Indonesia yang sejahtera

24 02 2010

Setelah susah payah mencari dimanakah impian bangsa ini tertulis, akhirnya ketemu juga di Bappenas. Impian bangsa kita yang sah berdasarkan kesepakatan Presiden RI dan DPR itu, ternyata sangatlah normatif. Kita masih terjebak dengan permainan kata-kata kualitatif :  meningkatkan anu, mengembangkan ini, mewujudkan anu, mengurangi itu. Dokumen 85 halaman itu persis materi penataran P-4 pola 100 jam. Parameter yang menjadi target keberhasilan tercecer di sepanjang dokumen, dan angka targetnya? praktis tidak ada. Dengan begitu, gimana caranya ngukur kalo impian kita udah tercapai? YOU CANNOT MANAGE WHAT YOU CANNOT MEASURE, absolutely !. Bermimpi pun kita nggak beres.

Dua institusi ternama, Goldman Sachs dan Price Waterhouse Coopers membantu kita bermimpi. Keduanya memproyeksikan di tahun 2050 Indonesia adalah kekuatan ekonomi terbesar ke6 atau ke-7 di dunia, dinilai dari Produk Domestik Bruto (PDB) / Gross Domestic Product (GDP). Tentunya proyeksi dilakukan dengan melihat kondisi saat ini. Dengan upaya-upaya yang luar biasa, tidak perlu menungu 40 tahun untuk mencapainya. Langkah pertama, bermimpilah dengan benar. Seperti yang dikatakan Covey, “Begin with the end in mind“. Kalau kita tidak tau pasti ke mana tujuan kita, tak akan pernah ada peta yang bisa membantu kita.

GDP Indonesia 2007 -> 2050 (Sumber : Goldman Sachs & Wikipedia)

Konsistensi proyeksi Goldman Sachs dan PWC menunjukan bahwa Indonesia mempunyai potensi luar biasa untuk menjadi kekuatan ekonomi dunia. Tugas bangsa ini adalah mengubah potensi itu menjadi kenyataan. Ada bule yang skeptis dan sinis berujar : “Indonesia is the most beautiful & potential country, and always be“.

Untuk menjadi kekuatan nyata di tingkat global, maka kita perlu ‘bermimpi’ dengan menggunakan parameter yang memang berlaku secara global, lalu selanjutnya mimpi kita itu dituangkan dalam target angka setinggi-tingginya yang masih dalam batas reachable (stress the goal).

Alih-alih menuangkan mimpi kita dalam jargon-jargon ala penataran P4 atau teks yang bertele-tele, normatif dan kualitatif seperti UU No.17 Tahun 2007 tentang Rencana Pembangunan Jangka Panjang Nasional Tahun 2005-2025, sebaiknya kita menuangkan rencana strategis bangsa kita berbasis Global Competitiveness Index yang ditetapkan oleh World Economic Forum. Seperti dinyatakan dalam situsnya, Global Competitiveness Report menilai kemampuan negara untuk memberikan kesejahteraan yang tinggi bagi warganya.

Di tahun 2010 ini, Global Competitiveness Index Indonesia berada di peringkat 44, lebih baik dari sejumlah negara seperti Portugal (46), Italia (48), India (51), Afrika Selatan (54), Brazil (58), Turki (61), Rusia (63), Mexico (66), Mesir (81), Yunani (83), dan Argentina (87). Di tingkat ASEAN, Indonesia lebih baik dibanding peringkat Vietnam (59), Filipina (85), dan Kamboja (109). Namun, Indonesia berada di bawah Singapura (3), Malaysia (26), Brunei (28), dan Thailand (38).

12 Pilar Competitiveness (sumber : World Economic Forum)

Dua belas pilar competitiveness inilah yang seharusnya menjadi fokus perencanaan dan program pembangunan pemerintah. Dalam 12 pilar ini pula seluruh kemampuan sumber daya nasional harus disinergikan. Selanjutnya, Pemerintah perlu menjamin terwujudnya orkestrasi program dalam 12 pilar ini pada tingkat nasional maupun program-program daerah. Dalam perencanaan nasional maupun daerah, harus ditetapkan secara tegas target kuantitatif dari setiap pilar, dalam basis waktu, sehingga kita dapat  menetapkan tenggat waktu akhir perjalanan kita menjadi bangsa yang sejahtera.


Aksi

Information

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s




%d blogger menyukai ini: