Hidup tanpa kartu kredit

15 09 2010

Sebagai bagian dari pesatnya perkembangan electronic money, maka kartu kredit sudah menjadi bagian dari kehidupan keseharian kelas menengah atas di seluruh dunia. Kemudahan yang ditawarkan, intinya adalah pemenuhan berbagai keinginan maupun kebutuhan secara instan. Cukup dengan gesek kartu, keinginan terpenuhi. Hal bayar-membayar bisa diselesaikan belakangan. Sebagai salah satu motor penghasil keuntungan bank, maka bank penerbit tak henti-henti berinovasi untuk memberikan kemudahan pengguna kartu kredit untuk bertransaksi, baik belanja sembako di supermarket, peralatan rumah tangga, elektronik, fashion, makan di restoran, bengkel dan spareparts, tagihan telepon, internet, listrik, air, hotel dan wisata. Bahkan secara bergurau seorang teman bercanda, kartu kredit-nya bisa dipakai mencicil beli tank baja. Pantas aja, credit limit-nya sudah mendekati 100 juta.

Kartu kredit - lifestyle masa kini

Di balik segala kemudahan yang ditawarkan, penggunakan kartu kredit tak jarang menyisakan berbagai masalah. Penggunaan yang tidak rasional tak jarang membuat banyak pengguna kartu kredit terjebak dalam lingkaran setan sistem riba bunga berbunga, yang tak jarang berujung pada  malapetaka besar dalam kehidupan si pengguna kartu kredit. Sudah dua kali saya melihat kejadian yang menimpa rekan kerja terlilit bunga dan hutang kartu kredit. Saat hutang dan bunga sudah sedemikian besar, sementara pendapatan tetap, maka membayar tagihan minimum pun sudah tak mampu. Tak jarang debt collector dari bank penerbit bertingkah biadab dengan menggunakan cacimaki dan kata-kata kotor ke saluran telepon kantor, mempermalukan si pengguna kartu kredit yang tak berdaya dan pasrah tak tau harus berbuat apa untuk menyelesaikan masalah yang dibuatnya sendiri. Pastinya, hidupnya menjadi merana.

Bayar hutangmu !!!

Tak lama setelah bekerja, kurang lebih 14 tahun yang lalu, selembar kartu kredit sudah mengisi dompet saya. Hampir selalu saya lunasi semua tagihan sebelum jatuh tempo. Karena kesal pada layanannya, saya hentikan kartu kredit saat perpanjangan, hampir 5 tahun yang lalu.  Tanpa menyisakan tagihan sepeserpun. Beberapa tahun yang lalu sempat apply lagi, ternyata ditolak, mungkin bank penerbit kartu kredit saya pertama iseng membuat flag black list / bad debt atas nama saya. Peduli apa ? dengan kartu debit, berbagai kemudahan yang ‘setara’ dengan kartu kredit masih bisa saya nikmati. Memang promo di banyak merchant (toko) hampir semua berlaku untuk pengguna kartu kredit, sebagai bagian dari skema dan model bisnis bank penerbit untuk menarik sebanyak mungkin pengguna kartu kredit dan volume transaksi.

‘Money is my limit’. Dengan tidak memiliki kartu kredit, maka keinginan dan kebutuhan saya tunduk pada kemampuan saya. Bila menginginkan sesuatu yang melebihi ketersediaan dana di rekening, maka saya harus berdisiplin menabung sampai dana yang terkumpul cukup untuk membayar kebutuhan saya secara tunai. Dan saya merasa, hidup saya baik-baik saja tanpa kartu kredit.


Aksi

Information

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s




%d blogger menyukai ini: