Hendak dibawa kemana generasimu, Nak ?

21 04 2011

Pashmina sebagai hijab

Si sulung cantik sedang di depan cermin memilih dan mematut-matut pashmina yang dibeli ibunya di kota Makkah. Entah kenapa saat umroh kemaren, nafsu belanja ibunya, sang Dokter, agak teredam. Dengan tetap bersyukur atas berlimpahnya rezeki yang kami terima, bu Dokter hanya membeli beberapa lembar pashmina asal India yang dijual dengan harga yang sangat menakjubkan, 5 SAR (Saudi Arabian Riyal). Dengan kurs 1 SAR yang setara dengan sekitar Rp.2.300, maka harga satu potong pashmina itu tak sampai Rp. 15 ribu rupiah. Nilai yang cukup membuatku geleng-geleng kepala. Meski bukan pashmina kashmir kualitas baik, yang tahun 2003 pernah kubeli di Bangalore seharga Rp.300 ribuan, pashmina 5 SAR itu tetap saja cantik dan pantas sebagai cindera mata. Busana memang tak selalu harus mahal, terlebih bila yang memakainya dari sononya sudah good looking, busana murah pun bisa fit in dan terlihat berkelas. Pashmina ini banyak dipakai sebagai hijab oleh wanita arab.

Sambil sibuk memilih-milih pashmina, si Sulung Cantik pun mulai berceloteh. Usianya baru 13 tahun, baru kelas 7. Sistem penamaan kelas ini bisa membuat generasi jadul berkerut keningnya. Kelas 7? emang sekarang kelas sampe berapa? Nah bagi yang belum update, SMP atau setara sekarang diberi nomor 7-9. Sementara SMA atau setara diberi nomor 10-12. Si Sulung Cantik masih kelas 7, tapi tinggi badannya sudah sama dengan ibunya. Generasi sekarang memang diberkahi gizi yang jauh lebih baik dibanding generasi kami dulu. Mereka tak pernah mengenal sarapan dengan roti sumbu. Di tahun 80-an, bapaknya masih mengalami sarapan roti sumbu, karena penghasilan kakek mereka memang memaksa berhemat dengan pengeluaran, terlebih dengan 6 mulut kecil yang perlu diberi makan.

Sementara itu, Si jagoan, masih berkutat dengan soal-soal detik-detiknya dengan dikawal ketat bu Dokter, karena sebentar lagi di Ujian Nasional tingkat SD. Si bungsu keriting asyik dengan gasing ajaibnya yang bisa bernyanyi dan mengeluarkan cahaya berpendar. Gasing modern yang tak repot dengan tali, tapi sudah menggunakan sistem pegas, bisa bernyanyi, berwarna-warni, dan harga yang hanya 7,5 SAR. Salah satu bentuk keajaiban industrialisasi negara Cina. Kemi berlima, dengan bapaknya yang masih sibuk memeriksa email setelah 10 hari meninggalkan dunia kerja, berkumpul di kamar tidur utama. Kamar yang didesain cukup besar untuk menampung kami semua. Kamar hangat  yang menjadi favorit untuk berkumpul, dibanding dengan ruang keluarga yang cenderung dingin.

Sesekali bu Dokter dan suaminya mengomentari pashmina yang dipakai si Sulung Cantik. Satu persatu dicobanya pashmina yang dibeli ibunya. Jatah yang didapatnya adalah 2 potong. Sisanya harus dibagi untuk saudara-saudara bu Dokter. Ada sesal juga, kenapa kemarin nggak beli lebih banyak, sehingga jatahnya bisa bertambah.  Penyesalan yang tak berlebihan,  hanya disertai dengan harapan suatu saat akan dapat kembali ke tanah suci. Beribadah dengan khusyuk di tanah haram, dan berbelanja di sela-sela waktu.

Jawaban UN - Bocor?

Dan yang mengagetkan adalah salah satu celoteh si Sulung Cantik : “Pa, tau nggak, teh Kia sama temen-temennya beli jawaban soal Ujian Negara !”.  Seketika bapaknya dan bu Dokter menghentikan kegiatan masing-masing dan menginterogasinya. “Gimana caranya?”, “Beli sama siapa?” Dua pertanyaan yang hampir berbarengan harus dijawab si Sulung Cantik. “Ya beli sama orang Diknas, 2 Juta !, dibayar nanti setelah Ujian Nasional, kalo kuncinya bener itu juga”. Bu Dokter pun komentar, “Pantesan nilai UN tahun kemarin pada tinggi-tinggi !, tapi mama tetap bangga dengan nilai anak-anak mama yang jujur daripada dapat nilai tinggi tapi curang !”

Trenyuh hatiku. Sudah sebegitu rusakkah sistem pendidikan negeri ini ?. Kabar buruk ini memang tidak dapat diklarifikasi. Tapi kalau memang benar adanya bahwa jawaban soal ujian bisa dibeli, maka telah terjadi perusakan moral kejuangan bangsa secara massal. Anak-anak kelas 9 dan kelas 12, yang suatu saat akan menjadi pemimpin negeri ini, sudah diajari sejak dini bahwa ‘keberhasilan’  bisa dibeli dengan uang. Sistem bisa di by-pass, ada short cut untuk sukses, dan yang paling parah, uang bisa mengatasi semua masalah. Mereka akan besar sebagai hamba uang. Mereka akan tertinggal semakin jauh dengan bangsa-bangsa besar Asia seperti Cina dan India yang semakin cepat bergerak menuju negeri yang kaya dan maju.

Dan aku pun tak tau harus berbuat apa. Hanya bisa merutuki pemimpin negeri ini, yang membiarkan kebobrokan fundamental seperti ini terjadi di depan mata. Semoga anak-anakku mampu mengarungi hidupnya dengan istiqomah di jalan yang terjal dan penuh duri ini.


Aksi

Information

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s




%d blogger menyukai ini: