Beranilah nak…

7 09 2010

Jagoanku yang masih kelas 6 SD terlihat agak panik saat sahur. ternyata dia mendapat jadual membaca al-Qur’an di mimbar, saat i’tikaf nanti malam. Bunda-nya menasihati agar bersikap tenang, dan berkonsentrasi untuk melantunkan bacaan sebaik mungkin. meskipun sudah rehearsal dengan sang ustadz, jagoanku tak mampu menyembunyikan kegundahan hatinya. “Jangan kuatir nak, tak akan banyak koreksi untuk anak kecil yang masih belajar membaca di mimbar, pastikan saja kau mendengar koreksi dari jemaah dalam masjid, dan itupun hanya terjadi kalau kesalahanmu fatal”, ku coba menghibur dan membuatnya lebih percaya diri.

Selepas isya dan tarawih, kupanggil jagoanku untuk menderes kembali ayat yang harus dibacanya. Kulirik al-Qur’annya, ternyata sudah ditandai di mana saja dia harus berhenti. Salah satu masalah terbesar membaca al-Qur’an adalah mengatur nafas, dimana tidak dibenarkan mencuri nafas sambil melantunkan bacaan. Wah, ternyata ustadz paham betul problem jagoanku yang nafasnya masih pendek, sehingga dimana harus berhenti dan mengambil nafas sudah jelas. Kuminta dia membaca, dalam 10 menit sudah selesai belasan ayat Ali-Imron terbaca. “Well, bukankah waktumu 15 menit?”. Dia bergeming, “Kata ustadz, kalo udah sampai ayat ini berhenti saja”.

Waktu menunjukkan jam 20.45. Jagoanku berjalan dengan langkah khas-nya yang agak membungkuk di dalam mesjid. Norma kesopanan yang diajarkan ustadz bila berjalan di depan orang tua di dalam mesjid. Dengan penuh percaya diri dia uluk salam, dan meminta jemaah membuka al-Qur’an masing-masing. Selanjutnya mengalir seperti air. Hati ini tercekat, ternyata ku sudah tua. Sudah ada penggantiku di dunia fana ini.


Aksi

Information

2 responses

12 03 2012
mintarsih28

begitulah pak riza. ketika kita hidup dalam islam semua potensi kita tergali. Daya simak kita akan bagus kalau terbiasa mendengarkan orang membaca quran. Jadi ingat pas saya masih ngajar anak-anak TPQ. Anak-anak begitu kritis menyimaknya ketika temannya salah baca terutama kalau mencuri nafas. Mereka akan berseru,” hayo..mencuri nafas”

12 03 2012
rizalean

benar sekali Bu…

belajar diwaktu kecil, bagai mengukir di batu. cepat ingat tak pernah lupa.
belajar di masa tua, bagai menulis di atas air. susah ingat cepat lupa.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s




%d blogger menyukai ini: