anak yang sudah menyiapkan diri dengan tas mungil untuk menyimpan uang yang diterima dari orang tua maupun kerabat, uang besar maupun uang kecil. Tak terbersit sedikitpun rasa lelah di wajah mereka setelah sebulan penuh beribadah shaum. Senyum, tawa dan canda ria terlihat dimana-mana.

Bagaimana dengan mereka yang tidak beruntung dan tergolong dalam kategori orang yang dhuafa ? Selayaknya mereka pun menikmati kegembiraan di hari raya Iedul Fithri. Dengan mekanisme wajibnya Zakat Fithrah bagi setiap jiwa muslim dan Zakat Maal bagi yang telah nisab, yang dijalankan dengan amanat, maka adalah suatu kesalahan besar bilamana ada fakir miskin dan kaum dhuafa yang tidak menikmati kegembiraan Iedul Fithri.

Semua keceriaan menyambut Iedul Fithri ini sedikit ternoda dengan kegaduhan penentuan tanggal 1 Syawal 1432 H.  Bagi umat islam, penentuan awal  suatu bulan ditentukan dengan hilal, bulan sabit yang muncul pertama kali setelah bulan menghilang (bulan mati). Permasalahannya, ada beda penafsiran tentang hilal ini. Sebagian besar ulama dan didukung oleh para ahli astronomi, mensyaratkan hilal terlihat secara fisik oleh mata, sesuai tuntunan secara literal dari Rosululloh SAW. Namun demikian, Muhammadiyah tidak mensyaratkan terlihatnya hilal secara fisik, cukup dengan perhitungan (hisab) bahwa bulan sudah diatas ufuk, maka sudah masuk bulan Syawal. Prof Thomas Djamaluddin, Profesor Riset Astronomi Astrofisika, LAPAN; Anggota Badan Hisab Rukyat, Kementerian Agama RI menjelaskan perbedaan ini secara gamblang dalam tulisannya.

Meski bukan pertama kali terjadi, perbedaan penentuan 1 Syawal ini cukup mengganggu kekhusyukan ibadah shaum Ramadhan. Bagaimana tidak, di saat sebagian umat Islam sedang menunaikan sholat tarawih, ada sebagian kecil mesjid yang mengumandangkan takbir. Takbir yang memang disunahkan dibacakan hingga menjelang Sholat Iedul Fithri ini juga masih mengumandang ketika sebagian besar umat Islam melakukan sahur. Kita memang masih harus belajar banyak soal toleransi, bukan saja antar umat beragama, tapi juga sesama muslim.

Perbedaan keyakinan ini juga mengundang konsekuensi religius yang serius. Berpuasa di hari raya Iedul Fithri adalah haram. Demikian pula, berbuka (tidak berpuasa) ketika seharusnya seseorang itu berpuasa, adalah haram, dan tak cukup berpuasa setahun untuk menggantinya. Faktanya, umat muslim Indonesia tinggal di bawah mentari yang sama, berjalan di bawah bulan yang sama. Maka berhari raya Iedul Fithri di tempat yang sama, di hari yang berbeda adalah  lelucon religius yang konyol. Salah satu dari golongan umat yang berbeda hari raya Iedul Fithri itu pasti melakukan kesalahan. Kita memang bebas untuk memilih akan mengikuti pendapat yang manapun soal 1 Syawal ini. Tapi kita tak bisa terbebas dari konsekuensi pilihan kita, ketika kita di-hisab di hadapan-Nya.


Aksi

Information

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s




%d blogger menyukai ini: