Perlunya ketegasan dalam kelembutan (vs Malaysia)

14 09 2010

Tak habis-habis negri jiran yang satu ini berulah. Daftar singkat ulah malaysia yang membuat saya kesal adalah :

  1. ‘Pencaplokan’ pulau Sipadan-Ligitan.
  2. Klaim kepemilikan atau penerbitan paten lokal malaysia atas reog, angklung, tari pendet, batik, rendang, lagu rasa sayange, baju pengantin Riau.
  3. Penjarahan kayu kalimantan dengan menyuap aparat dan mempekerjakan warga Indonesia.
  4. Penistaan atas TKI.
  5. Pelecehan atas turis Indonesia.
  6. Upaya pencaplokan atas pulau Ambalat.
  7. Penangkapan atas aparat Dinas Kelautan dan Perikanan.

Negeri Jiran - Malaysia

Kalo dipikir-pikir, dalam setiap hal yang mengesalkan itu, seperti nasihat para pinisepuh, kalau kita menunjuk hidung orang dengan telunjuk kita, minimal 3 jari kita akan menunjuk hidung kita sendiri.  Gak usah repot-repot mencaci maki malaysia, mereka hanyalah berupaya tetap survive sebagai bangsa, dan dalam upaya tetap survive itu, dengan minimnya kebudayaan dan tanah air yang mereka miliki, maka menjarah kekayaan dan luasnya tanah air tetangga yang lemot adalah suatu pilihan logis.

Saya pikir, akar permasalahan dari seluruh hal yang membuat malaysia ngelunjak adalah bahwasanya sebagai bangsa, kita kehilangan keberanian dan ketegasan menghadapi malaysia. Diplomasi klemak klemek bak bencong narsis berulang kali kita lakukan, dengan berkilah bahwa kita adalah bangsa berbudaya, bangsa terhormat, bangsa yang mengedepankan musyawarah untuk mufakat.  Dalam konteks self-protection, sah saja kita ‘menghabisi’ musuh kita. Belajarlah dari Pangeran Kornel, yang menyalami Jendral Deandels dengan tangan kiri, sementara tangan kanan memegang keris. Ada ketegasan dalam kelembutan ! Ente jual, gue beli !

Ada baiknya kita mencontoh Korea Utara. Kapal perang Korsel pun di-torpedo sampai tenggelam. Korsel pun tak ada nyali mengajak berantem Korut, yang punya senjata nuklir. Show of force, di dalam konteks kedaulatan wilayah, harus dilakukan oleh Tentara Nasional Indonesia. Untuk itu, tentu saja, perangkat perang kita harus memadai dan tidak inferior dibanding peralatan perang tentara diraja malaysia. Adalah tugas pemerintah dan anggota DPR untuk mengambil keputusan politik dalam bentuk APBN yang proporsional dan memadai untuk menegakkan kedaulatan wilayan republik ini.

Dalam hal budaya, adalah kewajiban Dinas Kebudayaan dan Pariwisata untuk memperkenalkan ke seluruh penjuru dunia keanakaragaman budaya kita, dan melakukan ‘counter intelligence’ terhadap upaya-upaya klaim / paten malaysia atas kebudayaan kita. Tentu saja, sebagai bangsa kita pun harus mau dan bangga menampilkan dan menggunakan kebudayaan kita yang adiluhung. Pakailah batik, bukan hanya mencaci malaysia yang mengklaim batik sebagai busana mereka. Makanlah rendang, belajarlah membuatnya, tampilkan reog ponorogo, angklung, tari bali, pentaskan ke seluruh penjuru dunia.

Dalam hal carut marut nasib TKI, adalah kewajiban pemerintah untuk menyediakan lapangan kerja yang memadai untuk sekitar 2 juta TKI di malaysia. Dengan tersedianya lapangan kerja yang memadai, maka tidak perlu lagi kita mengekspor buruh kasar yang hanya satu tingkat di atas perbudakan di abad pertengahan.

Supaya tidak dilecehkan sebagai turis, jangan sekali-kali menjadi turis ke malaysia. Percayalah, malaysia is nothing compare to the beauty of Indonesia. Berkunjunglah ke Danau Toba, Ngarai Sihanouk, Pantai pasir putih Bangka, Dunia Fantasi Jakarta, Mega mall Plaza Indonesia, Candi Borobudur Gunung Bromo, Pantai Sanur, Pura Besakih, Tanah Lot, Lombok, padang rumput nusa tenggara, tak kan habis tempat-tempat terindah di negeri ini untuk dikunjungi.

Bercengkerama di Pantai Slopeng - Madura aja, jangan ke Malaysia !

Kita harus bangga sebagai bangsa Indonesia, dan bertindak nyata untuk kejayaan bangsa kita sendiri ! Berikan reaksi yang proporsional dan produktif terhadap tingkah-polah norak malaysia. Dan jangan lupa, nggak usah beli produk-produk malaysia, apalagi mobilnya ! Oh iya sekalian curhat, saya pernah ngisi bensin di Petronas Dago Bandung karena kepepet bensin mau habis, hasilnya motor saya terpaksa masuk bengkel karena jadi batuk-batuk seperti kingkong kentut. Malaysia emang butut !


Aksi

Information

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s




%d blogger menyukai ini: