Tentang Nuzulul Qur’an

18 08 2011

Al-Qur’an adalah kitab yang paling favorit buat saya. Inilah satu-satunya buku yang tak pernah membosankan untuk saya baca. Meski tak mahir berbahasa Arab yang menjadi dasar bahasa Al-Qur’an, berbekal mondok di pesantren selama bulan Ramadhan 19 tahun yang lalu untuk belajar Al-Qu’an sangat membantu saya untuk dapat memahami arti secara umum dari setiap ayat yang saya baca, meski literally beberapa kata dalam ayat itu tidak saya hafal artinya.

Bahkan ketika seleksi penghargaan Umroh tahun ini, lancarnya saya membaca suatu ayat secara random dan menterjemahkannya sempat membuat Pak Ustadz yang menguji setiap calon penerima penghargaan umroh bertanya : “Apakah bapak pernah belajar ulumul Qur’an ?’. Dan saya pun balik bertanya : “Ulumul Qur’an itu apa Pak Ustadz?. Dan Pak Ustadz pun tersenyum menjelaskan sambil tak habis pikir bagaimana caranya saya bisa sefasih itu menjelaskan ayat yang dibaca secara random, tanpa paham apa itu ulumul Qur’an. Lucky me, ayat yang secara ‘random’ harus saya baca dan terjemahkan adalah salah satu ayat yang sangat mashur tentang pentingnya kerukunan antar umat. Alhamdulillah, saya lulus seleksi, dan bersama istri diberangkatkan oleh Perusahaan tercinta, Telkom Indonesia, untuk umroh ke tanah suci. Alhamdulillah pula, bisa mengajak ibunda tercinta bersama ke sana.

Lalu kenapa dengan Nuzulul Qur’an? Sebagian umat Islam meyakini bahwa tanggal 17 Ramadhan adalah hari turunnya ayat pertama kali kepada Nabi Muhammad SAW, berupa 5 ayat pertama surat Al-Alaq, yang memerintahkan beliau untuk membaca. Untuk itulah sebagian umat Islam merayakannya dengan hari Nuzulul Qur’an, bahkan di Indonesia menjadi agenda nasional, sehingga di tingkat nasional acaranya dihadiri oleh Presiden dan Wakil Presiden sekaligus.

So what? Nuzulul Qur’an tak pernah masuk dalam agenda saya. Dalam konteks religius, saya hanya memiliki dua hari besar, yaitu Hari Raya Iedul Fithri dan Hari Raya Iedul Adha. Selain itu, bagi saya, just another day. Termasuk juga hari lahir saya sendiri, maupun hari lahir orang-orang yang saya cintai, just simply another day. No celebration required nor planned. Kalo pas ada rejekinya, makan-makan bisa kapan aja, membelikan hadiah juga bisa kapan aja, tak perlu menunggu ulang tahun. Tapi kalo Iedul Fithri saya menyambutnya dengan suka cita, membelikan orang2 tercinta hadiah, termasuk untuk saya sendiri tentunya. Di Iedul Adha, membeli ternak terbaik yang mampu saya beli, memakannya sebagian, dan memberikannya sebagian besarnya kepada orang yang saya kenal maupun tidak.

Jadi apa yang saya lakukan ketika tiba Nuzulul Qur’an, di saat banyak orang merayakannya? Saya merenung. Sejauh mana Al-Qur’an benar-benar diterapkan dalam hidup saya. Perintah mana yang belum saya laksanakan? Larangan mana yang masih saya kerjakan? Cerita apa yang belum saya percayai? Dan sejauh mana saya menumbuhkembangkan spirit untuk membaca dan mengamalkan Al-Qur’an dalam kepemimpinan saya di rumah? Tentu saja, renungan seperti ini tidak perlu saya lakukan setahun sekali. Saya harus lebih sering melakukannya.

Bagaimana dengan Anda?

 


Aksi

Information

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s




%d blogger menyukai ini: