Terus mencari strategi baru (failing forward)

27 12 2010

Menyesali kekalahan - kompasiana.com

Setelah euforia memuncak karena hasil yang sangat mengesankan sepanjang penyisihan Piala AFF Suzuki 2010, tadi malam Timnas Garuda menelan kekalahan pahit 0-3 dari Timnas Malaysia di Stadion Bukit Jalil, Malaysia. Hilang semua permainan apik di semua lini yang dipertontonkan sepanjang penyisihan group hingga babak semifinal. Statistik gol 15-2 tak berarti apa-apa.  Sama sekali tak menunjukkan ketajaman di lini depan, kekokohan di lini tengah, dan ketangguhan di lini belakang. 3 gol bersarang bersih di gawang Timnas Garuda yang dijaga Markus. Ketiga gol dalam selang waktu tak lebih dari 15 menit di babak kedua, menunjukkan hilang fokus dalam suatu pertarungan adalah malapetaka.

Tak perlu berlama-lama berduka. Seperti yang dikatakan Thomas Edison ketika laboratoriumnya terbakar sampai rata dengan tanah, “Syukur pada Tuhan, semua kesalahan kita terbakar habis. Sekarang kita dapat memulai lagi sesuatu yang baru.” Beberapa ‘kesalahan’ yang patut kita bakar habis diantaranya adalah :

  1. Membawa sepakbola ke ranah politik dan pencitraan.  Setelah Timnas Garuda menuntaskan babak penyisihan dengan mengesankan, alih-alih melakukan evaluasi atas kesuksesan, para elit politik berlomba-lomba cari muka seolah punya andil atau mencitrakan diri sebagai pendukung utama Timnas. Undangan makan dan kunjungan ke pesantren adalah hal yang tidak relevan dengan sepakbola modern. Coach Alfred Riedl tak hadir dalam dua acara ini. Tersirat, dia tak setuju, tapi tak berdaya menghadapi direct order ketua umum PSSI. Selain itu elit partai politik pun menjadikan Timnas Garuda sebagai kendaraan untuk mencari popularitas. #nurdinturun pun sempat menjadi trending topic di twitter.
  2. Media expose berlebihan. Bangsa ini sudah terlalu lama tidak mempunyai tokoh pahlawan masa kini. Para pemimpin, tokoh politik, anggota dewan, alih-alih menjadi role model pahlawan, perilaku mereka membuat saya sering mengernyitkan dahi. Sampai ada pameo “Politikus itu seperti diapers, semakins sering diganti semakin baik”.  Tak sedikit dari mereka berakhir di penjara karena korupsi, membuat kita malu sebagai bangsa.  Nah, dalam keadaan carut-marut seperti itu muncullah para Garuda yang berjuang berpeluh keringat menegakkan bendera merah putih di tiang tertinggi. Nasionalisme sontak bangkit mengiringi sepak terjang mereka. Jadilah mereka pahlawan-pahlawan baru yang membuat bangga kita sebagai bangsa. Selanjutnya media mengambil alih, bergerilya saling bersaing mewawancara pemain, tim medis, siapapun yang mau bicara. Hot news !!!. Fokus pada pertandingan pun berkurang.
  3. Tidak menyiapkan tim untuk situasi di Bukit Jalil. Sudahlah tim tidak fokus pada partai Final karena berbagai agenda, sepertinya tidak ada simulasi Bukit Jalil dalam latihan. Sebagai tim yg tidak pernah keluar kandang sepanjang kompetisi, atmosfer di kandang lawan belum pernah dicoba. Simulasi disoraki penonton dan ditembak sinar laser, seyogyanya dapat diujicoba di Jakarta. Hal ini jauh lebih bermanfaat dibanding menghadiri undangan jamuan makan ataupun kunjungan ke pesantren. Bukan tak penting berdoa, kita semua mendoakan kejayaan timnas, tapi kita tetap harus tahu prioritas yang harus kita kerjakan dalam waktu yang terbatas.

Selanjutnya kita perlu merancang strategi untuk kejayaan Timnas Garuda, bukan hanya di level regional Asia Tenggara seperti AFF atau Sea Games, tapi menuju pentas dunia. Kalau Jepang dan Korea bisa menembus pentas dunia, kenapa kita tidak bisa? Dengan kondisi fisik yang relatif sama,  seharusnya kita pun bisa. Kita punya sumber daya yang cukup memadai. Tanah melimpah untuk membangun stadion kelas dunia. Anak-anak yang menyenangi sepakbola bertebaran di seantero tanah air. Fanatisme supporter atas klub yang cukup besar. Suatu survey menunjukkan bahwa liga dengan penonton terbanyak di Indonesia adalah Liga Inggris, dan di urutan kedua adalah Liga Indonesia !.

Nah, apa yang dapat kita lakukan agar Timnas Garuda bisa berlaga di level dunia? Sudah berpuluh tahun eksistensi PSSI, tak sekalipun kita tembus ke level Dunia. Boro-boro level dunia, level Piala Asia tahun 2011 ini pun kita tak lolos. Kegagalan menjadi patok untuk mengevaluasi ulang, menyesuaikan, dan memulai lagi, hanya saja, lebih baik dari sebelumnya. Max DePree bilang, “Kita tak akan menjadi seperti yang kita perlukan dengan tetap menjadi seperti apa adanya”.  Mengulang-ulang cara-cara lama tidak akan membawa kita kemana-mana. Harus ada penyempurnaan strategi yang berkelanjutan sampai kita tiba di pentas yang kita inginkan, apakah itu di level Asia atau bahkan Dunia.

Perumusan strategi tak mungkin dilakukan satu orang saja. Demikian pula, kesuksesan sebuah tim adalah buah dari kontribusi seluruh sumber daya di dalam tim itu. Masalah terbesar muncul manakala kita sendiri tak paham betul apa yang kita inginkan. Misalnya, kita ingin Indonesia masuk ke pentas dunia. Kapan ? tak jelas. Tentukan dulu dengan pasti Apa yang kita inginkan, baru kita rumuskan Bagaimana mewujudkannya. Kaidah ini berlaku untuk apapun mungkin dilakukan manusia di dunia ini.

Yuk kita mulai. .

  1. Visi apa yang kita inginkan ?  Timnas Garuda ke pentas Asia 2015. Juara 3 Asia 2019, dan  ke pentas dunia tahun 2022.  Begin with the end in mind, begitu Stephen Covey bilang.  Beranilah bermimpi, dan bertanggung jawablah untuk mewujudkanya.
  2. Bagaimana mewujudkan mimpi itu? Jangan  pakai cara-cara instan. Semua kesuksesan adalah hasil dari proses yang baik dengan program yang rinci dan kinerja yang terukur. Naturalisasi, misalnya, adalah short-cut yang diambil oleh pemimpin yang putus asa dan mementingkan hasil jangka pendek dibandingkan dengan kejayaan jangka panjang.
  3. Leadership no.1. Artinya, kita mulai dari Ketua Umum PSSI dan para pengurus PSSI adalah orang2 yang bermimpi dengan berani, merumuskan dan merevisi strategi dengan tepat dan bekerja dengan istiqomah sesuai strategi.
  4. Pembinaan usia dini. Lionel Messi sekarang berusia 23 tahun, Cristiano Ronaldo berusia 25 tahun. Usia emas pemain bola. Jadi, agar Timnas Garuda berada di usia emas saat kita ke pentas dunia tahun 2022, tahun 2011 ini mereka berusia 13 tahun.  Carilah bibit2 unggul usia itu sekarang, dan bina dengan program kelas dunia. Jangan ngarang sendiri programnya. Belajar dari Korea dan Jepang saja.
  5.  


Aksi

Information

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s




%d blogger menyukai ini: