Pernikahan Abad Ini

29 04 2011

"Wedding of The Century"

Hari ini digadang-gadang tengah berlangsung the Royal Wedding, bahkan dijuluki sebagai the Wedding of the Century. Ya, Prince William, pewaris tahta Kerajaan Inggris di antrian Raja Inggris berikutnya akan menikah dengan Kate Middleton yang segera akan bergelar Lady. Antrian Raja Inggris ? Ya, tentu saja, karena bapaknya sang calon pengantin yaitu Pangeran Charles aja masih ngantri karena sang Ibu, Queen Elizabeth II masih betah terus menjadi Ratu Inggris di usia lanjutnya dan tak rela menyerahkan tahta ke anaknya.

Pernikahan adalah suatu keniscayaan yang akan dialami oleh semua anak manusia yang terlahir ke muka bumi, tentu saja dalam keadaan normal. Dalam keadaan tidak normal, ada juga anak manusia yang tidak pernah menikah selama hidupnya. Ntah karena memang sudah keburu dipanggil kembali menghadap-Nya sebelum sempat menikah, atau memang karena tak jua menemukan tambatan hati. Atau punya tambatan hati tapi kadung sudah dimiliki orang lain, seperti tertulis di banyak truk antar kota : “Kutunggu Jandamu”.

Pastinya, orang bisa bersilang pendapat soal gelar Wedding of the Century. Bagi saya sendiri, pernikahan saya adalah wedding of the century. Narsisme pol. Apa ukurannya sih? Kalo diukur dari jumlah biaya yang dikeluarkan untuk pernikahan, ribuan petugas keamanan yang terlibat, ratusan juta bahkan mungkin miliaran pasang mata menonton prosesi pernikahan di televisi, ratusan ribu yang menonton langsung di Westminster Abbey, memang sah-sah aja sih pernikahan Prince William & Kate disebut sebagai Wedding of the Century.

Media pun gencar memberitakan persiapan hingga detik-detik prosesi pernikahan. Saya jadi teringat pernikahan Ibunya Prince William, yaitu Lady Diana dengan Pangeran Charles, puluhan tahun yang lalu. Sepertinya sakral dan berkelas sekali. Tapi apa yang terjadi puluhan tahun kemudian? Perselingkuhan di kedua belah pihak terjadi. Bahkan Lady Diana tewas secara tragis dalam kecelakaan mobil, yang disinyalir karena sopir mobil panik dikejar-kejar paparazzi yang memburu berita dan gambar saat sang Lady bersama dengan Pria Idaman Lainnya.

So what dengan kemegahan suatu pernikahan? Hakikinya, proses pernikahan adalah masa yang teramat sangat singkat dibanding dengan masa pernikahannya sendiri. Mau dibuat sederhana ataupun dibuat semegah mungkin, prosesi nikah akan segera dilupakan oleh pelaku maupun penonton. Intinya adalah bagaimana kita mengisi pernikahan kita. Waktu saya masih SMA dulu, seorang mahasiswa yang sudah menikah berceloteh tentang pernikahannya. Mahasiswa ini keturunan Arab, gantengnya pol. Istri pilihannya pun bunga kecamatan, yang membuat orang mudah melihat mereka sebagai pasangan serasi. Apa dia bilang? Ganteng atau cantik hanya dilihat 3 bulan, selebihnya, kita hanya melihat dan merasakan tindak-tanduk pasangan kita.

Suatu premis yang rasanya cukup bijak. Kalau memang rupa dan materi adalah faktor dominan dalam suatu pernikahan, kenapa juga infotainment tak henti-henti menayangkan kisah kawin cerai para artis? Kurang ganteng apa suaminya, kurang cantik apa istrinya? Toh akhirnya pisah juga dengan segala kehebohannya. Satu hal yang saya hakkul yakin, tak ada satu pernikan pun yang tidak dilanda badai. Dua insan berbeda karakter dan latar belakang berbeda disatukan, maka perbedaan adalah suatu hal yang pasti. Bagaimana kita menyikapi perbedaan itu adalah kunci keberhasilan suatu pernikahan.

Pernikahan saya sendiri baru berumur 14 tahun, dan tak kurang diwarnai dengan perdebatan kecil maupun besar dengan istri saya.  Perdebatan kecil cepat diselesaikan dengan saling colek saja. Perdebatan besar kadang berlarut sampai tidur punggung-punggungan, banting buku, cercaan, dan cemberut sampai pipi pegel.  Kesadaran bahwa saya memilih istri saya untuk menjadi istri saya tanpa paksaan siapapun, sehingga saya bertanggung jawab penuh atas pilihan itu, ditambah dengan wajah innocent tiga putra-putri kami, membuat saya mampu bertahan dalam situasi chaos penikahan, dan belajar secara berkelanjutan untuk terus memahami karakter istri saya, juga melakukan adjustmen terhadap ekspektasi saya terhadap istri saya. Itulah kenapa saya merasa pede bahwa pernikahan saya adalah wedding of the centuries. Dengan keyakinan mendalam bahwa istri saya tetap mendampingi saya bahkan dalam kehidupan setelah mati , bearabad-abad yang akan datang. Pangeran William masih harus membuktikannya di tahun-tahun kedepan. Pangeran Charles bahkan sudah bisa dikatakan gagal dalam pernikahannya.

Siap untuk menjadikan pernikahan anda sebagai the Wedding of the Century?


Aksi

Information

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s




%d blogger menyukai ini: