Menggapai malam seribu bulan

7 09 2010

27 Ramadhan 1431H.  Pukul 00:21.

Telah lewat tengah malam. Sebagian orang tua membaringkan tubuh mereka di lantai kayu mesjid. Bagaimanapun, jasad kita punya hak untuk beristirahat. Meski berbaring dengan mata terpejam, masih terlihat komat-kamit bibir mereka, memuji Alloh yang maha agung dan meminta ampun. Ustadz dikelilingi 7 anak kecil yang masih bersemangat melancarkan bacaan Al-Qur’an mereka. Sayup terdengar mereka saling bergantian melantunkan ayat suci. Sesekali ustadz memberikan pencerahan atas kesalahan baca yang dilakukan muridnya. Mereka memang tidak mengeraskan lantunan bacaan mereka, menghormati jemaah lain yang berbeda kesibukan, mulai dari berbaring sambil berdzikir, sholat lail, berdoa, menyeduh kopi, mie gelas, bahkan mendengkur karena tak mampu melawan kantuk.

Tak pernah kita tau kapan ajal menjemput. Pastinya, sudah ada yang tidak ikut berburu lailatul qodr tahun ini, karena sudah dipanggil menghadap pada-Nya. Tak pernah kita tau pula kapan terjadi lailatul qodr. Malam berpangkat, yang ibadah di malam itu lebih baik daripada ibadah seribu bulan. Pastinya, lailatul qodr terjadi di 10 malam yang akhir bulan romadhon. Karena itu, mesjid ini menjadi rumah kami untuk jangka waktu 10 malam. Tak kami beri ruang berlari bagi lailatul qodr itu. Malam apapun terjadi, kami pasti merengkuhnya.


Aksi

Information

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s




%d blogger menyukai ini: