Pembunuhan (tak) berencana atas @tikuyuz

31 12 2010

rel kereta, saksi sumpahku - dicts.info

Ingatan saya melompat mundur 25 tahun yang lalu. Saat itu siang hari. Pulang sekolah dari SMPN 5 Bandung di Jalan Sumatera. Saya bersama 3 orang member 4 sekawan geng GB menyusuri rel kereta api yang melintasi Jalan Jawa. Rizal aka Golden Bullet, Bondan aka Guardian Boy, Yuri aka Gallant Bunny, dan (damn) satu orang lagi lupa. Saya ngesok pake nama peluru emas karena diantara kami berempat, saya lari paling cepat. Bondan ngesok jadi pelindung cewek-cewek, meski dia paling kurus.  Yuri emang paling gallant, toh dia paling kaya diantara kami berempat. Si ndut berkaca mata itu, ntah kenapa nama dan GB-nya terhapus dari memory, meski setiap lewat jalan Bengawan saya masih ingat rumahnya.

Berhenti di pinggir rel, kami bermain-main dengan koin 50 perak. Koin dulu bagus mutunya, gak kayak sekarang. Ditaruh di atas rel, dan bersabar menunggu kereta lewat dan menggilasnya. Hasil gilasan rel kereta yang membuat bentuk koin jadi gak bentuknya selalu membuat kami ngakak berkepanjangan. Lalu ntah siapa yang mulai, tiba-tiba sudah ada 4 batang rokok. Tiga teman saya menyalakannya dan mulai merem melek menikmati rokok merek. Mungkin mereka membayangkan sedang menjadi James Bond dengan 2 cewek blonde disampingnya.

yang tak terlihat perokok - entertainment-electronics.org

“Ayo zal, jangan kayak bencong, cobain nih rokok !” kata salah satu sobat saya. Nggak rela disebut bencong, saya pun mengambilnya. Mereka berebut membantu menyalakan. Dan saya pun sok-sok an mengisap rokok, meski asap hanya sampai di rongga mulut, terus disembur lagi keluar. “Yang bener dong ngisepnya, nih liat…” kata salah satu dari mereka. Dan dia pun mendemonstrasikan teknik merokok sampai ke paru-paru dengan lihai, dan mengeluarkannya mengepul membulat. Hebat, saya pikir saat itu. Saya pun mencoba mengisap rokok itu ke paru. Yang terjadi, paru-paru saya serasa terbakar, dan saya pun terbatuk keras. Mereka tertawa terbahak-bahak. Saya membanting rokok saya dengan kesal. Dalam hati saya bersumpah, “Tak kan lagi seumur hidupku aku menyentuh barang setan itu !”. Dan ketika beberapa tahun yang lalu bos saya ngejek, “Kamu gak ngerokok kayak bencong aja !”, saya pun sigap membalas, “Bapak ini gimana, sekarang ini semua bencong ngerokok !”.

Saya pikir, rokok adalah salah satu penemuan manusia yang mudharat-nya (kejelekannya) jauh lebih besar dari manfaatnya. Sudah ribuan tulisan dibuat untuk menjelaskan betapa berbahayanya rokok bagi manusia. Sejauh ini, hanya dua alasan yang ‘sepertinya’ valid. Satu, Kakek istri saya perokok berat, dan meninggal di umur 83 tahun karena jatuh dari sepeda. Dua, kalo rokok dilarang, kasihan petani cengkih dan tembakau. ‘Sepertinya’ valid, tapi belum tentu benar. Kalo diotopsi, mungkin paru2 kakek istri sayang bolong2. Bisa jadi juga dia oleng karena gak cukup dapat oksigen untuk mengayuh sepeda. Petani cengkih & tembakau? mereka tak terlahir sebagai petani cengkih dan tembakau. Kapitalisme yg membuat mereka menjadi petani cengkih dan tembakau. Konversi saja mereka menjadi petani coklat, atau apapun yg cocok dengan tanah garapan mereka.

Saya nggak punya pengalaman berhenti merokok. Jadi jujur saja, saya tidak paham seperti apa rasanya saat nikotin dalam darah menguasai neuron saraf dan memaksa perokok untuk mengambil sebatang rokok dan menikmatinya. Bos saya berhenti merokok pun karena dia masuk rumah sakit dan diopname dengan perdarahan hebat di hidung. Dokter bilang, saat itu fifty-fifty antara hidup dan mati. Karena masih betah hidup, dia pun berhenti merokok.

Ada dua pemikiran saya sebagai pendorong untuk berhenti merokok :

  1. Berhentilah membakar uang. Dengan harga sebungkus rokok antara Rp 8 – 12 ribu, dengan asumsi sehari setengah sebungkus rokok, maka sebulan seorang perokok membakar sekitar Rp. 150 ribu. Setahun dia membakar uang Rp 3 juta lebih. Banyak hal positif yang bisa didapat dengan uang Rp 3 juta kan? Seorang teman pernah cerita, dia menghitung bersama uang yang dibakar setahun dengan seorang perokok. Setelah ketemu angka sekitar Rp. 2 juta-an, dia memberikan uang Rp 2 juta itu ke si perokok, dengan janji menyicil setiap hari seharga rokok yang biasa dia beli, dan syaratnya berhenti merokok. Cara itu berhasil, si perokok berhenti total dari rokok.
  2. Berhentilah menjadi pembunuh. Baru kemarin saya dikagetkan saat membaca timeline saya di twitter, tentang seorang tweep yang saya follow, namanya @tikuyuz. Saya hanya kenal dia di dunia maya, itupun sebagai follower. @tikuyuz meninggal dunia karena penyakit Bronchopneumonia Duplex atau Flex di Paru akibat menjadi perokok pasif. Para perokok di sekitar @tikuyuz tanpa disadari telah melakukan pemufakatan jahat untuk membunuhnya melalui asap rokok. Saat ini @tikuyuz yang meninggal dunia, besok mungkin anak, istri, suami dan orang-orang terkasih para perokok. Jadi, wahai perokok, berhentilah membunuh manusia, dan dirimu sendiri.

Aksi

Information

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s




%d blogger menyukai ini: