Hukum Citra

20 12 2010

Original Text : The Maxwell Daily Reader – John C Maxwell – 20 Desember

Hukum Citra

sumber : ysutarso.wordpress.com

Sebagai pegawai yang sepanjang karir belum pernah punya anak buah, maka berusaha mencoba berbagi pengalaman sebagai leader adalah kekonyolan. Meskipun assessment center menyatakan bahwa dari berbagai hasil pengujian psikologis dan teknik-teknik manajemen, nggak ada masalah dengan leadership saya🙂. positining yang lebih pas adalah sebagai follower yang melihat apa yang dilakukan para leader. Leadership experience saya paling sebagai bapak 3 anak dan manajer sekaligus kapten tim futsal😀

Ketidakpastian membesar dan membuat kacau sebagian besar orang, terlebih pada masa sulit. Citra hidup yang mereka lihat di dalam diri para pemimpin mereka akan meghasilkan energi, gairah dan motivasi untuk bergerak maju. Untuk menjadi teladan :

  1. Para pengikut selalu melihat apa yang anda lakukan. Anak melihat orang tua, pekerja melihat atasan mereka. Orang mengerjakan apa yang dilihatnya. Saya pernah punya atasan yang gak ada yg ngalahin urusan jam kerja.  Saya datang, dia udah di kantor. Saya pulang, dia masih di kantor. Kemungkinannya, si bos nggak pernah pulang? ato si bos ada masalah di rumah? Kalo ada gempa di kantor jam 8 malem, dialah satu2nya korban. Pastinya, saya jadi malu kalo telat ngantor, atau tenggo (teng n go home).
  2. Lebih mudah mengajar apa yang benar daripada melakukan apa yang benar. Tidak ada yg lebih meyakinkan selain orang yang memberi nasihat baik dan menunjukkan contoh yang baik. Sebagai manusia, tak pernah mudah kita menghafalkan sesuatu secara letter lek, kecuali punya kemampuan photographic, mengingat sesuatu apa adanya. Nah, sadar dengan keterbatasan ini, saya mencoba sholat hifdhzi, 4 rokaat, dg rokaat 1-4 masing2 membaca surat Yaasin (83 ayat), surat Sajadah (30 ayat), surat Dukhon (59 ayat), dan surat Mulk (30 ayat). Di sholat yang ke-7, ke-4 surat itu sudah hafal dalam ingatan. Menceritakan ini kepada orang lain jauh lebih mudah, karena saya sudah mengalami sendiri. Sekarang anak istri saya pun melakukan ini.
  3. Kita harus berusaha mengubah diri sendiri sebelum mencoba meningkatkan orang lain. Bahaya besar mencapai kepemimpinan yang baik adalah godaan untuk mencoba mengubah orang lain sebelum mengubah diri sendiri. Kebetulan tak ada pembantu permanen di rumah. Membereskan tempat tidur adalah pilihan terbaik kalo ingin merasa nyaman di kamar saat akan tidur nanti malam. Dengan melakukan ini, saya menjadi cukup pede untuk meminta anak2 membereskan tempat tidur mereka masing-masing.
  4. Pemberian paling berharga yang dapat diberikan seorang pemimpin adalah menjadi teladan yang baik. Bagaimana seseorang menangkap kepemimpinan? Dengan melihat pemimpin-pemimpin baik yang sedang beraksi. Dalam pertandingan futsal antar Direktorat, saya harus melakukan balancing antara keinginan menang dan memainkan seluruh pemain. Rotasi adalah kunci, dan kontribusi setiap pemain menentukan kalah menang. Pesan saya sederhana, berikan kemampuan terbaik saat masuk medan laga, karena tak lama akan dipanggil untuk rotasi. Itupun berlaku untuk saya sebagai manager sekaligus kapten. Setelah merasa berat berlari di arena futsal berjaring tanpa out ini, maka saya pun berjalan keluar untuk rotasi. Tak peduli berapapun jagonya pemain saya, mereka nurut aja, karena melihat saya menerapkan aturan secara konsisten.

Aksi

Information

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s




%d blogger menyukai ini: