Semoga Tim PSSI Kalah !

21 02 2011

Sepakbola adalah bagian tak terpisahkan dari hidup saya. Terlahir di masa sepakbola tak bisa menjadi mata pencaharian, saya pun tak pernah secara serius menekuni sepakbola. Tak pernah terbersit sedikitpun dalam angan saya di waktu kecil untuk menjadi pemain bola profesional. Tapi, kalau urusan sepak menyepak bola, ingatan saya cukup kuat untuk melompat-lompat ke petualangan sepakbola saya di waktu kecil sampai sekarang.

Pernah suatu kali saat saya masih TK (Prof Dr. Moestopo Bandung), mama tercinta, seorang Siregar sejati, mengacung-acungkan sapu lidi ke lapang tanah di belakang rumah, menandai bahwa sudah waktunya saya membaca Iqro, tapi saya belum juga nongol di rumah. Upaya pelarian yang gagal dari sabetan sapu lidi, membekas di tangan kanan berbentuk huruf Y, hasil sangkutan di kawat berduri demi menghindari sabetan sapu lidi di tengah sorakan teman-teman bermain bola saya.  Ketika menikah, saya memandang goresan di kulit huruf Y ini dengan tersenyum, tato alami untuk kekasih tercinta, Yhie.

Waktu saya SD di Surabaya (MI Khadijah), bermain bola menjadi menu rutin sebelum masuk sekolah yang berlangsung siang hari. Dengan celana pendek hijau, saya paling bersemangat bermain bola. Pernah suatu kali seorang teman yang kesal karena saya mencetak gol terlalu banyak, menjegal saya dengan sengaja tanpa ada bola, mencari gara-gara. Sadar kalau badan saya biasa aja ukurannya, dan juga darah Siregar tidak mengalir cukup deras, saya melengos menjauhi urusan, tipikal kebanyakan orang Sunda seperti bapak saya.

Ketika saya menginjak usia SMP (SMPN 5 Bandung), sekolah siang juga waktu kelas 1, bermain bola sebelum bel masuk adalah hobi yang tak pernah dilewatkan. Dengan bola plastik, bermain bola di lapang basket yang berlantaikan aspal, jangan pernah berfikir untuk jatuh. Aspal panas dengan ganas akan menyambut setiap daging dan tulang yang berani menyentuhnya. Dengan jumlah pemain yang bak cendol dalam gelas, saya masih bisa meliuk-liuk mencari celah untuk menerobos pertahanan lawan. Ketika pelajaran sudah dimulai, saya masih belum selesai mengipas-ngipas badan yang masih berkeringat, di bawah tatapan guru yang berkerut dahinya memperhatikan.

Menginjak SMA (SMAN 3 Bandung), tim kelas satu satu-satunya yang masuk ke semifinal antar kelas 1-2 hanyalah kelas saya, meski akhirnya harus mengakui kekalahan dari tim kelas 2 yang menang besar badan dan menang intimidasi.  Lapang Bali, yang menjadi lapang sharing SMAN3 dan SMAN5, menjadi saksi bahwa pernah sekali waktu saya menikmati posisi sebagai kiper.

Saat kuliah (STT Telkom Bandung, sekarang IT Telkom), sepakbola agak jarang saya lakukan. Selain lapang yang tidak mendukung, intensitas pendidikan ikatan dinas dengan pressure yang lumayan tinggi membuat saya tak terlalu intens berurusan dengan sepakbola saat masih kuliah. Seingat saya, tim STT Telkom pernah ikut liga mahasiswa, dengan hasil yang cukup memalukan karena selalu dipecundangi lawan-lawan dengan skor besar. Sepertinya kami memang terlalu serius kuliah saat itu.

Setelah bekerja di BUMN telekomunikasi terkemuka di negri ini, hobi sepakbola saya tersalurkan lagi. Pertandingan sepakbola antar Divisi di Bandung adalah momen yang paling dinanti-nanti. Pertandingan demi pertandingan yang berlangsung di saat week-end selalu mampu menyegarkan badan dan pikirian setelah seminggu berkutat dengan rutinitas kerja. Pernah suatu waktu saya dimutasi temporer ke Jakarta, entah dari mana manajer tim Jakarta tau kalau saya hobi main bola, dan menjadi pemain cabutan untuk tim Jakarta Pusat. Hasilnya tidak mengecewakan, muncul sebagai top skorer, mencicipi lapang Lebak Bulus, dan mendapat amplop berisi uang sebagai tanda terima kasih. Uang yang saya pakai untuk mentraktir teman2 dekat di Jakarta, yang diolok-olok sebagai ‘uang kaki’.

Sampai saat ini pun, sudah beranak 3, saya masih setia mengikuti pertandingan demi pertandingan dengan teman-teman kantor. Semarang, Cirebon, Tasikmalaya, Jakarta, Cianjur, adalah kota-kota yang pernah kami datangi untuk bertanding bola. Stadion Siliwangi, Jalak Harupat, Lebak Bulus, adalah tiga stadion besar yang pernah saya injak injak sebagai pemain bola. Senayan, sudah masuk target kami berikutnya.

Darah bola mengalir cukup deras di tubuh saya. Mamak saya, adik mama, adalah pemain Timnas di era Galatama. Mak Locan, saya memanggilnya, adalah pemain defender Pardedetex, dan sempat beberapa kali memperkuat timnas, diantaranya melawat ke Iran. Saat Pardedetex bertanding di stadion siliwangi, saya tidak menonton di tribun penonton, tapi menonton di bench, digendong Mak Locan dan berangkat bersama tim dari penginapan.  Saya tak pernah mengikuti sekolah bola, tapi video tape teknik-teknik dasar bermain bola yang Mak Locan berikan habis saya hafal dan praktekkan.

Dengan terlahir di Medan, sempat tinggal di Surabaya, besar dan bekerja di Bandung, tinggal di Cimahi, membuat saya bingung sendiri memilih klub kesayangan. Di era perserikatan dulu, pastinya kami sekeluarga membela PSMS, dan saat PSMS mengalahkan Persib Bandung di final, kami pun berjingkrak bersama, sambil menjerit tertahan, kuatir rumah dilempar orang, karena kami tinggal di kota Bandung. Saya menonton bola di TV untuk menikmati pertandingannya, dan tidak memihak secara emosional tim manapun. Pastinya, masih ada ‘sedikit’ ikatan emosional dengan PSMS, Persibaya dan Persib. Jika 3 tim ini bertanding, saya senang jika mereka menang.  Saya tidak pernah datang ke stadion untuk menonton pertandingan sepakbola. Sayang ‘membuang waktu’ bila pertandingan tidak bermutu, atau malah rusuh. Kalau di TV pertandingan membosankan, saya tinggal ganti channel.

Garuda Pancasila

Saat turnamen AFF 2010 yang lalu, eforia Timnas Garuda membangkitkan semangat nasionalisme sebagian besar rakyat Indonesia, termasuk saya.  Saya pun menonton dengan berdebar, berharap dan berdoa agar timnas menang. Perjuangan Christian Gonzales, Irfan Bachdim, Firman Utina dkk, saya acungi jempol. Mereka layak disebut pejuang negara. Tampil demikian impresif sepanjang turnamen, meski tak juara, mereka tetap juara di hati saya dan kebanyakan rakyat Indonesia.

Selanjutnya adalah mimpi buruk buat saya. Nurdin Halid, seorang terpidana korupsi, pimpinan tertinggi PSSI. Mencoba netral, bahwasanya bisa saja Nurdin memang punya jasa pada sepakbola Indonesia. Faktanya, tak ada satupun gelar timnas peroleh selama kepemimpinannya. APBD di seluruh negri digerogoti untuk membayar pemain bola profesional di Liga Super, Liga Divisi Utama maupun liga lain di bawah naungan PSSI. Uang yang diperoleh dari keringat rakyat lewat pajak ini dihamburkan untuk industri sepakbola. Hanya di Indonesia. Kedunguan yang nyata.

Kemunculan Liga Primer Indonesia membawa secercah harapan bahwa sepakbola bisa dijalankan sebagai industri. Dengan model bisnis yang bisa kita tiru dari liga-liga terbaik di Eropa, Amerika selatan, maupun negara tetangga kita Jepang dan Korea Selatan. Menjalankan sepakbola sebagai suatu Industri, memberikan alternatif mata pencaharian bagi mereka yang berbakat, dan menjadi duta bangsa mereka masing-masing untuk bertarung di tingkat tertinggi pesta sepakbola, Piala Dunia. Kita? tak satupun peserta AFF bermain di Piala Asia. AFF memang liga tarkam (antar kampung) di tingkat percaturan sepakbola dunia. Liga Primer belum menunjukkan hasil. Liga Super masih terus menyedot uang rakyat lewat APBD. Cara terbaik bagi saya untuk tetap menjadi orang waras dan tidak naik tensi darah adalah menutup mata dan telinga atas tingkah polah Nurdin Halid dan kroninya, melupakan channel ANTV yang menyiarkan liga super dan liga ti-phone, dan menghibur diri dengan menonton Liga Primer Indonesia.

Tanggal 23 Februari 2011 di ajang pra piala Dunia, Indonesia menghadapi Turmenistan. Keputusan PSSI yang melarang pemain liga primer manjadi pemain timnas, menambah panjang daftar dosa mereka atas sepakbola Indonesia. Ini timnas, tak penting seorang pemain bermain di mana, selam dia berpaspor merah putih, berhak untuk berkontribusi. Kepicikan PSSI dan juga ketololan Alfred Riedl yang manut saja pada juragan yang menggajinya, menunjukkan bahwa mereka lebih mencintai dirinya, ego pribadi dan golongannya, dibandingkan mencintai kejayaan bangsa Indonesia di kancah sepakbola. Beberapa orang yang bermain di Piala Dunia Afrika Selatan 2010 yang lalu, tak punya klub untuk bermain. Saat berbicara lambang negara, maka sepatutnya kepentingan nasional di atas segalanya.

Ini bukan timnas, karena tidak mencerminkan kekuatan nasional, ini Tim PSSI. Sudah seharusnya mereka tidak memakai lambang Garuda di jersey-nya. Mereka seharusnya memakai lambang PSSI. Saya mendoakan sepenuh hati agar tim PSSI kalah. Dan saya pun akan berduka bila mereka menang. Kemenangan yang hanya akan semakin menumbuh suburkan kebebalan para pengurus PSSI. Semoga mereka semua segera insyaf. Sepakbola adalah olahraga terpopuler sejagat raya. Berilah kesempatan kami semua menikmatinya, melihat merah putih berkibar di pentas tertinggi. Dan bila kalian para pendholim tak juga jera, doa kami akan mengutuk kalian. Dan berhati-hatilah, doa kaum yang teraniaya senantiasa dikabulkan oleh-Nya.


Aksi

Information

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s




%d blogger menyukai ini: